Mimbar Jumat
Etika Lisan dan Konstruksi Karakter: Perspektif Pendidikan Islam
Pernyataan ini menegaskan bahwa ucapan seseorang tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan refleksi dari kondisi batin yang mendasarinya.
Dalam konteks ini, menjaga lisan merupakan bentuk praktik reflektif yang terus-menerus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dinamika Lisan dalam Relasi Sosial
Lisan memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk dan memelihara relasi sosial. Melalui komunikasi, individu membangun kepercayaan, memperkuat hubungan, dan menciptakan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebaliknya, penggunaan lisan yang tidak bijak dapat menjadi sumber konflik dan perpecahan.
Dalam kehidupan sosial, praktik komunikasi yang tidak sehat seringkali muncul dalam bentuk ghibah, fitnah, dan adu domba. Aktivitas ini tidak hanya berdampak pada individu yang menjadi objek pembicaraan, tetapi juga merusak struktur sosial secara lebih luas.
Kepercayaan yang telah dibangun dapat runtuh dalam waktu singkat akibat informasi yang tidak benar atau disampaikan tanpa pertimbangan.
Dalam Al-Qur'an, ghibah diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal (QS. Al-Hujurat: 12).
Perumpamaan ini menunjukkan betapa seriusnya dampak negatif dari praktik tersebut. Ia tidak hanya melukai individu, tetapi juga merusak nilai-nilai kemanusiaan yang mendasari kehidupan sosial.
Dari perspektif sosiologis, fenomena ini dapat dipahami sebagai bentuk deviasi komunikasi yang berpotensi merusak kohesi sosial. Ketika praktik komunikasi negatif menjadi bagian dari kebiasaan, maka konflik sosial menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
Kegagalan Internalisasi Nilai dalam Pendidikan
Salah satu persoalan mendasar dalam pembinaan karakter adalah kegagalan dalam proses internalisasi nilai. Nilai-nilai tentang pentingnya menjaga lisan telah banyak diajarkan dalam berbagai institusi pendidikan, baik formal maupun nonformal. Namun demikian, dalam praktiknya, nilai-nilai tersebut seringkali tidak terwujud dalam perilaku nyata.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan (knowing) dan tindakan (acting). Individu mengetahui bahwa ghibah dan fitnah adalah perbuatan yang dilarang, tetapi tetap melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini menunjukkan bahwa proses pendidikan belum mampu menyentuh dimensi afektif secara optimal.
Dalam kajian pendidikan, internalisasi nilai merupakan proses yang kompleks dan memerlukan pendekatan yang komprehensif. Tidak cukup hanya dengan memberikan pengetahuan, tetapi juga diperlukan pembiasaan (habituation), keteladanan (modeling), serta penguatan lingkungan yang kondusif.
Peran Hidden Curriculum dalam Pembentukan Etika Lisan
Dalam perspektif pendidikan modern, konsep hidden curriculum menjadi sangat relevan dalam memahami pembentukan karakter. Hidden curriculum merujuk pada nilai-nilai yang dipelajari secara tidak langsung melalui interaksi sosial dan budaya yang berkembang dalam suatu lingkungan.
Glatthorn dalam buku Paradigma Pendidikan Demokratis karya Dede Rosyada mengungkapkan definisi hidden curriculum yaitu kurikulum yang tidak menjadi bagian untuk dipelajari, yang secara lebih definitif digambarkan sebagai berbagai aspek dari sekolah di luar kurikulum, tetapi mampu memberikan pengaruh dalam perubahan nilai, persepsi, dan perilaku siswa.
Apa yang dilihat, ditiru, disimpan, dan diulang-ulang oleh para pelajar saat mereka berinteraksi sosial bisa menjadi bagian dari hidden curriculum tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Fitri-Oviyanti-1.jpg)