Mimbar Jumat
Pesan Syakban
Kehidupan modern bergerak dalam ritme yang serba cepat dan serba terlihat. Sesuatu dianggap bernilai ketika ia ramai dibicarakan
Merendahkan diri, mengakui kesalahan, dan memohon maaf dengan tulus sebab boleh jadi, jalan menuju ridha Allah terletak pada rida manusia yang tersakiti.
Syakban hadir sebagai bulan muhasabah, saat yang tepat untuk menundukkan ego, melunakkan hati, dan dengan penuh kerendahan jiwa meminta maaf. Sebab bisa jadi, ampunan Allah yang kita harapkan di Ramadan terhalang oleh luka yang belum kita sembuhkan di hati sesama.
Dengan saling memaafkan, semoga langkah kita menuju Ramadan menjadi lebih ringan, hati lebih bersih, dan ibadah lebih diterima.
Pesan ini selaras dengan prinsip Al-Qur’an bahwa keberhasilan spiritual berkaitan erat dengan kebersihan jiwa, sebagaimana ditegaskan bahwa sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya (QS. asy-Syams [91]: 9–10). Syakban menjadi waktu yang tepat untuk menjalani proses penyucian itu secara tenang dan bertahap.
Pada akhirnya, Syakban mengajarkan satu pelajaran besar yang sering terabaikan di era viral, bahwa tidak semua yang bernilai harus terlihat.
Puasa yang tidak dipamerkan, doa yang tidak diumumkan, dan perbaikan diri yang berjalan dalam diam justru membentuk kualitas iman yang paling jujur.
Dari kesunyian Syakban inilah umat Islam diajak memasuki Ramadhan dengan hati yang lebih bersih, niat yang lebih jernih, dan iman yang lebih matang, siap menjalani ibadah bukan untuk manusia, tetapi untuk mendekat kepada Allah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Uswatun-Hasanah-Mimbar-jumat.jpg)