Opini

Digitalisasi Perbankan: Efisiensi Operasional atau Ancaman Keamanan Siber?

Bagi industri perbankan, digitalisasi bukan hanya sekedar tren melainkan strategi krusial untuk menekan Cost to Income Ratio (CIR)

Tayang: | Diperbarui:
Editor: pairat
Sripoku.com/handout
Elisya Febriani, Praktisi Perbankan 

Ringkasan Berita:
  1. Digitalisasi perbankan meningkatkan efisiensi operasional dan menekan biaya melalui layanan berbasis teknologi. 
  2. Namun, perkembangan ini juga membuka risiko besar terhadap ancaman keamanan siber seperti peretasan dan kebocoran data.
  3. Oleh karena itu, penguatan sistem keamanan dan kesadaran siber menjadi hal penting untuk menjaga kepercayaan nasabah.

 

Digitalisasi Perbankan: Efisiensi Operasional atau Ancaman Keamanan Siber?

Elisya Febriani, Praktisi Perbankan

SRIPOKU.COM - Transformasi digital saat ini telah mengubah wajah industri serta Perbankan Indonesia secara drastis.

Jika dahulu nasabah harus mengantre ke Kantor Cabang, kini layanan perbankan berpindah hanya dalam satu genggaman. 

Bagi industri perbankan, digitalisasi bukan hanya sekedar tren melainkan strategi krusial untuk menekan Cost to Income Ratio (CIR) dan meningkatkan efisiensi operasional. Namun, di balik kecepatan dan kemudahan tersebut, muncul sebuah tantangan besar yang mengintai: risiko keamanan siber

Secara manajerial, digitalisasi adalah katalisator efisiensi. Dengan mengalihkan transaksi ke platform digital, perbankan dapat mengurangi biaya infrastruktur fisik dan sumber daya manusia secara signifikan. Langkah ini memungkinkan Bank untuk mengalokasikan sumber daya ke sektor yang lebih produktif, seperti ekspansi kredit atau pengembangan produk berbasis data. Di era suku bunga yang fluktuatif, kemampuan Bank untuk beroperasi secara efisien menjadi kunci utama dalam menjaga profitabilitas dan daya saing. 

Sisi Gelap: Ancaman Siber yang Dinamis

Namun, efisiensi operasional ini ibarat pedang bermata dua. Seiring dengan semakin terintegrasinya sistem perbankan dengan jaringan global, "pintu masuk" bagi ancaman siber pun semakin terbuka lebar. Serangan seperti ransomware, phishing, DdoS, malware selular hingga manipulasi data, bukan lagi sekadar risiko operasional, melainkan risiko bisnis sistemik (Setiawan & Rahmadsyah, 2025).

Bagi Bank, kebocoran data atau gangguan sistem bukan hanya berarti kerugian finansial jangka pendek. Dampak yang jauh lebih destruktif adalah risiko reputasi yakni runtuhnya kepercayaan nasabah (public trust), yang merupakan aset paling berharga dalam dunia perbankan.

Mengingat kepercayaan adalah aset yang bersifat irreplaceable, biaya pemulihan kredibilitas institusi akan jauh melampaui nilai investasi yang dialokasikan untuk penguatan sistem keamanan itu sendiri.

KKS: Bukan Sekadar Kewajiban Regulasi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah merespons fenomena ini dengan memperketat regulasi melalui POJK terkait Penyelenggaraan Teknologi Informasi.

Salah satu regulasi pentingnya adalah penguatan aspek Ketahanan dan Keamanan Siber (KKS). Implementasi pembentukan satuan atau unit kerja KKS bukan hanya sebagai upaya pemenuhan kewajiban kepatuhan (compliance) semata.

Lebih dari itu, fungsi KKS harus diposisikan sebagai pilar strategis dalam memitigasi risiko siber demi menjaga keberlangsungan bisnis institusi.

Dalam perspektif manajemen strategis, KKS harus diposisikan sebagai fungsi pertahanan yang independen namun kolaboratif. Fungsi ini idealnya berdiri secara mandiri dari unit operasional TI untuk menghindari benturan kepentingan.

Dengan adanya unit KKS yang kuat, Bank dapat melakukan deteksi dini, respons cepat terhadap insiden, dan pemulihan sistem yang efektif. Keamanan harus menjadi "enabler" bagi inovasi, bukan penghambat laju digitalisasi. 

Membangun Budaya Sadar Siber

Langkah teknis dan kepatuhan regulasi tentu tidak akan mencapai hasil yang optimal tanpa dibarengi dengan transformasi budaya sadar siber (cyber-awareness culture) di seluruh lini organisasi.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved