Mimbar Jumat

Pesan Syakban  

Kehidupan modern bergerak dalam ritme yang serba cepat dan serba terlihat. Sesuatu dianggap bernilai ketika ia ramai dibicarakan

Editor: Yandi Triansyah
Handout
Prof. Dr. Hj. Uswatun Hasanah, M.Ag Dirda LPPK Sakinah Kota dan Dosen UIN Raden Fatah Palembang 

Oleh :  Prof. Dr. Hj. Uswatun Hasanah, M.Ag

Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang dan DIRDA LPK Sakinah Kota Palembang

SRIPOKU.COM - Kehidupan modern bergerak dalam ritme yang serba cepat dan serba terlihat. Sesuatu dianggap bernilai ketika ia ramai dibicarakan, disebarluaskan, dan memperoleh pengakuan publik. 

Budaya viral membentuk cara manusia menilai makna: yang banyak ditonton dianggap penting, yang sering dibagikan dianggap berharga. 

Tanpa disadari, pola pikir ini turut memengaruhi cara beragama. Ibadah pun perlahan bergeser dari ruang batin menuju ruang tampilan. Kesalehan tidak jarang diukur dari eksposur, bukan dari kedalaman.

Di tengah arus itulah bulan Syakban hadir dengan karakter yang nyaris bertolak belakang. Ia tidak viral.

Ia tidak populer. Ia tidak ramai. Tidak ada hiruk-pikuk khusus yang mengiringinya, tidak ada agenda besar yang menuntut perhatian kolektif.

Terletak di antara Rajab yang dimuliakan dan Ramadan yang diagungkan, Syakban kerap diperlakukan sekadar sebagai bulan peralihan, lintasan waktu yang dilewati tanpa kesadaran penuh.

Namun justru di situlah letak kekuatan maknanya. Syakban mengajarkan bahwa tidak semua yang bernilai harus ramai, dan tidak semua yang penting harus viral.

Ketika sebuah waktu berjalan sunyi, di situlah manusia diuji, apakah ia tetap setia pada amal ketika tidak ada sorotan, atau hanya bersemangat ketika ada perhatian.

Dalam perspektif hadis, Syakban sama sekali bukan bulan tanpa makna. Rasulullah saw memberi perhatian besar pada bulan ini, tetapi perhatian itu tidak diwujudkan dalam bentuk seremoni atau simbol publik.

Ia diwujudkan melalui keteladanan amal yang konsisten, tenang, dan nyaris tak terlihat. Syakban menjadi ruang pendidikan spiritual yang halus, pendidikan untuk menghargai yang sunyi, yang tidak populer, dan yang sering dilalaikan manusia.

Makna tersebut tergambar jelas dalam hadis Usamah bin Zaid r.a. Ia bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kebiasaan puasa Nabi di bulan Syakban. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa Syakban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia karena berada di antara Rajab dan Ramadan.

Padahal, pada bulan inilah amal-amal manusia diangkat kepada Allah, dan Rasul ingin amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa (HR. an-Nasa’i, 2356).

Hadis ini menyimpan kritik mendalam terhadap kecenderungan manusia yang hanya menghargai waktu-waktu tertentu yang dianggap istimewa secara sosial.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved