Opini
Perang Israel-Iran dan Proyeksi Soliditas Aliansi Tiga Negara
Front terbaru Israel-Iran, faktanya, semakin mengkristalisasi lanksap perseteruan antara blok barat dan timur, apalagi pasca keterlibatan AS.
Dengan dalih pembelaan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), barat sering kali menuduh negara-negara non-demokratik melakukan pelanggaran HAM tapi lupa menunjuk ujung hidungnya sendiri. Contohnya, apa yang mereka lakukan terhadap China.
China sering dituduh sebagai dalang jahat karena diduga melakukan praktek diskriminatif terhadap kelompok Muslim Uighur di Xinjiang. Padahal, praktek islamophobia sendiri marak di belahan bumi barat. Dan situasi itu sering dibiarkan.
Belum lagi sikap diskriminatif mereka terhadap para imigran negara-negara korban perang. Perang yang sebenarnya adalah akibat perbuatan mereka sendiri.
Makanya, perlawanan-perlawanan yang selama ini ditampakkan oleh Rusia-Iran-China, juga negara-negara selatan lainnya, adalah upaya mereka untuk menghilangkan sikap arogansi dan hegemoni barat.
Hal ini dirasa penting supaya mereka mampu bertahan dari segala macam praktek perundungan, tekanan, serta provokasi di tengah inkonsistensi sikap barat dalam menavigasi arah tatanan dunia yang adil dan bijak.
Kohesivitas aliansi Rusia-Iran-China di masa depan setidaknya diperkuat oleh dua faktor tadi.
Pertama, pentingnya komitmen menjaga soliditas persekutuan guna menghadapi ketidakpastian perang.
Kedua, urgensi resistensi tiada henti untuk melawan provokasi dan perilaku standar ganda yang barat tunjukkan dalam kebijakan global belakangan ini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Ahmad-Nurcholis-1.jpg)