Opini

Nilai-Nilai Humanities Berpuasa Ramadan

Puasa Ramadan adalah ibadah rahasia penyempurna akhlak untuk menjaga martabat kemanusiaan dan menumbuhkan empati sosial demi mencapai derajat takwa.

Tayang:
gemini.google.com
H. Yazwardi Jaya (Akademisi FSH UIN Raden Fatah Palembang). 

Ringkasan Berita:
  • Puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia) yang pahalanya langsung diberikan Allah sebagai bentuk persembahan khusus dari hamba-Nya.
  • Puasa bertujuan memperbaiki akhlak untuk menjaga martabat manusia agar tidak jatuh ke derajat yang rendah seperti hewan ternak.
  • Melalui rasa lapar dan dahaga, puasa melatih empati dan kepedulian nyata terhadap saudara-saudara yang kurang beruntung secara ekonomi.

Oleh: H. Yazwardi Jaya
(Akademisi FSH UIN Raden Fatah Palembang)

SRIPOKU.COM - Apa yang menjadi keistimewaan berpuasa wajib pada Bulan Ramadhan dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya dalam Islam?

Dalam sebuah Hadis Qudsi, Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnyua Allah SWT berfirman “Setiap amal perbuatan anak Adam itu akan dikembalikan (pahala/balasannya) kepada yang melakukannya kecuali ibadah puasa. Sesungguhnya berpuasa itu adalah persembahan “khusus” untuk Saya (Allah), dan Saya akan langsung membalasnya."

Keistimewaan berpuasa ini kemudian menjadikannya sebagai ibadah sirriyah (ibadah rahasia) dalam artian pengamalannya tidak terlihat kasat mata seperti ibadah shalat, berzakat, dan berhaji. Keistimewaan ibadah puasa adalah ditujukan kepada orang-orang beriman di mana Allah akan langsung memberikan imbalan pahalanya.

Kewajiban berpuasa sesungguhnya telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu. pada masa Nabi Musa AS, puasa juga menjadi bagian dari ibadah yang dijalankan oleh umatnya.

Sebelum datangnya Islam, orang-orang Yahudi terbiasa berpuasa pada tanggal 10 Muharram, yang dikenal sebagai puasa Asyura. Praktik ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Firaun.

Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut dan kemudian memerintahkan umat Islam untuk berpuasa Asyura.

Namun, setelah puasa Ramadhan diwajibkan, puasa Asyura menjadi sunnah, bukan kewajiban. Puasa juga telah disyariatkan pada masa Nabi Nuh AS. Menurut beberapa riwayat, Nabi Nuh dan para pengikutnya berpuasa sebagai bentuk syukur setelah diselamatkan dari banjir besar yang menenggelamkan dunia saat itu.

Puasa ini diyakini sebagai salah satu bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan. Puasa dalam konteks ini tidak hanya menjadi simbol pengorbanan, tetapi juga refleksi atas pentingnya ketahanan spiritual dalam menghadapi berbagai cobaan dan ujian hidup.

Puasa merupakan kewajiban sejak nabi-nabi terdahulu sebagai bentuk pengamalan atau ibadah yang diperintahkan.

Namun, meskipun berbagai umat terdahulu telah menjalankan puasa dengan aturan yang berbeda-beda, Islam membawa penyempurnaan dalam bentuk puasa Ramadhan yang diwajibkan bagi umat Muslim sejak zaman Nabi Muhammad SAW berbeda dengan puasa sebelumnya, puasa Ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri yang secara tegas di dalam Alquran bertujuan membentuk perilaku orang-orang bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183).

Islam datang dengan misi kemanusiaan yang menegaskan bahwa fungsi kenabian Muhammad SAW adalah untuk memperbaiki akhlak yang mulia. Kata akhlak adalah bagian yang tak terpisahkan dari kata Khalik (Pencipta), dan kata makhluk (ciptaan). Tingkah laku dan perilaku manusia sesungguhnya merupakan manipestasi dari penciptaannnya yang seharusnya tunduk dan patuh kepada Sang Khalik (Pencipta).

Kelengkapan manusia secara fisik-biologis telah meletakkan manusia sebaik-baiknya ciptaan dan Allah telah memuliakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dengan berbagai atribut, rezeki, dan keistimewaan dibandingkan dengan makhluk lainnya.  (QS. Al-Isra: 70; Al-Tin: 4).

Namun, sewaktu-waktu predikat itu akan lepas dan jatuh ke dalam lembah kehinaan dan bahkan manusia bisa menjadi mahkluk setingkat atau lebih tersesat hewan-hewan ternak (QS. Al-A’raf: 179). Di sinilah manusia diberikan bekal untuk menjaga kesempurnaan itu untuk tetap mencapai kemuliaan martabat kemanusiaan.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved