Sejarah kelak akan mencatat siapa yang sungguh-sungguh membangun ekonomi rakyat, dan siapa yang sekadar menunggangi jargon merah putih untuk mempertahankan kuasa.
Akhir dari kisah ini memang belum bisa ditulis. Namun bila negeri ini ingin menutup cerita dengan bahagia, maka kita harus berani memilih menjadi Bawang Putih yang berpihak pada kejujuran, bukan kedekatan; pada amanah, bukan pada arogansi.
Karena sesungguhnya, pembangunan ekonomi rakyat tidak pernah gagal karena kekurangan dana, melainkan karena kelebihan orang yang merasa paling tahu dan paling berhak atas segalanya.
Dan selama mentalitas itu masih menguasai ruang desa, maka apa pun nama programnya, bahkan seindah “Koperasi Merah Putih” hanya akan menjadi bab baru dari dongeng lama yang tak pernah selesai. (*)