Mimbar Jumat
Etika Lisan dan Konstruksi Karakter: Perspektif Pendidikan Islam
Pernyataan ini menegaskan bahwa ucapan seseorang tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan refleksi dari kondisi batin yang mendasarinya.
Oleh: Dr. Hj. Fitri Oviyanti, M.Ag
Dosen Pendidikan Agama Islam UIN Raden Fatah Palembang)
PENDAHULUAN
Dalam beberapa dekade terakhir, wacana tentang krisis moral dan degradasi karakter menjadi diskursus yang semakin menguat dalam berbagai ruang publik. Berbagai fenomena sosial seperti meningkatnya konflik interpersonal, melemahnya kohesi sosial, serta maraknya disinformasi menunjukkan adanya problem mendasar dalam cara individu berinteraksi satu sama lain.
Menariknya, sebagian besar perhatian publik masih berfokus pada persoalan-persoalan besar yang bersifat struktural dan kasatmata, seperti korupsi, kekerasan, dan penyimpangan sosial lainnya. Sementara itu, dimensi yang lebih kecil, namun memiliki daya rusak yang signifikan, yakni praktik komunikasi sehari-hari, seringkali terabaikan.
Dalam konteks ini, penggunaan lisan menjadi salah satu aspek penting yang perlu mendapatkan perhatian serius. Lisan bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga medium pembentukan realitas sosial.
Melalui lisan, individu tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun persepsi, membentuk opini, bahkan mempengaruhi relasi sosial. Oleh karena itu, kualitas penggunaan lisan memiliki implikasi yang luas, baik dalam ranah personal maupun sosial.
Dalam perspektif pendidikan Islam, lisan memiliki posisi yang sangat strategis. Ia tidak hanya dipandang sebagai instrumen komunikasi, tetapi juga sebagai representasi dari kondisi batin manusia. Apa yang diucapkan seseorang mencerminkan apa yang ada dalam hatinya.
Dengan demikian, pembinaan etika lisan tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun karakter individu secara menyeluruh. Namun demikian, realitas sosial menunjukkan adanya paradoks. Di satu sisi, ajaran Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang pentingnya menjaga lisan.
Di sisi lain, praktik komunikasi dalam kehidupan sehari-hari justru seringkali bertentangan dengan nilai-nilai tersebut. Aktivitas seperti ghibah, fitnah, dan adu domba tidak hanya terjadi, tetapi dalam banyak kasus justru mengalami normalisasi dalam interaksi sosial.
Tulisan ini berupaya mengkaji etika lisan sebagai bagian integral dari konstruksi karakter dalam perspektif pendidikan Islam. Pembahasan akan difokuskan pada dimensi filosofis, pedagogis, serta relevansinya dalam konteks masyarakat kontemporer, termasuk di era digital.
Lisan Sebagai Representasi Moral dan Spiritual
Dalam tradisi pemikiran Islam klasik, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Ghazali, lisan diposisikan sebagai “penerjemah hati” (lisān al-qalb). Pernyataan ini menegaskan bahwa ucapan seseorang tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan refleksi dari kondisi batin yang mendasarinya. Dengan kata lain, kualitas lisan seseorang sangat ditentukan oleh kualitas hati yang dimilikinya.
Pandangan ini memiliki implikasi yang sangat penting dalam konteks pendidikan. Jika lisan merupakan cerminan hati, maka upaya menjaga lisan tidak cukup dilakukan pada level perilaku semata, tetapi harus menyentuh aspek internal, yaitu pembinaan hati dan kesadaran spiritual.
Dalam hal ini, pendidikan Islam menekankan pentingnya integrasi antara dimensi lahiriah dan batiniah dalam pembentukan karakter.
Dalam Al-Qur'an ditegaskan bahwa setiap ucapan manusia senantiasa berada dalam pengawasan dan pencatatan (QS. Qaf: 18). Ayat ini tidak hanya mengandung dimensi teologis, tetapi juga memiliki implikasi pedagogis yang mendalam.
Kesadaran bahwa setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah mendorong individu untuk lebih berhati-hati dalam berbicara.
Lebih jauh, konsep ini dapat dikaitkan dengan teori kesadaran reflektif dalam pendidikan modern yang didalamnya individu dituntut untuk memiliki kemampuan mengevaluasi tindakan dan keputusan yang diambilnya.
Dalam konteks ini, menjaga lisan merupakan bentuk praktik reflektif yang terus-menerus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dinamika Lisan dalam Relasi Sosial
Lisan memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk dan memelihara relasi sosial. Melalui komunikasi, individu membangun kepercayaan, memperkuat hubungan, dan menciptakan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebaliknya, penggunaan lisan yang tidak bijak dapat menjadi sumber konflik dan perpecahan.
Dalam kehidupan sosial, praktik komunikasi yang tidak sehat seringkali muncul dalam bentuk ghibah, fitnah, dan adu domba. Aktivitas ini tidak hanya berdampak pada individu yang menjadi objek pembicaraan, tetapi juga merusak struktur sosial secara lebih luas.
Kepercayaan yang telah dibangun dapat runtuh dalam waktu singkat akibat informasi yang tidak benar atau disampaikan tanpa pertimbangan.
Dalam Al-Qur'an, ghibah diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal (QS. Al-Hujurat: 12).
Perumpamaan ini menunjukkan betapa seriusnya dampak negatif dari praktik tersebut. Ia tidak hanya melukai individu, tetapi juga merusak nilai-nilai kemanusiaan yang mendasari kehidupan sosial.
Dari perspektif sosiologis, fenomena ini dapat dipahami sebagai bentuk deviasi komunikasi yang berpotensi merusak kohesi sosial. Ketika praktik komunikasi negatif menjadi bagian dari kebiasaan, maka konflik sosial menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
Kegagalan Internalisasi Nilai dalam Pendidikan
Salah satu persoalan mendasar dalam pembinaan karakter adalah kegagalan dalam proses internalisasi nilai. Nilai-nilai tentang pentingnya menjaga lisan telah banyak diajarkan dalam berbagai institusi pendidikan, baik formal maupun nonformal. Namun demikian, dalam praktiknya, nilai-nilai tersebut seringkali tidak terwujud dalam perilaku nyata.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan (knowing) dan tindakan (acting). Individu mengetahui bahwa ghibah dan fitnah adalah perbuatan yang dilarang, tetapi tetap melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini menunjukkan bahwa proses pendidikan belum mampu menyentuh dimensi afektif secara optimal.
Dalam kajian pendidikan, internalisasi nilai merupakan proses yang kompleks dan memerlukan pendekatan yang komprehensif. Tidak cukup hanya dengan memberikan pengetahuan, tetapi juga diperlukan pembiasaan (habituation), keteladanan (modeling), serta penguatan lingkungan yang kondusif.
Peran Hidden Curriculum dalam Pembentukan Etika Lisan
Dalam perspektif pendidikan modern, konsep hidden curriculum menjadi sangat relevan dalam memahami pembentukan karakter. Hidden curriculum merujuk pada nilai-nilai yang dipelajari secara tidak langsung melalui interaksi sosial dan budaya yang berkembang dalam suatu lingkungan.
Glatthorn dalam buku Paradigma Pendidikan Demokratis karya Dede Rosyada mengungkapkan definisi hidden curriculum yaitu kurikulum yang tidak menjadi bagian untuk dipelajari, yang secara lebih definitif digambarkan sebagai berbagai aspek dari sekolah di luar kurikulum, tetapi mampu memberikan pengaruh dalam perubahan nilai, persepsi, dan perilaku siswa.
Apa yang dilihat, ditiru, disimpan, dan diulang-ulang oleh para pelajar saat mereka berinteraksi sosial bisa menjadi bagian dari hidden curriculum tersebut.
Dalam hal ini, lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran penting dalam membentuk pola komunikasi individu.
Jika dalam lingkungan tersebut praktik komunikasi negatif menjadi hal yang biasa, maka individu akan cenderung menginternalisasi perilaku tersebut sebagai sesuatu yang wajar.
Sebaliknya, jika lingkungan dibangun dengan budaya komunikasi yang sehat, maka individu akan terbiasa dengan pola interaksi yang konstruktif. Dalam konteks ini, pembinaan etika lisan tidak dapat dilepaskan dari upaya membangun kultur sosial yang mendukung.
Pendidik Sebagai Agen Moral dalam Komunikasi
Dalam konteks Pendidikan Agama Islam, pendidik memiliki peran strategis sebagai agen moral. Guru adalah pewaris nabi, pewaris nilai, dan agen moral. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Melalui perspektif social learning theory, perilaku individu banyak dipengaruhi oleh proses observasi dan imitasi. Peserta didik cenderung meniru perilaku yang mereka lihat, terutama dari figur yang mereka anggap sebagai panutan.
Oleh karena itu, cara pendidik berkomunikasi memiliki dampak yang signifikan terhadap pembentukan karakter peserta didik. Lisan guru bukan hanya alat penyampaian ilmu, tetapi juga sarana pembelajaran nilai yang efektif kepada peserta didik.
Tabayyun dan Husnudzon: Prinsip Etika Komunikasi Islam
Islam menawarkan prinsip-prinsip etika komunikasi yang sangat relevan dalam kehidupan sosial, yaitu tabayyun dan husnuzan. Tabayyun mengajarkan pentingnya verifikasi informasi sebelum mengambil keputusan atau menyebarkannya.
Sementara itu, husnuzan mendorong individu untuk memiliki prasangka baik terhadap orang lain. Dalam Al-Qur'an (QS. Al-Hujurat: 6), tabayyun diposisikan sebagai langkah preventif untuk menghindari kesalahan dalam menerima informasi. Prinsip ini sangat relevan dalam menghadapi arus informasi yang sangat cepat di era digital.
Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Lisan tidak lagi terbatas pada komunikasi verbal, tetapi juga hadir dalam bentuk tulisan di media digital. Setiap individu kini memiliki kemampuan untuk menyebarkan informasi secara luas dalam waktu yang sangat singkat.
Dalam konteks ini, etika lisan mengalami perluasan makna menjadi etika komunikasi digital. Tanpa kesadaran dan pengendalian diri, media digital dapat menjadi sarana penyebaran konflik yang masif. Wallahu a’lam Bisshowab. (*)
Simak mimbar jumat lainnya di sripoku.com dengan mengklik Google News. lalu ketik mimbar jumat
Baca juga: Tak Layak Pakai, 312 Unit Motor Dinas Pemkab OKI Segera Dilelang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Fitri-Oviyanti-1.jpg)