Mimbar Jumat
Konsistensi Fitrah
Ayat ini menunjukkan bahwa fitrah adalah struktur eksistensial manusia yang bersifat tetap orientasi kepada tauhid dan kebenaran.
Dalam hadis Rasulullah saw juga mengingatkan tentang bahaya pengaruh eksternal. Sabda Rasul: kemudian setan datang kepada mereka dan memalingkan mereka…” (HR. Muslim no. 2865).
Secara kontekstual, setan dapat dimaknai tidak hanya sebagai entitas metafisik, tetapi juga sistem yang menjauhkan manusia dari nilai kebenaran.
Hadis Nabi memberikan metode praktis untuk menjaga dan memulihkan fitrah. Salah satunya dengan informasi bahwa sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati (HR. Bukhari no. 52; Muslim no. 1599).
Hadis sahih diriwayatkan dari al-Nu‘man bin Basyir dijelaskan bahwa hati sebagai pusat kesadaran moral dan spiritual. Dalam psikologi modern, ini sejalan dengan konsep emotional regulation dan inner awareness.
Riset neuroscience menunjukkan bahwa praktik spiritual seperti dzikir dan meditasi dapat meningkatkan aktivitas prefrontal cortex yang berkaitan dengan kontrol diri dan ketenangan.
Hadis juga menegaskan pentingnya konsistensi. Sabda Rasul amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meskipun sedikit (HR. Bukhari no. 6464; Muslim no. 783).
Menjaga stabilitas dan kesinambungan kebaikan jauh lebih baik daripada kuantitas yang bersifat musiman
Krisis global lingkungan, sosial, dan moral menunjukkan kegagalan paradigma materialistik. Fitrah menawarkan pendekatan alternatif berbasis keseimbangan.
Firmaan Allah swt: dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia (QS. al-Qasas: 77).
Dalam kerangka ini, fitrah bukan sekadar konsep teologis, tetapi paradigma peradaban. Integrasi hadis dan ilmu modern membuka ruang: etika teknologi berbasis nilai tauhid, pendidikan karakter berbasis fitrah serta psikologi Islam sebagai alternatif terapi modern. Kembali ke fitrah adalah proses rekonstruksi manusia secara utuh spiritual, moral, dan sosial.
Hadis Rasul saw memberikan fondasi normatif yang kuat, sementara riset modern memberikan validasi empiris.
Di tengah dunia yang terfragmentasi, fitrah menjadi titik pulang: bukan nostalgia masa lalu, tetapi fondasi masa depan yang lebih manusiawi dan berkeadaban Kita hidup di zaman yang serba cepat, tetapi sering kali kehilangan arah.
Kita tahu banyak hal, tetapi tidak selalu mengenal diri sendiri. Kita terhubung dengan banyak orang, tetapi hati terasa kosong.
Di titik inilah, ajakan untuk kembali ke fitrah bukan sekadar wacana agama, melainkan kebutuhan yang mendesak. Kembali ke fitrah tidak menuntut kita menjadi manusia yang sempurna.
Ia hanya meminta satu hal: kejujuran untuk kembali. Kembali mengakui bahwa hati ini pernah jernih. Kembali menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian, tetapi juga tentang makna.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Uswatun-Guru-Besar-UIN-RF-Palembang.jpg)