Mimbar Jumat

Ramadhan Yang Dinanti

Sesuatu yang wajar jika kita semua bergembira dengan kedatangan Ramadan. Karena Rasulullah telah memberi kabar gembira tentang kedatangannya.

Editor: tarso romli
Handout
Prof. Dr. Hj. Uswatun Hasanah, M.Ag Dirda LPPK Sakinah Kota dan Dosen UIN Raden Fatah Palembang 

Ramadhan mengingatkan tentang makna berbagi. Ramadhan yang dinanti adalah Ramadhan yang mengubah. Bukan mengharapkan tetapi bisa jadi ini Ramadhan terakhir kita. Mungkin ini kesempatan terakhir memperbaiki shalat, melunakkan hati, meminta maaf kepada orang tua, memeluk anak lebih erat, atau menghapus dendam yang sudah lama berkarat. Firman Allah; dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi (QS. Ali ‘Imran, 133).

Ramadhan adalah undangan terbuka menuju ampunan. Maka sambutlah ia bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan kesungguhan. Bukan hanya dengan lampu hias, tetapi dengan hati yang bersih. Bukan hanya dengan menu berbuka, tetapi juga dengan doa yang tulus.

Pada akhirnya Ramadhan pun akan selalu membawa kenangan. Ia seperti lorong waktu yang mengajak untuk kembali ke masa lalu. Ada kebahagiaan sederhana dalam satu teguk air setelah seharian berpuasa. Kaki-kaki kecil bergegas ke masjid berlari-lari bersama teman-teman sebaya untuk melaksanakan shalat fardhu dan tarawih berjamaah.

Saat ini, mungkin suasana rumah sudah berbeda. Kursi di ruang makan tak lagi lengkap. Beberapa shaf di masjid mungkin sudah kosong. Atau justru kita yang kini tengah duduk bersama keluarga baru. Bersama pasangan dan anak-anak.

Kita yang dulu dibangunkan, kini membangunkan. Bocah kecil yang dulu itu kini telah memiliki bocah kecilnya sendiri. Seterusnya pun pergerakan waktu akan membawa diri kita menjadi kenangan untuk orang-orang yang akan ditinggalkan. Jangan biarkan kenangan yang seharusnya indah menjadi sesalan.

Ramadhan juga datang dengan membawa rindu. Rindu pada suasana yang tidak ditemukan di bulan lain. Rindu pada kebersamaan yang terasa lebih hangat. Merindukan masjid yang penuh dengan aktivitas ibadah, shaf-shaf yang rapat, doa-doa yang dipanjatkan dengan khusyuk.

Meja makan menjadi ruang kebersamaan yang utuh. Menunggu adzan Maghrib dengan mata tertuju pada jam dinding yang seolah lebih lambat bergerak. Dan tentunya merindukan diri sendiri yang lebih sabar, lebih mampu menahan diri, lebih berhati-hati dalam berkata dan bertindak, lebih maksimal dalam kualitas dan kuantitas ibadah pada Allah.

Ramadhan sering kali menghadirkan versi terbaik dari diri kita, versi yang kadang sulit dipertahankan pada bulan-bulan lainnya. Karenanya, sebelum Ramadhan benar-benar tiba, sudah sepatutnya memaksimalkan diri dalam menyambutnya.

Ramadhan bukan tamu biasa yang disambut seadanya. Ia adalah bulan agung yang datang membawa rahmat, ampunan, dan kesempatan perubahan. Maka penyambutannya pun tidak cukup hanya dengan ucapan, tetapi dengan tekad dan persiapan yang sungguh-sungguh.

Mulai dari niat, meneguhkan hati bahwa Ramadhan kali ini harus lebih baik dari sebelumnya. Menata target ibadah, memperbaiki jadwal harian, mengurangi hal-hal yang melalaikan. Tekad yang jelas akan menjaga langkah tetap terarah ketika hari-hari puasa mulai berjalan.

Menyambut Ramadhan berarti menyambut kesempatan memperbaiki diri. Ia datang setiap tahun, tetapi belum tentu kita menemuinya kembali. Maka siapa yang mempersiapkan jasmani dan ruhaninya dengan sungguh-sungguh, ia bukan sekadar menyambut Ramadhan, ia sedang bersiap untuk berubah bersama Ramadhan. (*)

Simak tulisan mimbar jumat lainnya di sripoku.com dengan mengklik Google News.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved