Opini
Demokrasi yang Menjauhi Rasionalitas dan Moral
Demokrasi yang seharusnya memanjakan rakyat sebagai pemegang kedaulatan yang utama, ternyata malah menggelisahkan.
Filsuf politik Amerika, Francis Fukuyama, dalam bukunya “The End of HistoryAnd The Last Man”(1992), menyatakan bahwa tdk akan ada lagi sistem yg lebih baik dari demokrasi dalam sejarah manusia.
Tapi ternyata akhir-akhir ini sistem demokrasi justru nampak kehilangan kedigdayaannya. Penyebabnya adalah kebangkitan teknologi digital!
Adanya media sosial dg segala kecanggihannya, ternyata membuat opini masyarakat menjadi mudah dimanipulasi oleh politik.
Demokrasi yg mengandalkan kejernihan pemikiran rakyat dlm memilih dan mengendalikan kukuasaan penguasa, menjadi terdegradasi.
Francis Fukuyama sendiri akhirnya merevisi pemikiran terdahulunya. Dalam bukunya “Identity: The Demand for Dignity and The Politics of Resentment” (2018), Francis menyatakan bahwa “kebutuhan akan identitas” masyarakat modern telah mendorong terjadinya politik identitas, yang mereduksi kemampuan demokrasi dalam menghasilkan “kebaikan bersama”.
Kebutuhan akan identitas inilah yg kemudian menjadi bahan untuk dieksploitasi dan dimanipulasi lewat sarana media sosial, oleh elit yang berkepentingan.
Penguasaan media menjadi sarana paling ampuh dalam politik masa ini. Skandal “Cambridge Analityca” yang terungkap tahun 2017, telah membuktikan peran besar jaringan facebook dalam mempengaruhi pemilu di banyak negara, termasuk USA.
Dewasa ini, penggunaan media untuk kepentingan politik telah menjadi makin masif lagi.
Para politikus memanfaatkan luas jaringan media, merekrut para buzzer dan influencer terbaik, menggunakan teknologi artificial intelligence, dll, untuk mencapai tujuannya. Yang menguasai media, punya kesempatan lebih luas untuk memenangkan kompetisi politik.
Apa dampaknya bagi masyarakat? Guru besar politik USA, Tom Nichols, dalam bukunya “The Death of Expertise” (2014), menyatakan bahwa penggunaan luas teknologi digital telah membangkitkan kuat sikap “sok tahu dan mudah marah” masyarakat.
Politik saat ini sejatinya telah semakin kompleks dan rumit. Ada pembahasan yang “diruang luar” untuk diketahui publik, namun ada yang tersembunyi “di ruang dalam”.
Sikap sok tahu orang-orang tidak kompeten, yang hanya berdasar informasi media sosial, tentu tidak memadai.
Sebaliknya, kebenaran palsu jadi mudah dimanipulasikan oleh dan demi kepentingan elit yang menguasai media.
Sejarawan Yuval Noah Harari dalam bukunya “Nexus” (2024), menunjukkan bahwa banyaknya informasi media sosial masa ini, justru menjauhkan manusia dari kebijaksanaan.
Manusia terdorong untuk memilih hanya berdasarkan keinginan egonya semata.
| Meningkatkan Keakuratan Hasil Sensus Ekonomi 2026 Melalui Ground Check |
|
|---|
| Sleep Training dan Bayi yang tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan |
|
|---|
| Serba Serbi Kitab Undang Undang Hukum Pidana Baru |
|
|---|
| Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan, Alarm Darurat Degradasi Moralitas Generasi |
|
|---|
| Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Dr-Hendro-Setiawan.jpg)