Mimbar Jumat

Konsistensi Fitrah

Ayat ini menunjukkan bahwa fitrah adalah struktur eksistensial manusia yang bersifat tetap orientasi kepada tauhid dan kebenaran.

Editor: tarso romli
Sripoku.com/handout/tidak ada
GURU BESAR - Prof. Dr. Hj. Uswatun Hasanah, M.Ag - Dirda LPK Sakinah Kota Palembang dan Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang. 


Oleh: Prof. Dr. Hj. Uswatun Hasanah, M.Ag
Dirda LPK Sakinah Kota Palembang
Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang

PERKEMBANGAN teknologi digital, urbanisasi, dan kapitalisme global telah mengubah lanskap kehidupan manusia secara radikal. Namun, berbagai riset mutakhir menunjukkan paradoks: kemajuan material tidak selalu diikuti dengan kesejahteraan psikologis.

Laporan World Happiness Report (2024) dan meta-analisis psikologi klinis menunjukkan peningkatan kecemasan, depresi, dan rasa kesepian, terutama pada generasi muda.

Studi Cacioppo (loneliness research) dan Twenge (iGen) menguatkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi dengan penurunan well-being. 

Dalam perspektif Islam, krisis ini dapat dibaca sebagai keterputusan manusia dari fitrah. Al-Qur’an menegaskan: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (QS. al-Rum: 30).

Ayat ini menunjukkan bahwa fitrah adalah struktur eksistensial manusia yang bersifat tetap orientasi kepada tauhid dan kebenaran.

Ketika manusia menjauh dari orientasi ini, muncul disorientasi hidup. Hadis Rasulullah saw memperkuat konsep tersebut bahwa setiap anak dilahirkan di atas fitrah (HR. al-Bukhari no. 1385; Muslim no. 2658).

Hadis ini diriwayatkan melalui jalur Abu Hurairah dan termasuk hadis muttafaq ‘alaih (disepakati oleh Bukhari-Muslim), sehingga berstatus sahih tanpa keraguan.

Lafal fitrah dalam hadis bersifat umum yang menunjukkan keluasan makna tentang potensi tauhid, kesiapan menerima kebenaran, dan kecenderungan moral.

Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa fitrah adalah kesiapan menerima agama yang benar (isti‘dad li qabūl al-ḥaqq). Imam al-Nawawi menegaskan bahwa fitrah bermakna Islam itu sendiri dalam bentuk potensial.

Hadis lain memberikan dimensi teologis yang lebih dalam: (Allah berfirman) Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (HR. Muslim no. 2865).

Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahihnya dari ‘Iyadh bin Himar. Sanadnya bersambung (muttasil) dengan perawi tsiqah, sehingga berstatus sahih. Kata hunafā menunjukkan makna orientasi lurus kepada tauhid sebelum adanya distorsi sosial.

Era digital mempercepat proses konstruksi identitas secara artifisial. Menurut riset Turkle (MIT), manusia modern mengalami alone together terhubung secara digital namun terisolasi secara emosional.

 Dalam sosiologi, Giddens menyebut kondisi ini sebagai reflexive modernity, di mana identitas menjadi proyek yang terus-menerus dinegosiasikan. Namun tanpa fondasi nilai yang kuat, proses ini menghasilkan kecemasan eksistensial.

Al-Qur’an mengingatkan: dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri (QS. al-Hashr: 19). Ayat ini relevan dengan fenomena modern: kehilangan hubungan dengan Tuhan berujung pada kehilangan jati diri.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved