Opini
Pemuda Yatim, Nyantri Hingga Tidur di Gua Kahfi
KEKUATAN sebuah masyarakat dan bangsa sangat tergantung dengan kekuatan para pemudanya. Bahkan kemajuan dan harapan masa depan
Membangun tunas generasi bangsa yang berkualitas di tanah air antara lain telah dimulai dan dibangun oleh para ulama’ terdahulu dengan pola pendidikan pesantren.
Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir semua ulama’, tokoh agama dan pemikir Islam bangsa ini dahulunya adalah para santri pesantren dari berbagai pelosok nusantara.
Prinsip dasarnya antara lain adalah bahwa kualitas pemuda dan generasi bangsa sangat ditentukan oleh kekuatan iman dan kekokohan akhlak. Karenanya peran agama berskala sangat penting dan ekstra prioritas dalam membentuk tunas-tunas bangsa dan pesantren adalah basisnya.
Kelemahan iman dan kemiskinan akhlak generasi penerus merupakan kekhawatiran massal yang paling mengkhawatirkan bagi umat beriman (Qs. an-Nisa’ : 9). Dua aspek ini pula yang menjadi kekhawatiran nenek moyang bangsa Isra’il, Nabi Ya’qub as. sebelum beliau meninggal (Qs. al-Baqarah : 133).
Sejak dini pendidikan pesantren telah menanamkan pesan-pesan kemandirian, tidak menjadi beban orang lain, bergantung dan berharap hanya pada Tuhan, menjadi pribadi yang jujur, profesional dan visioner.
Oleh karena itu, jangan pernah ‘remehkan’ santri-santri sarungan, karena di dada mereka telah tertanam kuat prinsip-prinsip Muhammad kecil Saw. yang siap -meminjam istilah bung Karno- ‘mengguncangkan dunia’.
Teladan dan cerminan pemuda yang kuat dalam menjaga kesucian iman juga antara lain dideskripsikan oleh Al Qur’an dalam kisah pemuda-pemuda kahfi.
Dominasi kezhaliman dan kesyirikan yang ditopang oleh kekuatan penguasa adalah ancaman yang sangat serius terhadap keteguhan iman. Para pemuda ini kemudian ‘uzlah ke dalam sebuah gua dan hanya berharap pada pertolongan dan perlindungan Allah Swt.
Seorang pemuda beriman harus mampu mengukur kekuatan sendiri, sehingga tidak membuang energi sia-sia. Ada jenis kezhaliman yang harus dihadapi dengan fisik secara prontal dan face to face. Ada pula kezhaliman yang bisa dilawan dengan retorika dan mujadalah oral. Namun ada juga jenis kezhaliman yang hanya dapat dihadapi dengan diam.
Diam tidak berarti pengecut, tidak bertindak bukan berarti penakut. Dar’ al-mafasid muqaddam ‘ala janb al-mashalih, “menghindar untuk menyelamatkan jiwa lebih diutamakan daripada meraih kemashalatan umum”.
Para pemuda kahfi lari menuju Allah Swt. dengan misi penyelamatan iman. Lalu Allah Swt. menidurkan para pemuda ini selama 309 tahun dan membangunkan mereka dari tidur panjang setelah kezhaliman penguasa itu sirna ditelan sunnatullah.
Tidak bisa dibantah bahwa arus kemajuan teknologi informasi saat ini telah jauh merasuk ke dalam semua sendi kehidupan manusia. Ibarat pisau bermata dua, kemajuan teknologi informasi membawa banyak manfaat dan mashlahat di satu pihak, namun juga membawa dampak negatif dan mudharat yang tidak sedikit bagi generasi muda dan para tunas bangsa di pihak lain.
Umat dan bangsa mengharapkan pemuda dan generasi yang kuat dan tangguh, sekuat dan setangguh Rasulullah Saw. Mentalitas pemuda kahfi dalam menjaga kesucian iman yang diharap mengakar kuat di dada para santri di berbagai pesantren pelosok negeri membawa harapan baru menuju Indonesia yang lebih baik. Setelah ‘bermaulid Nabi Saw. dan memetik hikmahnya, selamat ber ‘Hari Santri’ dan ‘Sumpah Pemuda’ 2024. Wallahu a’lam ! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Mimbar-Jumat-John-Supriyanto.jpg)