Opini

Bawang Merah dan Bawang Putih: Koperasi Merah Putih

Tak sedikit program ekonomi rakyat berhenti di pintu birokrasi desa, bukan karena ide buruk, tetapi tak lolos dari filter kuasa tak tertulis.

Editor: tarso romli
handout
Dr Ahmad Maulana, Dosen Jurusan Managemen Unsri 

 Dalam satir halus masyarakat desa, mereka disebut “orang yang lebih tinggi dari pagar balai desa”.

 Di sinilah, moral hazard tumbuh dan bukan dalam bentuk korupsi terbuka, tetapi lewat rasa kepemilikan yang berlebihan terhadap program. Rasa itu menjelma menjadi kontrol sosial yang membungkam inisiatif.

Dalam sistem yang seharusnya partisipatif, muncul wajah baru feodalisme ekonomi. Dulu, tuan tanah menguasai sawah dan tenaga rakyat.

Kini, raja kecil di tingkat lokal menguasai akses, rekomendasi, dan restu administratif. Mereka yang seharusnya menjadi fasilitator berubah menjadi penyaring kepentingan.

Hubungan yang mestinya kolaboratif berubah menjadi hierarkis. Orang-orang di lapangan yang mencoba membawa inovasi sering kali dihadapkan pada pilihan: tunduk atau tersingkir.

Tak sedikit program ekonomi rakyat berhenti di pintu birokrasi desa, bukan karena ide buruk, tetapi karena tak lolos dari filter kuasa tak tertulis itu.

0Di sinilah pembangunan kehilangan ruhnya, karena mereka yang memegang mandat lupa bahwa kuasa adalah amanah, bukan alat untuk menegaskan dominasi.

Dalam konteks inilah, Koperasi Merah Putih menghadapi rintangan yang tak selalu bisa dijelaskan oleh laporan kinerja: ego personal, rasa memiliki semu, dan ketakutan kehilangan pengaruh.

Sebelum nama besar Koperasi Merah Putih digaungkan, telah ada banyak inisiatif lokal yang tumbuh dengan semangat kemandirian.

 Di berbagai daerah, program-program yang lebih dulu berjuang yang dibangun dengan keringat dan kejujuran telah lama menjadi tulang punggung ekonomi desa.

Namun kini, mereka seperti kehilangan panggung. Dana, perhatian, dan kebijakan mengalir ke program baru yang belum tentu siap beroperasi.

Para penggerak ekonomi desa yang setia menjaga denyut usaha kecil di wilayahnya, kini menatap getir dari pinggir arena.

Perjuangan mereka tak kalah heroik, tapi kalah dalam sorotan. Karena di negeri ini, yang lebih muda sering lebih disanjung, meski belum tentu lebih matang.

Koperasi sejatinya lahir dari filosofi gotong royong. Ia menolak logika kapitalisme murni dan menempatkan solidaritas sebagai fondasi utama.

Namun ketika semangat itu digunakan sebagai kendaraan politik atau alat memperluas pengaruh pribadi, koperasi kehilangan jiwanya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved