Opini

Sawah Digital yang Gersang: Gajah di Tengah Ladang Kemarau

Anggaran negara dihitung ulang. Istilah seperti defisit, subsidi, dan penyesuaian harga menjadi wacana yang terdengar rasional, bahkan perlu.

Tayang:
Editor: tarso romli
Sripoku.com/handout/tidak ada
Anwar Sadat 

Oleh: Anwar Sadat

PAGI itu, seorang pengemudi ojek daring berhenti di warung kecil di pinggir jalan. Ia tidak langsung memesan. Ia membuka aplikasi. Menatap angka yang bergerak tanpa suara. Menghitung dalam diam. Harga bensin naik lagi. Harga beras belum turun. Order belum tentu datang.

Ia menutup aplikasi sejenak, lalu membuka lagi, seolah berharap angka itu berubah. Tidak berubah. Jalanan mulai ramai. Waktu berjalan, ia tahu, setiap menit yang terlewat adalah biaya yang tidak terlihat.

Di meja makan rumahnya nanti malam, mungkin akan ada satu lauk yang dikurangi. Atau porsi nasi yang sedikit diperkecil. Tidak ada yang dramatis. Tidak ada yang meledak. Hanya pelan-pelan, hidup menjadi lebih sempit.

Di tempat lain, ribuan kilometer dari sana, grafik harga minyak dunia bergerak naik turun. Konflik di Timur Tengah dibahas dalam bahasa geopolitik: stabilitas kawasan, gangguan pasokan, risiko rantai energi global.

Anggaran negara dihitung ulang. Istilah seperti defisit, subsidi, dan penyesuaian harga menjadi wacana yang terdengar rasional, bahkan perlu.

Namun di jalanan, rasionalitas itu berubah menjadi sesuatu yang sangat konkret: berapa liter bensin hari ini, dan apakah cukup untuk pulang. Inilah wajah paling jujur dari krisis energi global. Ia tidak terasa di ruang konferensi. Ia terasa di dapur.

Di balik layar aplikasi yang tampak rapi dan efisien, ada sebuah sistem yang bekerja tanpa suara. Algoritma menentukan siapa mendapat order. Siapa menunggu. Siapa diprioritaskan. Siapa yang perlahan “menghilang” dari radar permintaan. Semua terlihat objektif. Semua terasa netral.

Namun sebenarnya, sistem ini sedang melakukan sesuatu yang sangat manusiawi—ia memilih siapa yang menanggung risiko. Dan hampir selalu, yang dipilih adalah mereka yang paling kecil.

Gig economy menjanjikan kebebasan: jam kerja fleksibel, otonomi, peluang penghasilan tambahan. Namun di lapangan, ia sering berubah menjadi sesuatu yang lain: sebuah ladang luas yang tampak subur, tetapi tanahnya mulai kehilangan air. Sawah digital.

Para pengemudi menanam waktu, tenaga, dan bensin. Mereka bergerak mengikuti ritme kota, mengikuti notifikasi, mengikuti insentif. Ironisnya hasil panennya tidak selalu mereka tentukan.

Biaya operasional ditanggung sendiri. Risiko kecelakaan ditanggung sendiri. Ketidakpastian pendapatan ditanggung sendiri.

Sementara itu, platform tetap berjalan. Komisi tetap dipotong. Nilai tetap mengalir ke atas. Di sinilah kita melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar model bisnis. Ini adalah arsitektur distribusi risiko. Hari ini arsitektur ini tidak netral.

Kita sering berpikir bahwa teknologi membawa efisiensi. Itu benar. sebaliknya tidak lengkap. Teknologi juga membawa keputusan: siapa yang diuntungkan, dan siapa yang menanggung beban.

Dalam ekosistem gig hari ini, terjadi satu pergeseran diam-diam: risiko yang dulu ditanggung perusahaan, kini dipindahkan ke individu.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved