Opini
Puasa Ramadan 1447 H: Tajriid Kesalehan Individu dan Sosial Anak Usia Dini
Bagi umat Islam beriman menunaikan ibadah puasa telah sebetulnya telah mendapat ‘garansi’ dari Allah SWT.
Oleh: Abdullah Idi, Guru Besar Sosiologi/Dosen Pascasarajana
UIN Raden Fatah Palembang
PUASA Ramadan sebagai salah satu Rukun Islam, dimana bagi seorang muslim beriman, berpuasa merupakan suatu kewaiban dalam menuju derajat takwa. Bagi muslim beriman, menunaikan puasa perlu memahami bahwa Allah SWT bukanlah suatu hal yang memberatkan atau menyiksa tetapi justeru meringankan.
Tulisan ini, lebih memfokuskan pada diskusi tentang Puasa Ramadhan 1447H sebagai bulan latihan (tadriij), keteladanan dan kasih sayang menuju kesalehan individu dan kesalehan sosial bagi anak usia dini.
Dalam Alquran, Surat Al-Baqarah: 183, bahwa berpuasa bagi seorang muslim beriman, berpuasa merupakan suatu jalan menuju ketakwaan (taqwa): “ Hai orang-orang yang beriman! Diwaibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwaibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Ciri-ciri orang yang bertakwa (muttaqien), seperti tercantum dalam kandungan QS. Ali ‘Imran: 133-134), antara lain: beriman pada yang ghaib (Allah SWT, malaikat dan hari akhir), mendirikan salat, menafkahkan rezki dalam keadaan lapang maupun sempit, menahan amarah, memaafkan manusia, bertaubat jika berbuat salah, dan senantiasa takut dan merasa diawasi oleh Allah SWT. Menuju dan meraih predikat sempurna alias muttaqien, karenanya memerlukan proses, yang idealnya dimulai sejak usia dini.
Secara akal sehat manusia, melaksanakan puasa Ramadan selama satu bulan tentunya sangat memberatkan. Pandangan ini berdasarkan fakta biologis dan psikologis bahwa tubuh manusia diharuskan menahan asupan makanan dan cairan selama lebih dari 12 (dua belas) jam, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Tetapi, bagi umat Islam beriman menunaikan ibadah puasa telah sebetulnya telah mendapat ‘garansi’ dari Allah SWT bahwa manusia (umat) diyakini akan mampu menunaikannya. Dalam Alquran Surat: 185 bahwa “… Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…”
Sekurangnya, terdapat dua dimensi penting yang diharapkan bagi anak usia dini dan umat muslim umumnya yang mulai belajar menunaikan ibadah puasa Ramadan, yakni sebagai proses menuju kesalehan individu dan kesalehan sosial. Kesalehan individu dan sosial sangat diperlukan dan krusial dalam menciptakan keseimbangan hidup, antara hubungan dengan Sang Khalik (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablumminannas), yang mewujudkan pribadi yang berintegritas dan bermasyarakat atau berbangsa yang harmonis.
Kesalehan individu bertujuan membentengi iman, sedangkan kesalehan sosial bertujuan mengembangkan empati dan solidaritas. Keduanya mencegah ‘kekosongan’ spiritual dan sosial, menjadi manusia (umat) yang bermanfaat, berakhlak mulia, dan mewujudkan ajaran agama sebagai kasih sayang bagi semesta alam (rahmatan lil’alamain).
Karenanya, sebagai upaya menciptakan anak usia dini menjadi seorang muslim beriman yang berkarakter atau akhlakul karimah, yang memiliki kesalehan individu dan sosial, peranan orang dewasa (orangtua) dan masyarakat agama pada umumnya sangat diperlukan.
Berpuasa Ramadan, bagi anak-anak usia dini atau generasi muda muslim, dipandang sebagai ‘investasi’ sumber daya manusia (human-resources) angka panjang baik untuk keluarga maupun bagi bangsa ke depan.
Dalam konteks berbangsa, peranan nilai-nilai agam (apapun agama/kepercayaannya) tercantum dalam Pancasila, Sila ke-1 Ketuhanan Yang Maha Esa. Betapa para pendiri bangsa ( founding fathers) telah memiliki visi dan misi besar kedepan yang luar biasa. Tetapi, nilai-nilai religious-karakter-akhlakul karimah yang diharapkan Sila ke-1 Pancasila ini akan berjalan sempurna (baldatun thoyyibatun ghafur) apabila tanpa mengabaikan Sila ke-2, ke-3, ke-4, dan ke-5, (nilai keadilan, persatuan, permusyawaratan, dan keadilan sosial).
Kesalehan individu dan kesalehan sosial, dalam konteks berpuasa Ramadan, perlu dimulai pentingnya anak-anak (muslim) memiliki bekal latihan (tadriij) sejak usia dini. Dalam QS. Al-Mujadalah:11, dikatakan bahwa “… niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang beriman dan orang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha teiliti apa yang kamu kerakan”. Suatu pesan disampaikan Ali Bin Abi Thalib, dikatakan: “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup pada zamannya bukan pada zamanmu”.
Kesalehan individu, perlu diperkenalkan kepada anak-anak atau generasi muda (muslim), karena mereka merupakan tumpuan dan harapan keluarga (muslim). Dalam QS. At-Tahrim: 6,j diungkapkan bahwa “Wahai orang-orang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”.
Merujuk setiap anak-anak yang lahir akan menghadapi zaman yang berbeda dengan orang tuanya atau generasi sebelumnya, maka dalam aaran Islam, mereka (anak-anak/jbayi) yang lahir daalm keadaan fitrah (suci/islam) memiliki harapan besar agar dapat dididik dengan sebenarnya. HR. Fitrah disini diartikan suci,j bersih yang memilki potensi dasar Tauhid/mengenal Allah SWT. Disini peran orang tua, sebagai pendidik pertama dan utama, dimana lingkungan keluarga sangat dominan dalam membentuk aqidah, mental dan spiritual anak.
Tampak disini bahwa orang tua memiliki tugas menjaga dan mengembangkan agar potensi fitrah anak dapat dijaga dan dikembangkan dengan sedemikian rupa.
| Meningkatkan Keakuratan Hasil Sensus Ekonomi 2026 Melalui Ground Check |
|
|---|
| Sleep Training dan Bayi yang tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan |
|
|---|
| Serba Serbi Kitab Undang Undang Hukum Pidana Baru |
|
|---|
| Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan, Alarm Darurat Degradasi Moralitas Generasi |
|
|---|
| Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Pengamat-Sosial-di-Sumatera-Selatan-Abdullah-Idi.jpg)