Opini
Perang Israel-Iran dan Proyeksi Soliditas Aliansi Tiga Negara
Front terbaru Israel-Iran, faktanya, semakin mengkristalisasi lanksap perseteruan antara blok barat dan timur, apalagi pasca keterlibatan AS.
Rusia-Iran-China menyadari asumsi ini. Dengan unsur unit yang terbilang lebih minim dibanding blok lawan – di mana jumlah konstituen mereka lebih besar - tidak ada cara lain yang dapat mereka lakukan selain menjaga integritas dan harmoni persatuan internal di antara mereka.
Jumlah mereka yang marginal menjadi insentif sekaligus pendorong kuat bagaimana mereka harus bersatu.
Meski BRICS adalah kelompok penting dalam jalinan di luar aliansi tiga negara Rusia-Iran-China, namun soliditas dan efektivitas BRICS masih belum terbukti.
Organisasi ini masih terlalu rapuh. Lagi pula, BRICS juga bukanlah sebuah pakta pertahanan, sehingga komitmen bantuan militer dari negara anggota tidak bisa diharapkan.
Makanya, baik Rusia, Iran, maupun China, tidak memperhitungkan BRICS sebagai persekutuan militer strategis mereka. Mereka hanya mengharapkan bantuan dari sesama di antara ketiga unit aliansi yang mereka bangun sendiri.
Karenanya, tak aneh Iran disinyalir banyak membantu Rusia dalam perang yang sedang ia kobarkan. Juga sebaliknya, Rusia dipastikan akan banyak membantu Iran dalam dinamika konflik akhir-akhir ini. Begitu pun China, bantuannya amat diharapkan.
Ketiganya, akan terus mempertahankan soliditas blok guna mengarungi masa depan geopolitik dunia yang labil.
Simbiosis mutualisme menjadi dasar persatuan dan persekutuan di antara tiga negara itu. Rusia butuh Iran-China, Iran butuh Rusia-China, dan China butuh keduanya dalam proyeksi serta kemungkinan perang dalam masa periode reunifikasi Taiwan di masa depan.
Ketidakadilan dan Standar Ganda Barat
Kedua, di samping minimnya jumlah unit dalam blok aliansi (Rusia-Iran-China) – di luar perhitungan kelompok BRICS yang kini diisi banyak negara - rasa ketidakadilan yang selama ini dipersepsikan oleh ketiga aktor atas arogansi barat faktanya juga berkontribusi mempertebal keterpaduan di antara mereka.
Meski ini bukan impak langsung dari perang Israel-Iran akhir-akhir ini, namun persepsi anti-barat faktanya sudah lama terpendam sebelum perang meletus.
Kewaspadaan terhadap sikap dan perilaku barat yang labil, yang seringkali menampakkan posisi ‘standar ganda’ dalam menyikapi persoalan geopolitik global, menjadi faktor lainnya yang melatarbelakangi betapa krusialnya rasa persatuan di antara ketiganya.
Dalam banyak kasus, sikap standar ganda barat salah satunya terefleksi lewat ketidakberdayaan AS dan sekutunya untuk menghentikan tindakan genosida Israel terhadap rakyat Palestina.
Blok barat diam tak berkutik. Jarang sekali retorika berbau kecaman keluar dari pernyataan pemimpin barat atas aksi barbar Israel terhadap rakyat Palestina.
Mereka acapkali membungkus aksi dan invasi Israel sebagai ‘hak untuk membela diri’. Sebuah ketidakadilan sikap yang tidak bisa diterima oleh ketiga aktor, termasuk masyarakat internasional lainnya.
Di samping itu, standar ganda barat juga tercermin dalam tabiatnya yang sering mencampuri urusan politik dalam negeri negara lain namun lupa untuk otokritik terhadap dirinya sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Ahmad-Nurcholis-1.jpg)