Opini
Opini: Mengenang Kejayaan Pertanian Indonesia dan Ironi Kopi Sumsel
Mengenang kejayaan di masa lalu dapat melahirkan kebanggaan serta motivasi, inspirasi, dan inovasi untuk mengulang kejayaan yang sudah terukir indah.
Kabar buruknya, meskipun sebagian besar kopi di Indonesia diproduksi oleh petani kopi dari provinsi yang kita cintai ini, ternyata komoditas kopi yang diekspor ke luar negeri, utamanya berasal dari provinsi tetangga, yaitu Lampung.
Lebih menyakitkan lagi, Sumsel tidak termasuk ke dalam lima provinsi dengan nilai ekspor biji kopi tertinggi di Indonesia.
BPS merilis bahwa sepanjang tahun 2022 ekspor biji kopi didominasi oleh Provinsi Lampung dengan nilai ekspor sebesar US$ 536,6 juta atau 47,26 persen dari total ekspor kopi nasional.
Diikuti oleh Provinsi Sumatera Utara dengan nilai ekspor sebesar US$ 291,2 juta, Jawa Timur senilai US$ 172,7 juta, Aceh sebesar US$ 89,0 juta, dan Jawa Tengah sebanyak US$ 20,0 juta.
Hal tersebut di atas mengisyaratkan bahwa ada yang kurang tepat dengan tata niaga kopi di Sumsel.
Bukan hal yang rahasia lagi bahwa selama puluhan tahun, para petani di Empat Lawang, Pagaralam, OKUS, Lahat, dan di daerah lain menjual hasil kebunnya ke para pengepul di masing-masing kota.
Kemudian, para pengepul yang umumnya memiliki armada sendiri, mengirimkan kopi tersebut kepada jejaringnya yang sudah terbangun selama puluhan tahun, yaitu pengepul besar di Lampung, sampai akhirnya diekspor ke luar negeri melalui pelabuhan di Lampung.
Selain itu, ketertarikan akan harga yang lebih bersaing yang ditawarkan oleh "Bos Kopi" di Lampung, membuat pengepul kopi di setiap daerah di Sumsel lebih memilih menjual kopinya ke Lampung ketimbang ke pengepul di Palembang.
Akhirnya, untuk mendobrak hegemoni tersebut, diperlukan sinergisitas dari petani kopi, pedagang/pengepul kopi di setiap daerah, eksportir, sampai dengan pemerintah daerah.
Yang ujung- ujungnya, akan tercipta peningkatan kesejahteraan petani kopi, meningkatkan profit para pedagang serta merangsang pertumbuhan ekonomi melalui ekspansi komoditas unggulan Sumsel di pasar global.
===
Belajar dari Sejarah
Sejarah bukan berarti menolak untuk menatap masa depan, apalagi dianggap gagal move-on.
Mengenang kejayaan di masa lalu dapat melahirkan kebanggaan serta motivasi, inspirasi, dan inovasi untuk mengulang kejayaan yang sudah terukir indah dalam catatan sejarah.
Sejarah juga mengajarkan kita untuk mengenali identitas, bagaimana kejayaan dimasa lalu dapat terwujud, serta potensi-potensi apa saja yang dimiliki dalam menggapai kejayaan di masa lalu.
===
Hasil Sensus
Pertanian tahun 2023 (ST2023) tahap I yang dirilis pada tanggal 4 Desember tahun lalu, menunjukkan bahwa terdapat 1.185.289 unit usaha pertanian perorangan di Provinsi Sumatera Selatan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 43,68 persen berusaha pada komoditas karet, 23,16 persen usaha pertanian sawah inbrida, 16,91 persen atau 200.416 unit usaha pada perkebunan kopi, dan 181.130 unit usaha perkebunan sawit.
Masih tingginya jumlah masyarakat Sumsel yang menggantungkan hidupnya pada usaha pertanian, mengindikasikan sangat besarnya potensi sektor pertanian di wilayah ini.
Bukan tidak mungkin, dengan sentuhan kebijakan yang tepat, potensi pertanian tersebut dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mengembalikan kejayaan pertanian Indonesia serta meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia yang lebih baik, khususnya petani di daerah yang kita cintai ini. (*)
===
Simak berita Sripoku.com lainnya di Google News
| Dari Kayuagung ke Moskow, Perjalanan Anak Sumsel Mengubah Nasib di Rusia |
|
|---|
| Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah "Dikhianati" Demi Seremonial Belaka |
|
|---|
| Hati-hati dengan Diskon! |
|
|---|
| Digitalisasi Perbankan: Efisiensi Operasional atau Ancaman Keamanan Siber? |
|
|---|
| IHSG Awal 2026 Merosot Tajam: Mengapa Ini Justru Momentum Emas bagi Investor Jangka Panjang? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Choirul-Okviyanto-SST-ME-MPP-Statistisi-Ahli-Muda-BPS-Provinsi-Sumatera-Selatan.jpg)