Mimbar Jumat
Konsistensi Fitrah
Ayat ini menunjukkan bahwa fitrah adalah struktur eksistensial manusia yang bersifat tetap orientasi kepada tauhid dan kebenaran.
Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Bahkan langkah kecil seperti memperbaiki shalat, menahan amarah, berkata jujur, atau menyapa dengan tulus adalah bagian dari perjalanan pulang itu.
Rasulullah SAW bersabda bahwa Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. al-Tirmidzi no. 2499, hasan).
Pesan ini sederhana, tetapi dalam: manusia tidak dituntut tanpa salah, tetapi dituntut untuk tidak terus-menerus menjauh. Maka, jangan tunggu hidup menjadi sempurna untuk kembali.
Jangan tunggu tenang untuk mendekat. Justru dalam kegelisahan itulah jalan pulang dibuka. Fitrah tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya tertutup. Dan setiap kebaikan yang kita lakukan sekecil apa pun adalah upaya menyingkapnya kembali. Jika dunia terasa bising, mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak suara, tetapi lebih banyak keheningan.
Jika hidup terasa berat, mungkin yang kita perlukan bukan pelarian, tetapi arah. Kembali ke fitrah adalah tentang pulang bukan ke masa lalu, tetapi ke diri yang paling jujur di hadapan Tuhan.
Ramadhan bukan sekadar momentum ibadah tahunan, tetapi ruang pembentukan ulang kesadaran manusia. Ia dapat dibaca sebagai laboratorium spiritual di mana fitrah tidak hanya diingat, tetapi dilatih secara sistematis.
Puasa, misalnya, tidak hanya menahan lapar dan dahaga. Al-Qur’an menegaskan tujuannya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183).
Takwa di sini bukan sekadar kesalehan ritual, tetapi kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Dalam perspektif psikologi, ini sejalan dengan konsep selfregulation kemampuan mengendalikan dorongan dan menunda kepuasan.
Riset modern menunjukkan bahwa praktik seperti puasa dan pengendalian diri dapat meningkatkan fungsi eksekutif otak serta memperkuat disiplin mental. Dengan demikian, puasa adalah latihan konkret untuk mengembalikan manusia pada kontrol diri yang merupakan bagian dari fitrah.
Selain puasa, Ramadhan juga menghadirkan intensitas ibadah lain seperti shalat malam, tilawah al-Qur’an, dan sedekah.
Semua ini membentuk pola hidup yang lebih selaras dengan nilai-nilai fitrah kesederhanaan, kepedulian, dan kedekatan dengan Tuhan. Salah satu tantangan terbesar adalah menjaga spirit Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak orang mengalami lonjakan spiritual selama Ramadhan, tetapi kembali pada pola lama setelahnya.
Hadis Rasul saw memberikan peringatan implisit bahwa bagi siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. al-Bukhari no. 38; Muslim no. 760).
Pengampunan ini seharusnya menjadi titik awal, bukan akhir. Ia membuka lembaran baru yang menuntut konsistensi. Dalam kajian perilaku (behavioral science), perubahan yang bertahan lama membutuhkan habit formation.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Uswatun-Guru-Besar-UIN-RF-Palembang.jpg)