Mimbar Jumat

Tradisi Ramadhan Sebagai Sumber Belajar Sosial

Datangnya bulan Ramadhan disambut dengan dengan suasana yang gembira, suka cita, dan meriah

Tayang:
Editor: Odi Aria
Dokumen Pribadi
Abdurrahmansyah Guru Besar Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang. 

Oleh: Abdurrahmansyah
Guru Besar pada Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang

Bagi masyarakat Indonesia, secara kultural momentum Ramadhan tidak hanya memiliki makna spiritual semata, tetapi juga penuh makna kultural sebagai tradisi yang hidup (living tradition) sejak berabad-abad lampau. 

Datangnya bulan Ramadhan disambut dengan dengan suasana yang gembira, suka cita, dan meriah. Artikulasi budaya dibuat sebagai bentuk penyambutan terhadap kehadiran bulan yang penuh berkah ini.

Di beberapa tempat, di kampung-kampung melayu suasana meriah terasa menyolok dengan dihiasnya kampung di malam hari dengan aneka lampu hias. Hampir semua orang membersihkan rumah dan pekarangan agar terlihat bersih dan resik.

Kegembiraan sangat terlihat dari hiruk pikuk orang-orang menyiapkan panganan untuk sahur dan berbuka puasa. Fenomena ini sungguh luar biasa dan hanya terlihat pada saat datangnya bulan Ramadhan.

Artikulasi budaya dalam menyambut Ramadhan banyak melahirkan tradisi sarat makna. Di masyarakat muslim Jawa Tengah ada tradisi Punggahan yang dilaksanakan di bulan Sya’ban bertujuan untuk mendoakan arwah yang sudah meninggal dengan cara mengundang kerabat untuk melakukan prosesi tahlilan dan doa disertai dengan hidangan khusus berupa kue Apem, Pasung, Pisang Raja, dan Ketan.

Tradisi ini diperkenalkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga dan terus lestari sampai kini. Proses dan menu pada tradisi Punggahan sebagai simbol pembersihan diri untuk menyambut kedatangan bulan puasa.

Di Jawa Timur, masyarakat muslim memiliki tradisi Megengan untuk menyambut Ramadhan. Tradisi ini dilaksanakan pada malam pertama bulan Ramadhan berupa doa selamatan bersama yang dilakukan di rumah, masjid, dan majelis pengajian dengan menu khas berupa kue Apem dan Nasi Berkat.

Tradisi bertujuan untuk memohon keselamatan dan pembersihan diri kepada Allah SWT agar menjadi suci ketika memasuki bulan Ramadhan.

Masyarakat muslim di Lampung biasa melakukan tradisi Belangiran yakni mandi menggunakan campuran air khusus yang terdiri atas air abu merang, bunga tujuh rupa, jeruk nipis, dan air dari tujuh sungai.

Tujuan tradisi untuk membersihkan diri secara lahir batin dan mendapatkan berkah dari Allah SWT.

Kaum muslim di Minangkabau memiliki tradisi Balimau berupa mandi di sungai bersama-sama dengan menggunakan air jeruk nipis. Tradisi ini biasa dilaksanakan untuk menyambut bulam suci Ramadhan.

Makna simbolik tradisi bertujuan untuk penyucian diri dan memohon keselamatan dari Allah SWT.

Hampir seluruh daerah yang didiami kaum muslim di nusantara memiliki tradisi masing-masing terkait penyambutan bulan Ramadhan. Tradisi seperti ini memiliki akar sejarah yang kuat dan mengandung makna simbolik yang tinggi.

Pemaknaan tradisi sebagai unsur budaya (culture) dengan berbagai perspektif menjadi sangat penting untuk menjaga agar artikulasi budaya secara terus menerus dapat dipertahankan.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved