Mimbar Jumat
Konsistensi Fitrah
Ayat ini menunjukkan bahwa fitrah adalah struktur eksistensial manusia yang bersifat tetap orientasi kepada tauhid dan kebenaran.
Ramadhan sebenarnya menyediakan kerangka 30 hari untuk membangun kebiasaan baru: disiplin waktu, kontrol emosi, dan kepedulian sosial.
Jika selama Ramadhan kita mampu menahan diri dari yang halal, mengapa setelahnya sulit menjauhi yang haram? Jika kita mampu bangun malam untuk ibadah, mengapa setelahnya kehilangan waktu untuk refleksi? Jika kita merasakan empati kepada yang miskin, mengapa setelahnya kembali acuh? Di sinilah makna kembali ke fitrah menjadi konkret: menjaga nilai, bukan hanya pada momentum.
Al-Qur’an mengingatkan dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali (QS. al-Nahl: 92).
Ayat ini menjadi metafora kuat: jangan merusak apa yang sudah dibangun. Pada akhirnya, Ramadhan bukan tujuan, tetapi sarana. Ia melatih manusia untuk kembali ke fitrah, dan kehidupan setelahnya adalah ujian apakah latihan itu benar-benar membekas.
Fitrah tidak membutuhkan momen besar untuk hidup ia hanya membutuhkan konsistensi kecil yang dijaga.
Simak tulisan mimbar jumat lainnya di sripoku.com dengan mengklik Google News. dan klik mimbar jumat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Uswatun-Guru-Besar-UIN-RF-Palembang.jpg)