Opini
Demokrasi yang Menjauhi Rasionalitas dan Moral
Demokrasi yang seharusnya memanjakan rakyat sebagai pemegang kedaulatan yang utama, ternyata malah menggelisahkan.
Oleh: Dr. Hendro Setiawan
(Dosen Filsafat Pascasarjana STT Sriwijaya)
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Dalam beberapa hari terakhir, kita mengalami proses demokrasi yang menggelisahkan.
Demokrasi yang seharusnya memanjakan rakyat sebagai pemegang kedaulatan yang utama, ternyata malah menggelisahkan, bahkan dapat menjadikan rakyat sebagai korban dalam prosesnya.
Proses unjuk rasa untuk menyampaikan aspirasi, yg memang menjadi bagian penting dan rutin demokrasi, tiba-tiba berubah menjadi tragedi.
Ada warga masyarakat yg terlindas kendaraan taktis, ada yg tewas dalam proses demo yang membakar gedung DPRD, ada polisi yang terkapar dipukuli masa, dll.
Bisnis terhenti, sekolah terpaksa dilaksanakan online, kegiatan-kegiatan penting ditunda, dll. Ekonomi dan semua aspek kehidupan masyarakat luas, terganggu.
Bukan hanya fenomena degradasi moral yg ditunjukkan lewat kejadian itu, tapi juga matinya rasionalitas.
Demo yang tadinya menuntut banyak hal seperti: pengesahan UU perampasan aset bagi koruptor, penghapusan sistem outsourching buruh, dan lain-lain tiba-tiba berubah menjadi ajang pelampiasan kebencian pada aparat kepolisian dan beberapa anggota DPR yang arogan.
Rumah beberapa anggota DPR itu diserbu, dijarah, barang-barang pribadi diumbar, dll.
Ajaran moral mana yang mengizinkan ini? Hukum mana yang dipakai? Asas demokrasi mana yang membenarkan ini? Rasionalitas mana yang membenarkan tindakan itu? Apakah negara ini rusak hanya gara-gara segelintir orang itu? Nurani mana yg berbicara? Langkah penanganan para anggota DPR ini pun kemudian menggunakan idiom “non aktif” yang asing dalmm sistem demokrasi.
Apa yg terjadi dengan demokrasi kita? Untuk memahami ini, kita perlu menilik balik sejarah dan perkembangan demokrasi sendiri. Kehidupan bersama manusia memang dari dulu membutuhkan adanya suatu lembaga politik yang mengatur.
Ini terutama karena kecenderungan2 buruk dan keragaman pendapat manusia itu sendiri, yang butuh dipimpin.
Sistem politik kemudian berkembang bersama sejarah kehidupan manusia. Dari sistem monarki (kekuasaan oleh raja), berkembang menjadi sistem2 lain seperti: demokrasi, komunisme, fasisme, dll.
Runtuhnya tembok Berlin tahun 1989 dan bubarnya Uni Soviet di tahun 1991, seakan telah menobatkan demokrasi sebagai sistem politik terbaik dunia pada masa itu.
| Meningkatkan Keakuratan Hasil Sensus Ekonomi 2026 Melalui Ground Check |
|
|---|
| Sleep Training dan Bayi yang tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan |
|
|---|
| Serba Serbi Kitab Undang Undang Hukum Pidana Baru |
|
|---|
| Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan, Alarm Darurat Degradasi Moralitas Generasi |
|
|---|
| Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Dr-Hendro-Setiawan.jpg)