Opini

Nilai-Nilai Humanities Berpuasa Ramadan

Puasa Ramadan adalah ibadah rahasia penyempurna akhlak untuk menjaga martabat kemanusiaan dan menumbuhkan empati sosial demi mencapai derajat takwa.

Tayang:
gemini.google.com
H. Yazwardi Jaya (Akademisi FSH UIN Raden Fatah Palembang). 

Martabat kemanusian (Human Dignity) merupakan bagian dari hak-hak dasar kemanusiaan (humanities) yang secara Ghalib adalah Hak Asasi Manusia yang diakui internasional keberadaannya.

Hak asasi manusia (HAM) merupakan hak- hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia sejak lahir. HAM bersifat kodrati, artinya hak ini melekat pada martabat manusia dan tidak dapat dihilangkan oleh siapapun.

Menurut Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999, HAM adalah hak yang melekat sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

Dalam realitas sosial, labirin kehidupan yang penuh nestapa selalu menghiasi langkah-langkah penuh harap sebagian saudara-saudara kita.

Mereka terkadang dalam kesulitan ekonomi yang mengharuskan mereka menjadi kelompok orang-orang yang “kurang beruntung”. Keberadaan mereka sesungguhnya sama dengan mereka atau kita yang diberikan kelapangan rezeki dan hidup dengan kecukupan. Martabat kemanusiaan seseorang hanya dibedakan karena faktor ketakwaan (QS. Al-Hujurat: 13).

Di sinilah saatnya kelompok yang beruntung harus membantu saudara-saudaranya yang kurang beruntung. Kita melihat fakta bahwa sebagian saudara-saudara kita masih berada dalam garis kemiskinan. Mereka kesulitan memenuhi kebutuhan primer mereka untuk mencari pekerjaan, menyekolahkan anak, dan tempat tinggal yang layak.

Inilah keadaan yang menyadarkan manusia melalui berpuasa untuk munculnya rasa empati, simpati, dan kepedulian sosial yang nyata. Rasa kemanusiann kita (humanities values) pasti akan muncul ketika kita bersungguh-sungguh melaksanakan puasa Ramadhan.

Pada Bulan Ramadhan, kewajiban berpuasa ditunaikan sebagai bentuk ketundukan totalitas dan dilipatgandakan seluruh amal ibadah yang dilakukan pada bulan yang penuh kemuliaan itu.

Berpuasa adalah upaya untuk membebaskan manusia dari sifat-sifat kezaliman karena di dalam berpuasa seseorang akan merasakan bagaimana sulitnya menahan rasa lapar dan dahaga yang dialami oleh orang-orang yang tidak berpunya.

Pada bulan Ramadhan, ketundukan seorang yang beriman juga ditunjukkan dengan mengerjakan Qiyamul Lail (Shalat Tarawih/Tahajjud) yang dalam Alquran dijanjikan kedudukan yang mulia (QS. Al-Isra: 78). Di dalam berpuasa juga doa-doa akan dikabulkan dengan “syarat dan ketentuan” yang berlaku (QS. Al Baqarah: 186).

Berpuasa Ramadhan hakikatnya adalah “proses tahunan” yang di dalamnya seseorang ditempa untuk menjadi insan yang bertakwa. Proses ini dapat dibaca setidaknya melalui tiga tahapan yang ketiganya terdapat dalam berpuasa.

Pertama, Takhalli, yaitu tahap pembersihan diri dari sifat-sifat tercela seperti riya, dengki, dan sombong, yang melibatkan latihan spiritual untuk mengendalikan hawa nafsu dan membersihkan jiwa.

Proses ini terlihat ketika seseorang yang berpuasa mulai memasang niat puasa, bersahur, dan menahan segala sesuatu yang membatalkan berpuasa sejak terbitnya fajar sampai dengan tenggelamnya matahari.

Pada proses ini jelas seseorang yang berpuasa bersungguh-sungguh ikhlas melaksanakannnya untuk menghindarkan sesuatu yang membatalkan puasa, bahkan sesuatu yang di luar puasa dihalalkan.

Proses ini adalah “pengosongan jiwa” dari berbagai sifat-sifat yang kontra nilai-nilai kemanusiaan (Humanities Values). Di sinilah seorang yang berpuasa akan terlihat sebagai seseorang yang mulai muncul kesadaran spiritual dan kepekaan terhadap realitas sosial di sekitarnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved