Opini
Demokrasi yang Menjauhi Rasionalitas dan Moral
Demokrasi yang seharusnya memanjakan rakyat sebagai pemegang kedaulatan yang utama, ternyata malah menggelisahkan.
Budi Hardiman dalam bukunya “Aku Klik maka Aku Ada” (2021), menunjukkan bahwa “homo digitalis” (mahluk digital) dapat berubah menjadi “homo brutalis” (mahluk brutal), yang suka menyemburkan kebencian.
Apa akibatnya bagi sistem demokrasi? Anne Aplebaum dalam bukunya “Autocracy Inc” (2024), menunjukkan dominasi rezim otokrasi diseluruh dunia di masa ini.
Rezim-rezim ini membangun kerjasama lintas negara dg rezim sejenis. Mereka berusaha menguasai media, membangun benteng keamanan, dan dengan cara tersembunyi membungkam yg berbeda.
Mereka sadar betul, bahwa mereka dapat bertahan atau terjungkal, oleh daya magis media sosial. Karena itu mereka harus merangkul banyak pihak untuk mampu mengendalikannya.
Inilah yang menghasilkan oligarki-oligarki global yang berkuasa mengatur semua. Rezim-rezim ini dapat bermain dalam sistem apa pun, termasuk demokrasi.
Dengan demikian, demokrasi yang sekarang ini sudah berbeda signifikan dengan demokrasi ideal yang ada dimasa lalu.
Kecenderungan demokrasi yang makin menuju otoriter dan segala permasalahannya, juga telah banyak dibahas oleh filsuf politik dunia terkenal, Hannah Arendt.
Pemikiran Arendt dituangkan dalam bukunya yang berjudul “The Origins of Totalitarianism”(1951), dan “Lying in Politics” (1972).
Guru besar politik USA, John Mearsheimer, konsultan politik yang dijadikan narasumber tentang geopolitik dalam retret kabinet presiden Prabowo di Hambalang, menyatakan bahwa harapan akan praktik demokrasi liberal di masa ini adalah sebuah “delusi”.
Pandangan ini disampaikannya dalam bukunya yg berjudul “The Great Delusion, Liberal Dreams and International Realities” (2018).
Bahkan di negara USA yang menjadi pencetus dan promotor demokrasi, praktik demokrasi liberal telah berbeda.
Tentang kebebasan berpendapat yang menjadi isu sentral demokrasi liberal misalnya, nyatanya presiden Trump secara sepihak telah mendeportasi banyak mahasiswa asing yg telah memiliki ijin belajar, “hanya karena ikut demo membela Palestina”.
Jadi demokrasi zaman ini memang telah berubah, baik dinegara asalnya, maupun di negara-negara yang mengadopsi demokrasi dengan sedikit perbedaan, seperti Indonesia. Ini yang pertama harus dipahami, ketika ingin memahami situasi politik masa ini.
Lalu bagaimana harus menyikapi hal ini dan bagaimana upaya untuk mengembalikan kemampuan demokrasi dalam menghasilkan kebaikan bersama? Tulisan ini mengajukan dua usulan:
1. Cegah budaya kekerasan.
| Meningkatkan Keakuratan Hasil Sensus Ekonomi 2026 Melalui Ground Check |
|
|---|
| Sleep Training dan Bayi yang tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan |
|
|---|
| Serba Serbi Kitab Undang Undang Hukum Pidana Baru |
|
|---|
| Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan, Alarm Darurat Degradasi Moralitas Generasi |
|
|---|
| Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Dr-Hendro-Setiawan.jpg)