Puasa seharusnya menjadi sarana pengendalian diri yang melahirkan kedamaian. Namun, yang sering tampak justru sebaliknya: luapan emosi yang berujung intimidasi. Alih-alih mengasah mental tangguh, praktik ini justru memanjakan mentalitas rapuh yang menuntut dunia bersujud demi kenyamanan ibadah segelintir orang.
Padahal, kekuatan puasa terletak pada keheningannya di tengah keriuhan dunia. Ia adalah benteng di dalam dada, bukan pedang untuk menebas hak sesama di ruang terbuka. Ruang publik harus tetap menjadi milik semua—sebuah ruang inklusif di mana aroma masakan pedagang dan kekhusyukan hamba yang berpuasa dapat berdampingan tanpa saling meniadakan.
Mari kita kembalikan puasa sebagai urusan privat yang mendalam antara hamba dan Sang Pencipta. Biarlah ruang publik menjadi medan laga demokrasi, sementara hati kita menjadi medan laga pengendalian diri yang sesungguhnya. Sebab, iman yang sejati tak akan pernah merasa terancam hanya karena melihat piring-piring yang terisi. (*)