Mimbar Jumat

Ramadhan Yang Dinanti

Sesuatu yang wajar jika kita semua bergembira dengan kedatangan Ramadan. Karena Rasulullah telah memberi kabar gembira tentang kedatangannya.

Editor: tarso romli
Handout
Prof. Dr. Hj. Uswatun Hasanah, M.Ag Dirda LPPK Sakinah Kota dan Dosen UIN Raden Fatah Palembang 

SETIAP kali bulan Sya‘ban menua, ada rasa yang berbeda di dada kaum muslimin. Lembut tetapi dalam seperti desir angin setelah turun hujan. Ia bukan sekadar perasaan biasa, melainkan panggilan ruhani.

Seolah ada bisikan merdu perlahan; bersiaplah karena tamu agung akan segera tiba. Masjid-masjid mulai bersolek. Karpet dijemur di bawah matahari pagi, pengeras suara diperiksa, lampu-lampu diganti, jadwal imam tarawih ditempel rapi.

Di rumah-rumah, para ibu mulai menyusun menu sahur dan berbuka. Di grup WhatsApp rencana buka bersama pun mulai dibicarakan. Linimasa media sosial dipenuhi kalimat yang serupa; marhaban ya Ramadhan.

Sesuatu yang wajar jika kita semua bergembira dengan kedatangan Ramadan. Karena Rasulullah telah memberi kabar gembira tentang kedatangannya. Sabda Rasul bahwa telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya, pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu (HR. Ahmad, 7148).

Bayangkan suasana yang begitu damai, seakan langit begitu dekat, rahmat lebih deras dan ampunan lebih mudah digapai. Setan pun sudah tidak lagi berkutik terbelenggu kaku di dalam pasungan. Tidak hanya itu Ramadhan merupakan bulan turunnya cahaya.

Seperti umumnya cahaya yang selalu hadir untuk mengusir segala bentuk kegelapan. Al-Qur’an adalah cahaya kehidupan yang diturunkan pada bulan Ramadhan (QS. Al-Baqarah, 185).

Keistimewaan Ramadhan berikutnya adalah perintah untuk berpuasa. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah, 183).

Keistimewaan puasa karena takwa sebagai tujuan akhirnya. Bukan sekadar lapar yang ditahan sejak fajar hingga senja. Bukan sekadar haus yang reda saat adzan berkumandang. Tidak juga hanya sebatas hitung-hitungan variasi ibadah.

Jiwa bertaqwa memiliki hati yang hidup, takut melukai orang lain, menahan amarah, sadar akan dosa-dosanya meskipun bisa jadi dosanya sudah diampuni Allah. Rasulullah bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. al-Bukhari, 38).

Betapa meruginya jika Ramadhan datang, tetapi hati tetap beku. Rasulullah bersabda: “Celakalah seseorang yang mendapati Ramadhan, lalu Ramadhan itu berlalu sebelum ia diampuni (HR. at-Tirmidzi, 3545).

Betapa menyedihkan jika tubuh berpuasa, tetapi jiwa tidak berubah. Ramadhan seharusnya melembutkan hati yang keras, menghidupkan jiwa yang mati, dan membersihkan naluri yang kotor.

Setiap kali Ramadhan datang, ia sebenarnya membawa pertanyaan; sudahkah kita benar-benar ingin berubah? Sudahkah kita sungguh-sungguh ingin diampuni? Jika rindu itu tulus, maka Ramadhan bukan hanya akan lewat sebagai kalender, tetapi akan tinggal sebagai cahaya di dalam hati.

Untuk mendapatkan berkah Ramadhan beberapa hal berikut perlu untuk diperhatikan. Pertama, adanya keyakinan. Puasa yang bernilai adalah puasa yang lahir dari keyakinan, bukan kebiasaan (HR. al-Bukhariy,1).

Setiap kali melaksanakan sahur adalah kesempatan untuk memperbarui niat. Setiap hari adalah kesempatan memperbaiki kualitas hati.

Kedua; memperbanyak tilawah al-Qur’an. Firman Allah; Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia (QS. Al-Baqarah185). Rasulullah setiap Ramadhan didatangi Malaikat Jibril untuk melaksanakan muraja‘ah al-Qur’an (HR. al-Bukhari, 6).

Ini menunjukkan bahwa tilawah bukan sekadar bacaan, tetapi pertemuan antara ruhani dan wahyu. Untuk itu targetkan bacaan dan tak kalah pentingnya memahami dan meresapi makna selanjutnya mengaplikasikan nilai yang dikandungnya.

Ketiga perbanyak Qiyamul Lail. Sabda Rasul; Barang siapa mendirikan (shalat malam) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. al-Bukhari, 37).

Tarawih bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah latihan berdiri lama di hadapan Allah dalam waktu yang istimewa. Allah berfirman: Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3). Mencari satu malam itu berarti mencari nilai ibadah seumur hidup.

Keempat, memperbanyak doa dan istighfar. Rasulullah mengajarkan doa di malam Lailatul Qadar: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni (HR. al-Tirmidzi, 3513).

Doa adalah inti ibadah. Perbanyak istighfar, salah satunya saat menjelang berbuka, karena doa orang yang berpuasa termasuk doa yang mustajab (HR. at-Tirmidzi, 2526).

Kelima, Iktikaf dan mendekatkan diri kepada Allah. Di sepuluh hari terakhir, Rasulullah beri‘tikaf (HR. al-Bukhari, 2026). Iktikaf adalah simbol memutus sejenak hiruk-pikuk dunia dan fokus pada Allah.

Di tengah dunia yang sibuk, iktikaf, meskipun hanya dilakukan beberapa jam adalah pernyataan bahwa hati ini ingin kembali pulang pada keridhoan dan keampunan Allah.

Keenam, menjaga lisan dan etika, Ramadhan mengajarkan bahwa iman tidak berhenti pada sajadah. Ia harus menjelma menjadi tangan yang memberi dan hati yang peduli. Ia harus tampak dalam cara berbicara, beraktivitas dan memperlakukan sesama. 

Maka selanjutnya yang harus diperhatikan dalam amaliah Ramadhan adalah menjaga lisan dan etika digital. Di era media sosial, menjaga lisan berarti juga menjaga jari dan unggahan. Rasulullah bersabda: “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh pada puasanya (sekedar meninggalkan) dari makan dan minum (HR. al-Bukhari, 1903). 

Puasa bukan hanya fisik, tetapi juga moral. Menghindari ghibah, hoaks, ujaran kebencian, dan debat sia-sia adalah bagian dari kesempurnaan puasa. Ramadhan bisa menjadi momentum puasa digital; lebih selektif membaca, menulis, dan membagikan info.

Ketujuh, memperbaiki hubungan dan saling memaafkan.  Ramadhan bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga horizontal dengan sesama. Rasulullah bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. al-Bukhari, 6077).

Ramadhan adalah waktu terbaik untuk mengakhiri perselisihan, meminta maaf, dan membersihkan hati dari dendam.

Kedelapan, perbanyak sedekah. Puasa membuat seseorang merasakan lapar. Dari rasa lapar itulah empati lahir. Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai (QS. Ali ‘Imran, 92).

Sedekah tidak harus besar, tetapi perlu memperhatikan manfaat dan kondisi barang yang disedekahkan. Tolok ukurnya bila diri sendiri suka menerimanya kemungkinan orang lain juga begitu. Bisa dengan memberi takjil, membantu tetangga, menyantuni yatim dan orang miskin, berbagi nasihat kebaikan melalui platform digital, semua adalah jalan menuju kebajikan yang lebih sempurna.

Meningkkatkan kebaikan di bulan Ramadhan itupun sangat diutamakan. Rasulullah adalah manusia paling dermawan, dan lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan (HR. al-Bukhari,6). Rasul bersabda: “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun (HR. al-Tirmidzi, 807)

Ramadhan mengingatkan tentang makna berbagi. Ramadhan yang dinanti adalah Ramadhan yang mengubah. Bukan mengharapkan tetapi bisa jadi ini Ramadhan terakhir kita. Mungkin ini kesempatan terakhir memperbaiki shalat, melunakkan hati, meminta maaf kepada orang tua, memeluk anak lebih erat, atau menghapus dendam yang sudah lama berkarat. Firman Allah; dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi (QS. Ali ‘Imran, 133).

Ramadhan adalah undangan terbuka menuju ampunan. Maka sambutlah ia bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan kesungguhan. Bukan hanya dengan lampu hias, tetapi dengan hati yang bersih. Bukan hanya dengan menu berbuka, tetapi juga dengan doa yang tulus.

Pada akhirnya Ramadhan pun akan selalu membawa kenangan. Ia seperti lorong waktu yang mengajak untuk kembali ke masa lalu. Ada kebahagiaan sederhana dalam satu teguk air setelah seharian berpuasa. Kaki-kaki kecil bergegas ke masjid berlari-lari bersama teman-teman sebaya untuk melaksanakan shalat fardhu dan tarawih berjamaah.

Saat ini, mungkin suasana rumah sudah berbeda. Kursi di ruang makan tak lagi lengkap. Beberapa shaf di masjid mungkin sudah kosong. Atau justru kita yang kini tengah duduk bersama keluarga baru. Bersama pasangan dan anak-anak.

Kita yang dulu dibangunkan, kini membangunkan. Bocah kecil yang dulu itu kini telah memiliki bocah kecilnya sendiri. Seterusnya pun pergerakan waktu akan membawa diri kita menjadi kenangan untuk orang-orang yang akan ditinggalkan. Jangan biarkan kenangan yang seharusnya indah menjadi sesalan.

Ramadhan juga datang dengan membawa rindu. Rindu pada suasana yang tidak ditemukan di bulan lain. Rindu pada kebersamaan yang terasa lebih hangat. Merindukan masjid yang penuh dengan aktivitas ibadah, shaf-shaf yang rapat, doa-doa yang dipanjatkan dengan khusyuk.

Meja makan menjadi ruang kebersamaan yang utuh. Menunggu adzan Maghrib dengan mata tertuju pada jam dinding yang seolah lebih lambat bergerak. Dan tentunya merindukan diri sendiri yang lebih sabar, lebih mampu menahan diri, lebih berhati-hati dalam berkata dan bertindak, lebih maksimal dalam kualitas dan kuantitas ibadah pada Allah.

Ramadhan sering kali menghadirkan versi terbaik dari diri kita, versi yang kadang sulit dipertahankan pada bulan-bulan lainnya. Karenanya, sebelum Ramadhan benar-benar tiba, sudah sepatutnya memaksimalkan diri dalam menyambutnya.

Ramadhan bukan tamu biasa yang disambut seadanya. Ia adalah bulan agung yang datang membawa rahmat, ampunan, dan kesempatan perubahan. Maka penyambutannya pun tidak cukup hanya dengan ucapan, tetapi dengan tekad dan persiapan yang sungguh-sungguh.

Mulai dari niat, meneguhkan hati bahwa Ramadhan kali ini harus lebih baik dari sebelumnya. Menata target ibadah, memperbaiki jadwal harian, mengurangi hal-hal yang melalaikan. Tekad yang jelas akan menjaga langkah tetap terarah ketika hari-hari puasa mulai berjalan.

Menyambut Ramadhan berarti menyambut kesempatan memperbaiki diri. Ia datang setiap tahun, tetapi belum tentu kita menemuinya kembali. Maka siapa yang mempersiapkan jasmani dan ruhaninya dengan sungguh-sungguh, ia bukan sekadar menyambut Ramadhan, ia sedang bersiap untuk berubah bersama Ramadhan. (*)

Simak tulisan mimbar jumat lainnya di sripoku.com dengan mengklik Google News.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved