Opini

Pemuda Yatim, Nyantri Hingga Tidur di Gua Kahfi

KEKUATAN sebuah masyarakat dan bangsa sangat tergantung dengan kekuatan para pemudanya. Bahkan kemajuan dan harapan masa depan

Tayang:
Editor: Yandi Triansyah
Handout
Mimbar Jumat John Supriyanto ketika setan divonis sebagai musuh nyata sekaligus penyesat manusia, tersimpul dalam benak bahwa ia tidak mendatangkan manfaat hadirnya segala mudarat 

Puncak karier bisnis Rasulullah Saw. adalah ketika menjalin kerjasama dengan Khadijah dan terus mengembangkan ekspedisi eksport-import ke dan dari berbagai negara. Dalam usia yang masih sangat belia, beliau telah dikenal sebagai seorang pengusaha muda yang sukses.

Tidak mengherankan jika beliau kemudian melamar Khadijah menjadi istrinya dengan mahar 20 ekor unta ‘bakrah’ senilai + Rp. 1 Milyar bila dikonversi ke dalam rupiah saat ini. Suatu angka yang sangat pantastis untuk ukuran sebuah mahar.

Dari fragmen kilas kisah masa muda Rasulullah Saw. tersebut terdapat beberapa hal yang perlu dicermati bagi para pemuda dan tunas generasi bangsa.

Pertama, bahwa kepedihan hidup karena ditinggal oleh orang-orang terkasih tidaklah harus menjadikan diri terus larut dalam kesedihan yang berkepanjangan.

Tapi segeralah bangkit karena hidup masih harus terus berlanjut. Bahkan, untuk mencapai sukses dari sebuah usaha tidak boleh bergantung dan berharap kepada siapapun termasuk orang tua sekalipun. Seorang pemuda yang kuat adalah mereka yang menggantungkan harapannya hanya pada Tuhan.

Berhadap pada manusia hanya akan melahirkan mental-mental pencitraan, ‘menjilat’, ‘cari muka’ dan pamer prestasi semu. “Orang yang menggantungkan harapannya pada manusia pasti akan mememui kekecewaan”. Begitu kata Ali ibn Abi Thalib ra.

Kedua, berusaha menjadi pribadi mandiri dan tidak menjadi beban orang lain. Dalam agama, meminta -meski kepada orang atau saudara sendiri- dan menjadi beban orang lain ternyata tidak lebih baik daripada bekerja dengan usaha yang halal meskipun mungkin dipandang hina oleh orang lain.

Rasul Saw. pernah mengingatkan : “Sungguh jika seorang di antara kamu mengambil tali, lalu pergi ke hutan mengambil kayu bakar, mengikat, memikul lalu menjualnya, itu lebih mulia daripada ia meminta-minta baik diberi ataupun ditolak”. 

Dalam hal ini agama memandang penting sifat “iffah” atau harga diri yang harus dimiliki oleh setiap pemuda beriman. Meminta dan menjadi beban orang lain adalah sebuah kehinaan. Prinsip inilah yang harus dipegang teguh oleh semua generasi muda.

Karenanya, semangat interpreneurshif harus dibangun dan ditumbuhkan sejak dini. Bahkan Rasul Saw. telah memulainya sejak beliau berusia 8 tahun, meskipun diawali hanya dengan jual jasa mengembalakan kambing.

Ketiga, menjadi pribadi yang jujur, profesional dan visioner. Aspek kejujuran merupakan prinsip paling mendasar dalam setiap usaha atau pekerjaan yang melibatkan orang lain.

Jika masa muda Rasul Saw. dikenal sebagai seorang pedagang, maka hakikat setiap profesi dan pekerjaan adalah berdagang, jenisnya saja yang berbeda.

Tidak hanya menjadi kunci utama untuk sebuah kesuksesan, tetapi dalam kejujuran juga terdapat keberkahan. Sebaliknya, keberhasilan yang diraih dengan kecurangan hanya akan melahirkan kesuksesan palsu dan rapuh. Dipastikan tidak akan bertahan lama dan jatuh dengan sendirinya tergerus oleh seleksi alam.

Selain itu, usaha yang berbasis kejujuran akan menjadi semakin kuat bila ditopang dengan profesionalitas dan visi kerja. Artinya, dalam bekerja seseorang harus mampu mendisiplinkan diri, menghargai waktu, memiliki target dan hanya melakukan hal-hal produktif yang menunjang masa depan kariernya.

Prinsip-prinsip inilah antara lain yang menjadi pondasi dasar kesuksesan besar bisnis Rasul Saw. di usia yang masih sangat belia.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved