Opini

Pemuda Yatim, Nyantri Hingga Tidur di Gua Kahfi

KEKUATAN sebuah masyarakat dan bangsa sangat tergantung dengan kekuatan para pemudanya. Bahkan kemajuan dan harapan masa depan

Editor: Yandi Triansyah
Handout
Mimbar Jumat John Supriyanto ketika setan divonis sebagai musuh nyata sekaligus penyesat manusia, tersimpul dalam benak bahwa ia tidak mendatangkan manfaat hadirnya segala mudarat 

Oleh : John Supriyanto

SRIPOKU.COM - KEKUATAN sebuah masyarakat dan bangsa sangat tergantung dengan kekuatan para pemudanya. Bahkan kemajuan dan harapan masa depan suatu bangsa-pun tidak dapat dilepaskan dari kualitas dan peran generasi muda. 

Maka pantas saja kalau sang proklamator, Bung Karno pernah mengatakan “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya.

Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Sejarah telah membuktikan bahwa laju sejarah bangsa Indonesia berproses karena peran besar para pemuda.

Dimulai dari perjuangan panjang membebaskan bangsa dari kolonialisme dan imperialisme Eropa yang antara lain tertuang dalam “Sumpah Pemuda” 1928, mempertahankan ideologi Pancasila hingga bergerak massif meruntuhkan rezim yang dipandang tidak berpihak pada rakyat. Pemuda merupakan organ vital dalam sebuah konstruksi sejarah bangsa.

 “Syubban al-yaum rijal al-ghad”, pemuda hari ini adalah penentu arah bangsa pada hari-hari esok. Begitulah di antara kata-kata bijak menyebutkan.

Bangsa dan masyarakat ini membutuhkan pemuda-pemuda yang kuat untuk menghadapi arus global dan tantangan masa depan yang jauh lebih berat dan sulit.

Ada tiga momentum penting di bulan September dan Oktober 2024 menyangkut kualitas pemuda dan generasi bangsa, yakni maulid Nabi Saw., hari santri dan hari Sumpah Pemuda.

Mengapa tiga momentum ini penting? Karena banyak nilai dan pesan moral yang terdapat pada ketiganya dan bisa dipetik sebagai pembelajaran.

Tidak ada peristiwa masa lalu yang dikisahkan dalam teks-teks agama kecuali bertujuan sebagai ‘ibrah dan keteladanan. Paling tidak, begitulah disebut dalam Qs. Yusuf : 111.

Dari kota Makkah yang tengah diselimuti ‘kejahiliyaan’ 14 abad silam, lahirlah bayi mulia yang kelak menjadi cahaya semesta, Nabi agung Muhammad Saw.

Kelahiran beliau disambut tangis gembira sang ibu dan kakeknya. Sementara sang ayah telah wafat beberapa bulan setelah beliau berada dalam kandungan. Beberapa tahun berikutnya sang ibu juga meninggal, sehingga beliau menjadi yatim piatu di usia enam tahun.

Dua tahun berselang, sang kakek yang mengambil hak asuhnya-pun meninggal saat beliau berusia delapan tahun. Selanjutnya, di bawah asuhan sang paman, Abu Thalib, Muhammad kecil mulai mengembala kambing dan membantu usaha dagang pamannya.

Perlahan tapi pasti, pemuda al-amin ini menjadi sosok yang kuat, tangguh, mandiri dan visioner, sehingga pada usai 12 tahun ia sudah ikut kafilah dagang ke Syam bersama sang paman.

Di usia yang ke 17 tahun, beliau telah memimpin sebuah ekspedisi perdaganan ke luar negeri lebih dari 17 negara.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved