Mimbar Jumat

Etika Lisan dan Konstruksi Karakter: Perspektif Pendidikan Islam

Pernyataan ini menegaskan bahwa ucapan seseorang tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan refleksi dari kondisi batin yang mendasarinya.

Editor: tarso romli
Handout/tidak ada
Dr Fitri Oviyanti MAg-Dosen Prodi PAI UIN Raden Fatah Palembang 

Dalam hal ini, lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran penting dalam membentuk pola komunikasi individu.

 Jika dalam lingkungan tersebut praktik komunikasi negatif menjadi hal yang biasa, maka individu akan cenderung menginternalisasi perilaku tersebut sebagai sesuatu yang wajar.

Sebaliknya, jika lingkungan dibangun dengan budaya komunikasi yang sehat, maka individu akan terbiasa dengan pola interaksi yang konstruktif. Dalam konteks ini, pembinaan etika lisan tidak dapat dilepaskan dari upaya membangun kultur sosial yang mendukung.

Pendidik Sebagai Agen Moral dalam Komunikasi
Dalam konteks Pendidikan Agama Islam, pendidik memiliki peran strategis sebagai agen moral. Guru adalah pewaris nabi, pewaris nilai, dan agen moral. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Melalui perspektif social learning theory, perilaku individu banyak dipengaruhi oleh proses observasi dan imitasi. Peserta didik cenderung meniru perilaku yang mereka lihat, terutama dari figur yang mereka anggap sebagai panutan.

Oleh karena itu, cara pendidik berkomunikasi memiliki dampak yang signifikan terhadap pembentukan karakter peserta didik. Lisan guru bukan hanya alat penyampaian ilmu, tetapi juga sarana pembelajaran nilai yang efektif kepada peserta didik.

Tabayyun dan Husnudzon: Prinsip Etika Komunikasi Islam
Islam menawarkan prinsip-prinsip etika komunikasi yang sangat relevan dalam kehidupan sosial, yaitu tabayyun dan husnuzan. Tabayyun mengajarkan pentingnya verifikasi informasi sebelum mengambil keputusan atau menyebarkannya.

Sementara itu, husnuzan mendorong individu untuk memiliki prasangka baik terhadap orang lain. Dalam Al-Qur'an (QS. Al-Hujurat: 6), tabayyun diposisikan sebagai langkah preventif untuk menghindari kesalahan dalam menerima informasi. Prinsip ini sangat relevan dalam menghadapi arus informasi yang sangat cepat di era digital.

Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Lisan tidak lagi terbatas pada komunikasi verbal, tetapi juga hadir dalam bentuk tulisan di media digital. Setiap individu kini memiliki kemampuan untuk menyebarkan informasi secara luas dalam waktu yang sangat singkat.

Dalam konteks ini, etika lisan mengalami perluasan makna menjadi etika komunikasi digital. Tanpa kesadaran dan pengendalian diri, media digital dapat menjadi sarana penyebaran konflik yang masif. Wallahu a’lam Bisshowab. (*)

Simak mimbar jumat lainnya di sripoku.com dengan mengklik Google News. lalu ketik mimbar jumat

Baca juga: Tak Layak Pakai, 312 Unit Motor Dinas Pemkab OKI Segera Dilelang

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved