Opini

Opini: Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda

BUDAYA atau kebudayaan merupakan suatu nilai yang berkembang dari satu waktu dan generasi sebagai pendukungnya.

Editor: Odi Aria
Dokumen Pribadi
Albar S Subari, Ketua Peduli Marga Batanghari Sembilan. 

Ditulis Oleh: Albar S Subari, Ketua Peduli Marga Batanghari Sembilan

BUDAYA atau kebudayaan merupakan suatu nilai yang berkembang dari satu waktu dan generasi sebagai pendukungnya.

Ki Hadjar Dewantara tokoh pendidikan dan juga tokoh budaya mengatakan bahwa budaya adalah hasil "budi" dan "daya" manusia dalam menghadapi tantangan hidup dari alam dan zaman.

Di barat yang memiliki empat musim contohnya memiliki budaya berbusana sesuai disaat kondisi alam saat itu (musim dingin, musim panas) memiliki baju yang sangat berbeda satu tebal (wol) dan satu tipis hampir terbuka.

Tantangan zaman budaya juga berkembang menyesuaikan dengan kondisi saat itu. Sehingga budaya itu harus tetap baik sengaja ataupun tidak akan berkembang. Sehingga kurang cocok dikatakan budaya harus dilestarikan. Karena dia bukan alam (bendahara mati) tapi dia bendahara hidup, seperti yang diajarkan oleh Prof. M.M. Djojodiguno SH (Guru Besar Ilmu Hukum Adat Universitas Gajah Mada Yogyakarta) bahwa adat istiadat (budaya) itu bersifat dinamis dan plastis.

Prof. Dr. Koentjaraningrat ahli Antropologi juga mengatakan bahwa kebudayaan itu memiliki 7 unsur yang merupakan hasil cipta, karsa dan rasa manusia. Termasuk adat dan budaya di dalamnya. Sehingga secara teori bahwa budaya itu adalah hasil manusia yang selama nya terus berkembang.

Tinggal lagi bagaimana kita memaknai, itu tergantung dari sudut pandang masing masing. Dalam bahasa agama "tergantung pada niat".

Baru-baru ini pihak Kota Palembang mengadakan event bernama "Ramadhan Run", yang diprakarsai oleh Dinas Komunikasi dan Informatika. Acara dimaksud dilaksanakan pada tanggal 15 Maret 2026 lalu.

Hadir Walikota Palembang saat foto bersama. Namun karena ada sesuatu yang agak lain, menurut komunitas budaya (budayawan), ataupun komunitas-komunitas yang lain seperti forum-forum yang aktif dibidang pariwisata dan budaya daerah, mereka melakukan protes terhadap panitia dan pemerintah Kota Palembang.

Hal itu dikarenakan para peserta dan panitia pelaksana memakai aksesoris wanita yang biasanya dipakai bersama dengan baju kebesaran sebagai lambang budaya.

Aksesoris dimaksud juga sering kita lihat pada acara hiburan "Dulmuluk".

Asesoris yang dimaksud adalah Gandik yang merupakan asesoris untuk perempuan).
Terlepas dari cerita di atas sebenarnya ada hal-hal yang dapat kita ambil positifnya.

Pertama, kita harus sadari bahwa budaya itu selalu berkembang (bukan pelestarian). Kedua, kurangnya sosialisasi nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Ketiga, penggunaan atribut berapa budaya tergantung cara pandang kita.

Yang disesuaikan dengan maksud dan tujuan yang mau dicapai. Seperti tanjak (tutup kepala), untuk laki laki, mulanya sebagai pakaian yang digunakan dalam upaya adat, namun sekarang, penggunaannya sudah berkembang. Bahkan oleh pemerintah daerah propinsi Sumatera Selatan sudah dijadikan lambang khusus Provinsi Sumatera Selatan (sudah dibuat Perda). Bahkan dilambangkan dibangun di atas gapura (pintu gerbang) dan sebagainya diberbagai bangunan.

Walaupun budaya itu berkembang melalui sistem asimilasi, akulturasi budaya maka kita bangsa Indonesia tetap patuh dan taat pada nilai nilai luhur bangsa Indonesia yang terpelihara sejak sejarah lahirnya bangsa dan negara Indonesia.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved