Opini
Perang Israel-Iran dan Proyeksi Soliditas Aliansi Tiga Negara
Front terbaru Israel-Iran, faktanya, semakin mengkristalisasi lanksap perseteruan antara blok barat dan timur, apalagi pasca keterlibatan AS.
PERANG yang dilancarkan Israel sejak Jumat (13/6/2025) terhadap Teheran dan invasi AS atas tiga situs nuklir Iran (22/06/2025) tampaknya akan membawa dampak signifikan bagi soliditas blok aliansi Rusia-Iran-China di masa kini dan akan datang.
Bagaimana tidak, meski kabar genjatan senjata mulai terdengar, namun impak pascaperang akan terus mendorong ketiganya memperkuat diri di tengah geopolitik yang rentan.
Terlebih, dua dari tiga negara di blok itu kini masing-masing memiliki seteru yang notabenenya adalah konstituen di pihak lawan.
Pertama, Ukraina. Ia merupakan seteru Rusia yang saat ini masih sengit berperang. Ukraina banyak mendapat bantuan militer dari negara-negara sekutu blok barat.
Kedua, Israel. Ia adalah pion sekaligus mitra strategis AS di Timur Tengah. Dua negara blok barat itu kini tengah bertempur di frontnya masing-masing.
Front terbaru Israel-Iran, faktanya, semakin mengkristalisasi lanksap perseteruan antara blok barat dan timur, apalagi pasca keterlibatan AS akhir-akhir ini.
Meski hanya menyisakan China sebagai satu-satunya negara di blok timur yang belum terlibat konflik langsung dengan negara mana pun di blok tandingan, bukan tidak mungkin, proyeksi geopolitik ke depan akan menyeret China masuk ke dalam skema pertempuran.
Perang tarif yang saat ini Trump prioritaskan terhadap China, jelas merupakan indikasi permusuhan dan gejala awal antagonisme AS atas bangkitnya superioritas China dalam tatanan global.
Pasalnya, pembendungan yang AS lakukan terhadap kebangkitan China tidak hanya bernuansa ekonomis, namun juga strategis dan politis.
Munculnya jejaring aliansi semi-NATO di wilayah Indo-Pasifik, seperti AUKUS dan QUAD, kuat dilatarbelakangi oleh kebangkitan China itu.
AS yakin, dengan semakin kuatnya ekonomi China, maka semakin kuat juga angkatan militernya. Dan hal ini berpotensi membuat China bersikap agresif dan arogan di sekitar Laut China Selatan serta memperbesar tekadnya merebut Taiwan.
Dua mimpi besar China itu jelas menjadi dasar yang melatarbelakangi AS untuk terus mereduksi kekuatannya.
AS khawatir, semakin besar kekuatan China, semakin sulit menandinginya. Makanya melalui berbagai strategi pembendungan, AS berharap agar China kandas dalam upayanya mentransformasi diri menjadi negara superior. Baik secara ekonomi maupun militer.
Selain itu, pembendungan kebangkitan China juga dilatarbelakangi oleh kekhawatiran AS atas posisi hegemonik globalnya yang suatu waktu bisa saja tergeser oleh China.
Gambaran Koalisi Rusia-Iran-China
Dengan melihat ragam perseteruan di banyak tempat belakangan ini, seperti Israel-Iran di Timur Tengah; India-Pakistan di Asia Selatan, dan masih berlangsungnya front lama Rusia-Ukraina di Eropa Timur, imaji peperangan yang ada semakin memperlihatkan bayang-bayang pembelahan diametral geopolitik dua faksi di masa kini dan akan datang.
Semakin jelas mana teman dalam kubu tertentu, dan mana lawan dalam kubu yang lain.
Dinamika politik global kian melukiskan dua garis pertikaian sengit antara blok barat dan blok timur. Antara faksi yang dipimpin AS dan faksi yang dikomandoi China-Rusia.
Bayang-bayang pecahnya Perang Dunia Ketiga, perlahan semakin jelas terlukis. Front-front peperangan baru yang muncul di sana-sini, faktanya akan semakin membentuk soliditas dan kohesivitas aliansi di antara dua kubu. Utamanya kubu tiga negara antara Rusia-China-Iran.
Ada banyak alasan mengapa peperangan yang akhir-akhir ini terjadi, utamanya di Timur Tengah itu, cenderung memperkuat asumsi tersebut.
Urgensi Menjaga Komitmen Aliansi
Pertama, komitmen persekutuan dalam dunia yang terbelah menjadi kunci kemenangan berharga bagi salah satu blok yang bertikai.
Semakin kecil fragmentasi di internal blok, semakin besar kemungkinan blok tertentu untuk memenangkan perang.
Berkurangya komitmen AS di bawah Trump untuk membantu Ukraina dalam perang melawan Rusia merefleksikan sekaligus mencontohkan impak krusial dari kohesivitas komitmen aliansi.
Agak sulit, bahkan sangat tidak mungkin bagi Ukraina untuk memenangkan perang yang ia lakukan dengan Rusia tanpa hadirnya bantuan dari sekutu terdekatnya, khususnya AS.
Kohesivitas dan soliditas aliansi tidak bisa dilepaskan begitu saja sebagai strategi penting untuk menghadapi musuh. Apalagi, jika rival yang dihadapi lebih kuat dibanding dirinya.
Saling-bantu dan saling-dukung adalah kunci utama strategi memenangkan perang. Pasalnya, sedikit sekali negara yang mampu berdiri sendiri dan sanggup bertahan tanpa batas waktu lama untuk melawan musuh saat perang berkecamuk.
Negara-negara yang bertikai butuh amunisi, butuh persenjataan, dan butuh pasukan, yang dalam posisi mendesak, hanya mampu disediakan oleh mitra-mitra terdekatnya.
Karenanya, menjaga persatuan dan meminimalisir cekcok di internal blok sangat penting demi keberhasilan mengarungi dinamika perang yang panjang. Masalahnya, tidak ada satupun aktor yang tahu kapan perang akan berakhir.
Ketidakpastian waktu, kecepatan produksi, serta kesanggupan memproduksi material persenjataan tiada henti, menambah daftar beban peliknya penyediaan kebutuhan akomodasi perang. Tanpa teman dan kawan, memenangkan perang yang sengit sulit dibayangkan.
Rusia-Iran-China menyadari asumsi ini. Dengan unsur unit yang terbilang lebih minim dibanding blok lawan – di mana jumlah konstituen mereka lebih besar - tidak ada cara lain yang dapat mereka lakukan selain menjaga integritas dan harmoni persatuan internal di antara mereka.
Jumlah mereka yang marginal menjadi insentif sekaligus pendorong kuat bagaimana mereka harus bersatu.
Meski BRICS adalah kelompok penting dalam jalinan di luar aliansi tiga negara Rusia-Iran-China, namun soliditas dan efektivitas BRICS masih belum terbukti.
Organisasi ini masih terlalu rapuh. Lagi pula, BRICS juga bukanlah sebuah pakta pertahanan, sehingga komitmen bantuan militer dari negara anggota tidak bisa diharapkan.
Makanya, baik Rusia, Iran, maupun China, tidak memperhitungkan BRICS sebagai persekutuan militer strategis mereka. Mereka hanya mengharapkan bantuan dari sesama di antara ketiga unit aliansi yang mereka bangun sendiri.
Karenanya, tak aneh Iran disinyalir banyak membantu Rusia dalam perang yang sedang ia kobarkan. Juga sebaliknya, Rusia dipastikan akan banyak membantu Iran dalam dinamika konflik akhir-akhir ini. Begitu pun China, bantuannya amat diharapkan.
Ketiganya, akan terus mempertahankan soliditas blok guna mengarungi masa depan geopolitik dunia yang labil.
Simbiosis mutualisme menjadi dasar persatuan dan persekutuan di antara tiga negara itu. Rusia butuh Iran-China, Iran butuh Rusia-China, dan China butuh keduanya dalam proyeksi serta kemungkinan perang dalam masa periode reunifikasi Taiwan di masa depan.
Ketidakadilan dan Standar Ganda Barat
Kedua, di samping minimnya jumlah unit dalam blok aliansi (Rusia-Iran-China) – di luar perhitungan kelompok BRICS yang kini diisi banyak negara - rasa ketidakadilan yang selama ini dipersepsikan oleh ketiga aktor atas arogansi barat faktanya juga berkontribusi mempertebal keterpaduan di antara mereka.
Meski ini bukan impak langsung dari perang Israel-Iran akhir-akhir ini, namun persepsi anti-barat faktanya sudah lama terpendam sebelum perang meletus.
Kewaspadaan terhadap sikap dan perilaku barat yang labil, yang seringkali menampakkan posisi ‘standar ganda’ dalam menyikapi persoalan geopolitik global, menjadi faktor lainnya yang melatarbelakangi betapa krusialnya rasa persatuan di antara ketiganya.
Dalam banyak kasus, sikap standar ganda barat salah satunya terefleksi lewat ketidakberdayaan AS dan sekutunya untuk menghentikan tindakan genosida Israel terhadap rakyat Palestina.
Blok barat diam tak berkutik. Jarang sekali retorika berbau kecaman keluar dari pernyataan pemimpin barat atas aksi barbar Israel terhadap rakyat Palestina.
Mereka acapkali membungkus aksi dan invasi Israel sebagai ‘hak untuk membela diri’. Sebuah ketidakadilan sikap yang tidak bisa diterima oleh ketiga aktor, termasuk masyarakat internasional lainnya.
Di samping itu, standar ganda barat juga tercermin dalam tabiatnya yang sering mencampuri urusan politik dalam negeri negara lain namun lupa untuk otokritik terhadap dirinya sendiri.
Dengan dalih pembelaan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), barat sering kali menuduh negara-negara non-demokratik melakukan pelanggaran HAM tapi lupa menunjuk ujung hidungnya sendiri. Contohnya, apa yang mereka lakukan terhadap China.
China sering dituduh sebagai dalang jahat karena diduga melakukan praktek diskriminatif terhadap kelompok Muslim Uighur di Xinjiang. Padahal, praktek islamophobia sendiri marak di belahan bumi barat. Dan situasi itu sering dibiarkan.
Belum lagi sikap diskriminatif mereka terhadap para imigran negara-negara korban perang. Perang yang sebenarnya adalah akibat perbuatan mereka sendiri.
Makanya, perlawanan-perlawanan yang selama ini ditampakkan oleh Rusia-Iran-China, juga negara-negara selatan lainnya, adalah upaya mereka untuk menghilangkan sikap arogansi dan hegemoni barat.
Hal ini dirasa penting supaya mereka mampu bertahan dari segala macam praktek perundungan, tekanan, serta provokasi di tengah inkonsistensi sikap barat dalam menavigasi arah tatanan dunia yang adil dan bijak.
Kohesivitas aliansi Rusia-Iran-China di masa depan setidaknya diperkuat oleh dua faktor tadi.
Pertama, pentingnya komitmen menjaga soliditas persekutuan guna menghadapi ketidakpastian perang.
Kedua, urgensi resistensi tiada henti untuk melawan provokasi dan perilaku standar ganda yang barat tunjukkan dalam kebijakan global belakangan ini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Ahmad-Nurcholis-1.jpg)