Mimbar Jumat
Pesan Syakban
Kehidupan modern bergerak dalam ritme yang serba cepat dan serba terlihat. Sesuatu dianggap bernilai ketika ia ramai dibicarakan
Kritik ini terasa sangat relevan di lintas zaman. Manusia, baik dahulu maupun sekarang, memiliki kecenderungan yang sama yaitu memusatkan perhatian pada sesuatu yang tampak besar, mencolok, dan ramai diperbincangkan.
Kalender keagamaan pun sering diperlakukan seperti kalender acara ada momen puncak yang dipersiapkan serius, sementara fase-fase sunyi dibiarkan berlalu tanpa refleksi. Padahal, justru pada fase yang tidak ramai itulah kualitas kesungguhan diuji.
Syakban kemudian menjadi simbol dari banyak realitas kehidupan. Ia menyerupai usaha kecil yang tidak mendapat pujian, kebaikan yang tidak masuk sorotan, dan proses panjang yang tidak pernah dirayakan.
Banyak hal bernilai dalam hidup manusia berjalan seperti Syakban, tidak viral, tidak populer, tetapi menentukan.
Keteladanan Rasulullah saw dalam menyikapi Syakban memperlihatkan sikap yang sangat kontras dengan budaya sensasi. Ketika banyak orang melalaikannya, Rasul justru memperbanyak ibadah.
Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah sa tidak pernah berpuasa sunnah dalam satu bulan lebih banyak daripada di bulan Syakban, kecuali di bulan Ramadan (HR. al-Bukhari,1969).
Namun puasa tersebut dijalani tanpa gegap gempita, tanpa panggung sosial, dan tanpa tuntutan pengakuan.
Bukan untuk sekadar tampak berbeda, apalagi untuk menunjukkan eksistensi religius yang lepas dari aturan Tuhan.
Pada titik ini, puasa Syakban tidak lagi dipahami sekadar sebagai ibadah sunnah, tetapi sebagai cermin sikap hidup. Rasulullah saw mengajarkan bahwa amal tidak harus menunggu momen yang ramai untuk dilakukan.
Nilai ibadah tidak diukur dari seberapa viral ia dibicarakan, melainkan dari seberapa jujur dan konsisten ia dijalani. Di sinilah Syakban berbicara langsung kepada manusia modern yang hidup dalam budaya visibilitas.
Pesan ini diperkuat oleh hadis yang menegaskan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit (HR. al-Bukhari, 6464). Hadis ini meneguhkan prinsip dasar spiritualitas Islam. Kesinambungan lebih bernilai daripada ledakan sesaat. Syakban mengajarkan bahwa istiqamah lebih penting daripada sensasi, dan ketekunan lebih bermakna daripada popularitas.
Dari sini, Syakban mendidik umat Islam untuk memiliki adab terhadap waktu, amal, dan proses. Tidak semua yang bernilai hadir dalam kemeriahan, dan tidak semua yang bermakna datang dalam sorotan.
Rasulullah saw justru memilih bulan yang sunyi untuk memperbanyak puasa, seakan menegaskan bahwa kesunyian adalah ruang paling jujur bagi keikhlasan. Dalam kesunyian, amal kembali kepada niatnya yang paling murni.
Analogi sederhana dapat membantu menangkap pesan ini. Seperti dua buah mangga kecil yang bertahan di antara ribuan putik yang gugur, nilai tidak ditentukan oleh jumlah atau ukuran, melainkan oleh kesungguhan untuk bertahan dan memberi yang terbaik.
Dua mangga itu bukan pembangkang terhadap hukum alam, melainkan setia pada proses. Demikian pula amal-amal di bulan Syakban.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Uswatun-Hasanah-Mimbar-jumat.jpg)