Opini
Pro Kontra Penulisan Ulang Sejarah Indonesia
PENULISAN ulang sejarah Indonesia ditargetkan selesai dan diluncurkan saat perayaan 80 tahun kemerdekaan Indonesia, pada 17 Agustus 2025.
Fadli Zon menyebutkan, pada periode tersebut manusia telah meninggalkan jejak peradaban. Misalnya saja, membuat kapak batu, membuat bola-bola batu, membuat busur, dan lain-lain.
“Membuat segala macam, jadi sudah ada budaya, sudah ada sejarah jadi itu perbedaannya,” jelas Fadli Zon.
Dia kemudian membeberkan tim penyusun yang terlibat adalah sebanyak 113 sejarawan. Tim tersebut berasal dari 43 perguruan di seluruh Indonesia yang terdiri dari doktor, professor, dan guru besar.
Menteri Fadli Zon menyebut, proses penulisan sejarah ulang ini telah memasuki 70 persen.
"Saya dapat laporan sekarang ini sudah sekitar 70 persen gitu ya dan nanti kalau sudah waktunya kita tentu akan menyelenggarakan diskusi publik," kata Fadli Zon di IPDN, Jawa Barat, Selasa, 24 Juni 2025.
Dia menegaskan, penulisan sejarah ini tidak spesifik membicarakan periode-periode tertentu namun membahas secara keseluruhan.
Setelah selesai ia berjanji buku 10 jilid sejarah ulang ini, Kementerian Kebudayaan akan menyelenggarakan diskusi publik.
Pernah Dikritisi
Dikutip dari berbagai sumber, memang kehati-hatian dalam penulisan sejarah kali ini, harus diingatkan, karena bukankah kita pernah melupakan memasukkan tokoh sejarah dalam sebuah penulisan?
Buku kritik tentang Nahdlatul Ulama (NU) yang tidak menyoroti KH. Hasyim Asy'ari, pendiri NU, mungkin akan dianggap kurang lengkap atau bahkan tidak representatif. KH. Hasyim Asy'ari memiliki peran sentral dalam pembentukan dan perkembangan NU, sehingga kritikan terhadap NU tanpa membahas perannya akan terasa kurang mendalam.
Berikut beberapa poin yang perlu dipertimbangkan terkait kritik NU tanpa membahas KH. Hasyim Asy'ari:
Peran Sentral KH. Hasyim Asy'ari:
KH. Hasyim Asy'ari adalah tokoh sentral dalam pendirian dan pengembangan NU. Pemikirannya, peran kepemimpinannya, dan pengaruhnya terhadap ajaran-ajaran NU sangat signifikan.
Kritik yang Tidak Lengkap:
Kritikan terhadap NU yang tidak menyertakan KH. Hasyim Asy'ari akan terasa kurang komprehensif karena tidak membahas akar historis dan pemikiran utama yang mendasari organisasi tersebut.
Kekhawatiran Akan Hilangnya Substansi.
Jika tokoh sentral seperti KH. Hasyim Asy'ari diabaikan dalam kritik, bisa jadi substansi ajaran dan nilai-nilai NU yang ingin dipertahankan menjadi kabur atau bahkan hilang dari perhatian.
Memahami NU Secara Utuh:
Untuk memahami NU secara utuh, penting untuk melihat bagaimana KH. Hasyim Asy'ari merumuskan ajaran-ajaran Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi dasar NU.
Sebagai contoh, kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah karya KH. Hasyim Asy'ari menjelaskan tentang keyakinan, amalan, dan kepribadian yang menjadi pegangan warga NU. Jika kitab ini tidak dibahas dalam kritik NU, maka pemahaman tentang NU akan menjadi kurang mendalam.
Jadi, buku kritik NU yang tidak menyoroti KH. Hasyim Asy'ari akan kehilangan kesempatan untuk mengkritik NU secara lebih mendalam dan komprehensif.
Juga kritisi NU dan kritik terhadap buku sejarah, merujuk pada analisis dan penilaian kritis yang dilakukan oleh organisasi Nahdlatul Ulama (NU) terhadap penulisan sejarah, terutama yang berkaitan dengan sejarah NU itu sendiri atau sejarah yang melibatkan perspektif ke-NU-an.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Dasman-Jurnalis.jpg)