Mimbar Jumat
Pesan Syakban
Kehidupan modern bergerak dalam ritme yang serba cepat dan serba terlihat. Sesuatu dianggap bernilai ketika ia ramai dibicarakan
Ia mungkin kecil, tidak viral, dan tidak ramai, tetapi justru di sanalah ketulusan diuji dan dimurnikan.
Kesadaran akan nilai proses ini mengantarkan pada pemahaman yang lebih luas: bahwa puncak tidak pernah berdiri sendiri.
Ramadan sebagai bulan puncak ibadah membutuhkan fondasi yang kokoh. Tanpa Syakban, Ramadan berisiko menjadi rutinitas tahunan yang padat aktivitas namun miskin transformasi.
Rasulullah saw. mempersiapkan diri jauh sebelum Ramadan tiba, menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai proses yang panjang, bertahap, dan sering kali berjalan dalam diam.
Proses tersebut jarang mendapat sorotan dan sering dianggap biasa. Namun justru proses itulah yang menentukan kualitas hasil.
Dalam kehidupan keluarga, pendidikan, dan dunia kerja, pesan Syakban menemukan relevansinya.
Banyak orang ingin hasil instan, tetapi enggan menjalani proses panjang yang sunyi. Syakban mengajarkan bahwa kematangan lahir dari kesabaran dalam fase-fase yang tidak pernah viral.
Dimensi evaluatif Syakban semakin kuat ketika Rasulullah saw menegaskan kembali bahwa pada bulan inilah amal-amal manusia diangkat kepada Allah, dan Rasul ingin amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa (HR. an-Nasa’i, 2356).
Pernyataan ini menempatkan Syakban sebagai waktu muhasabah, bukan sekedar selebrasi. Amal yang diangkat bukan amal yang dipamerkan, tetapi amal yang dijalani dengan kesadaran dan kejujuran batin.
Selain penguatan ibadah personal, Syakban juga mengandung dimensi sosial. Dalam hadis tentang malam pertengahan Syakban disebutkan bahwa Allah melimpahkan ampunan kepada seluruh hamba-Nya, kecuali mereka yang masih memelihara permusuhan dan kebencian (HR. Ibn Majah no. 1390).
Sering kali, tanpa kita sadari atau tanpa pernah kita niatkan, lisan dan sikap kita menjadi sebab luka bagi orang lain.
Dalam keadaan lelah, emosi, atau merasa paling benar, kita mungkin pernah meremehkan, mengabaikan, menyakiti, bahkan memberi label yang seandainya dilekatkan pada diri kita sendiri, tentu akan terasa amat menyakitkan.
Luka-luka yang tidak selalu bersuara, tetapi Allah Maha Mengetahui setiap perasaan yang tergores. Dalam kondisi ini ampunan Allah direkatkan kuat dengan maaf manusia. Betapa banyak doa dan sujud yang kita panjatkan, namun bisa jadi belum terangkat karena masih ada hati yang terluka oleh sikap dan ucapan kita.
Maka meminta maaf kepada manusia bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian dari tanggung jawab iman. Sabda Rasul: Siapa saja yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal kehormatan atau sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta maaf darinya sekarang sebelum datang hari di mana tidak ada dinar dan dirham (H.R. al-Bukhariy, 2449).
Karena itu, sebelum mengetuk pintu ampunan Allah di bulan Ramadan, Syakban mengajarkan kita untuk lebih dahulu mengetuk hati sesama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Uswatun-Hasanah-Mimbar-jumat.jpg)