Opini
Opini: Mengenang Kejayaan Pertanian Indonesia dan Ironi Kopi Sumsel
Mengenang kejayaan di masa lalu dapat melahirkan kebanggaan serta motivasi, inspirasi, dan inovasi untuk mengulang kejayaan yang sudah terukir indah.
SRIPOKU.COM
Sejarah Kejayaan Pertanian Indonesia
Selama berabad-abad lamanya, secuil tanah subur dari surga yang Tuhan letakkan di bumi ini dalam bentuk Nusantara, telah menghasilkan berbagai komoditas pertanian yang unggul dan diekspor ke berbagai bangsa di seluruh belahan dunia.
Lada, pala, bunga pala, cengkih, kayu manis, kapulaga, bawang, jahe, damar, gaharu, dan berbagai hasil bumi negeri ini telah diangkut dari Nusantara bagian Timur ke pesisir Malaya menuju Gujarat.
Dari Gujarat, para pedagang membawah rempah- rempah Nusantara ke dalam dua jalur.
Lewat darat melalui Khurasan (Afganistan), Persia (Iran), Iraq, Suriah, dan terus ke Konstantinopel (Turki).
Atau lewat laut ke arah Aden (Yaman) yang kemudian jalurnya terbagi lagi, melalui Laut Merah ke arah Mesir lalu dilayarkan lagi ke Byzantium (Turki) ataupun dibawa oleh kafilah-kafilah unta melalui Jazirah Arab ke arah Palestina yang kemudian mengarungi Lautan Mediterania untuk mencapai Genoa dan Venesia (Italia).
Dari Italia, pedagang Genoa dan Venesia lalu membawanya ke kota-kota pelabuhan di selatan dan barat benua Biru tersebut hingga ke wilayah terdingin di dekat kutub utara.
Beraneka ragam rempah-rempah Nusantara tersebut dipercaya mampu menghangatkan tubuh masyarakat Eropa yang hidup dalam dekapan cuaca dingin.
Aroma, warna-warni, dan rasa yang kuat dari rempah Nusantara meresap jauh ke dalam kuah sup, daging alot, dan ikan-ikan setengah busuk di dapur-dapur pangeran dari berbagai bangsa di Eropa.
Pun, para tabib mengolah rempah tersebut menjadi ramuan obat mujarab yang dapat menyembuhkan berbagai macam jenis penyakit.
Ketergantungan yang tinggi bangsa-bangsa Eropa terhadap komoditas rempah Nusantara serta panjangnya rute perjalanan untuk sampai ke Eropa pada waktu itu, menjadikan harga komoditas rempah-rempah melampaui harga emas sekalipun.
Konon, pernah di suatu masa di kota-kota ujung utara dan barat Benua Biru, 1 gram lada dapat ditukar dengan 2 sampai 3 gram emas.
Harga berbagai komoditas rempah yang sangat menggiurkan tersebut, membangkitkan sifat keserakahan dan kerakusan yang keji bangsa Eropa dalam menguasai sumber-sumber rempah di Nusantara serta memonopoli perdaganganya.
Malapetaka tersebut akhirnya datang pada tahun 1512, saat Portugis berhasil menginjakkan kakinya untuk pertama kali di Maluku, wilayah yang kaya akan pala dan cengkih, di mana sebelumnya mereka juga telah menguasai Malaka serta memporak- porandakan jalur perdagangan rempah-rempah yang sudah tercipta berabad-abad lamanya.
Setelah hampir 10 dekade menguasai Kepulauan Maluku dan menikmati keuntungan yang besar dari monopoli perdagangan rempah-rempah, Portugis akhirnya harus merelakan Maluku kepada negara Eropa lainnya yaitu Belanda.
Tahun 1605, Belanda melalui kongsi dagangnya, VOC, menguasai sepenuhnya pulau yang namanya berasal dari sebutan pedagang-pedagang dari Arab terhadap pulau tersebut, Jazirat Al-Muluk (negeri para raja).
Kemudian VOC melebarkan sayap jajahannya ke arah barat Nusantara yaitu Sulawesi, Kalimantan, Jawa, serta Sumatera dan memindahkan pusat perdagangannya ke kota pelabuhan terpenting di Pulau Jawa yaitu Jayakarta yang segera dirubah namanya menjadi "Batavia", nama suku bangsa Jerman kuno di Belanda.
Keuntungan melimpah yang didapatkan dari monopoli perdagangan komoditas rempah-rempah di Nusantara, menjadikan VOC sebagai perusahaan paling kaya di dunia pada zamannya hingga sampai dengan saat ini, hanya beberapa tahun saja sejak dari awal didirikannya.
Pada tahun 1637, nilai aset dan omzet VOC mengungguli gabungan kekayaan 20 negara di Eropa sebesar 78 juta gulden Belanda atau sekitar lebih dari USD 7,9 triliun, dengan memperkerjakan 70.000 orang dari sekitar 40 kebangsaan berbeda.
Kapal-kapal VOC hilir mudik di Samudra Atlantik, Tanjung Harapan, Laut Arab, Samudra Hindia, Teluk Benggala, Selat Malaka, Laut Tiongkok Selatan, hingga perairan Jepang.
Secara total, ada sekitar satu juta pelayaran dari Eropa ke Asia yang diberangkatkan VOC selama beroperasi.
Ketika komoditas rempah-rempah Nusantara kehilangan pesonanya di pasar global akibat melimpahnya produksi rempah-rempah dari bangsa lain, bahkan di Eropa sendiri di akhir abad ke-18 yang diikuti oleh kebangkrutan VOC, komoditas perkebunan lainnya muncul menjadi primadona baru dari tanah Nusantara yang subur ini.
Kopi terbaik, teh terbaik, gula terbaik, vanili terbaik, nila terbaik, cokelat terbaik, bahkan beras terbaik tumbuh subur di negeri yang tanahnya lebih emas daripada emas ini.
Eksploitasi keji komoditas-komoditas perkebunan yang laku keras di pasar global saat itu melalui sistem tanam paksa yang digagas oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Johannes van den Bosch, telah berhasil meraup keuntungan yang sangat besar bagi kas kerajaan Belanda.
Selama periode tahun 1831 hingga tahun 1877, perbendaharaan Belanda telah mencapai 832 juta gulden.
Hutang lama VOC, biaya perang Napolean, biaya perang kemerdekaan Belgia, dan biaya perang Diponegoro telah berhasil dilunasi, bahkan keindahan Kota Amsterdam saat itu tidak terlepas dari andil komoditas perkebunan yang dihasilkan oleh para petani di Nusantara.
===
Redupnya Pertanian Indonesia
Namun sayang, nampaknya sejarah kejayaan pertanian Indonesia di masa lalu belum dapat terulang dalam waktu dekat.
Pasalnya, BPS mencatat bahwa selama kurun waktu 5 tahun terakhir dari periode tahun 2018 sampai dengan 2022, pertumbuhan rata-rata ekspor sektor pertanian hanya sebesar 6,23 persen.
Atau dengan kata lain, kontribusi sektor pertanian Indonesia terhadap total ekspor nonmigas sepanjang tahun 2022 saja hanya 1,77 persen yaitu sebesar 4.895,2 Juta US Dollar.
Ekspor sektor pertanian masih kalah jauh dibandingkan dengan sektor industri pengolahan sebesar 74,69 persen dan pertambangan dan lainnya sebesar 23,54 persen pada tahun 2022.
Uniknya, komoditas pertanian unggulan Indonesia di pasar global masih sama dibandingkan dengan komoditas pertanian pada masa tanam paksa hampir 200 tahun yang lalu oleh Belanda, yaitu biji kopi.
Tercatat bahwa selama tahun 2022, total nilai ekspor kopi utamanya ke Amerika Serikat adalah sebesar 1,135 Milyar US Dollar atau sebanyak 433,8 ribu ton.
Sedangkan menurut Creutzberg dalam Houben (2002), total ekspor kopi di pulau Jawa pada tahun 1870 hampir mencapai 100 ribu ton dengan rata-rata pertumbuhan ekspor sepanjang tahun 1830 sampai dengan 1840 sebesar 13 persen, di mana sebagian besar komoditas tersebut, atau sekitar 84 persen langsung, dikapalkan ke negeri Belanda (Dick, 2002).
Sehingga jelaslah, bahwa saat ini kejayaan pertanian Indonesia di mata dunia tidak secemerlang dahulu, atau bahkan memudar jika dibandingkan kondisi pada masa berabad-abad yang lalu.
===
Kopi Sumsel
Berbicara tentang kopi di Indonesia, tentu tidak terlepas dari Provinsi Sumatera Selatan.
Bagaimana tidak, Bumi Sriwijaya yang subur ini merupakan daerah penghasil kopi terbesar di Nusantara saat ini.
Menurut catatan BPS, pada tahun 2022 Sumsel memproduksi kopi sebanyak 212,4 ribu ton atau sekitar 26,72 persen dari total produksi nasional.
Sedangkan Provinsi Lampung, Sumatera Utara, dan Aceh merupakan provinsi dengan produksi kopi masing-masing terbesar kedua, ketiga, dan keempat dengan total produksi ketiga provinsi tersebut sekitar 286,8 ribu ton.
Kopi Sumsel diproduksi dari beberapa wilayah dataran tinggi di gugusan bukit barisan yang beriklim dingin dan sejuk seperti Kabupaten Empat Lawang, Kabupaten OKU Selatan, Kabupaten Lahat, Kabupaten Muara Enim, dan Kota Pagaralam.
Pada tahun 2022, petani kopi di wilayah tersebut yang seluruhnya merupakan perkebunan rakyat, berhasil menghasilkan biji kopi masing-masing sebanyak 62.399 ton, 54.000 ton, 22.010 ton, 27.652 ton, dan 16.375 ton (Provinsi Sumatera Selatan Dalam Angka 2023, 2023).
Kabar buruknya, meskipun sebagian besar kopi di Indonesia diproduksi oleh petani kopi dari provinsi yang kita cintai ini, ternyata komoditas kopi yang diekspor ke luar negeri, utamanya berasal dari provinsi tetangga, yaitu Lampung.
Lebih menyakitkan lagi, Sumsel tidak termasuk ke dalam lima provinsi dengan nilai ekspor biji kopi tertinggi di Indonesia.
BPS merilis bahwa sepanjang tahun 2022 ekspor biji kopi didominasi oleh Provinsi Lampung dengan nilai ekspor sebesar US$ 536,6 juta atau 47,26 persen dari total ekspor kopi nasional.
Diikuti oleh Provinsi Sumatera Utara dengan nilai ekspor sebesar US$ 291,2 juta, Jawa Timur senilai US$ 172,7 juta, Aceh sebesar US$ 89,0 juta, dan Jawa Tengah sebanyak US$ 20,0 juta.
Hal tersebut di atas mengisyaratkan bahwa ada yang kurang tepat dengan tata niaga kopi di Sumsel.
Bukan hal yang rahasia lagi bahwa selama puluhan tahun, para petani di Empat Lawang, Pagaralam, OKUS, Lahat, dan di daerah lain menjual hasil kebunnya ke para pengepul di masing-masing kota.
Kemudian, para pengepul yang umumnya memiliki armada sendiri, mengirimkan kopi tersebut kepada jejaringnya yang sudah terbangun selama puluhan tahun, yaitu pengepul besar di Lampung, sampai akhirnya diekspor ke luar negeri melalui pelabuhan di Lampung.
Selain itu, ketertarikan akan harga yang lebih bersaing yang ditawarkan oleh "Bos Kopi" di Lampung, membuat pengepul kopi di setiap daerah di Sumsel lebih memilih menjual kopinya ke Lampung ketimbang ke pengepul di Palembang.
Akhirnya, untuk mendobrak hegemoni tersebut, diperlukan sinergisitas dari petani kopi, pedagang/pengepul kopi di setiap daerah, eksportir, sampai dengan pemerintah daerah.
Yang ujung- ujungnya, akan tercipta peningkatan kesejahteraan petani kopi, meningkatkan profit para pedagang serta merangsang pertumbuhan ekonomi melalui ekspansi komoditas unggulan Sumsel di pasar global.
===
Belajar dari Sejarah
Sejarah bukan berarti menolak untuk menatap masa depan, apalagi dianggap gagal move-on.
Mengenang kejayaan di masa lalu dapat melahirkan kebanggaan serta motivasi, inspirasi, dan inovasi untuk mengulang kejayaan yang sudah terukir indah dalam catatan sejarah.
Sejarah juga mengajarkan kita untuk mengenali identitas, bagaimana kejayaan dimasa lalu dapat terwujud, serta potensi-potensi apa saja yang dimiliki dalam menggapai kejayaan di masa lalu.
===
Hasil Sensus
Pertanian tahun 2023 (ST2023) tahap I yang dirilis pada tanggal 4 Desember tahun lalu, menunjukkan bahwa terdapat 1.185.289 unit usaha pertanian perorangan di Provinsi Sumatera Selatan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 43,68 persen berusaha pada komoditas karet, 23,16 persen usaha pertanian sawah inbrida, 16,91 persen atau 200.416 unit usaha pada perkebunan kopi, dan 181.130 unit usaha perkebunan sawit.
Masih tingginya jumlah masyarakat Sumsel yang menggantungkan hidupnya pada usaha pertanian, mengindikasikan sangat besarnya potensi sektor pertanian di wilayah ini.
Bukan tidak mungkin, dengan sentuhan kebijakan yang tepat, potensi pertanian tersebut dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mengembalikan kejayaan pertanian Indonesia serta meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia yang lebih baik, khususnya petani di daerah yang kita cintai ini. (*)
===
Simak berita Sripoku.com lainnya di Google News
| Dari Kayuagung ke Moskow, Perjalanan Anak Sumsel Mengubah Nasib di Rusia |
|
|---|
| Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah "Dikhianati" Demi Seremonial Belaka |
|
|---|
| Hati-hati dengan Diskon! |
|
|---|
| Digitalisasi Perbankan: Efisiensi Operasional atau Ancaman Keamanan Siber? |
|
|---|
| IHSG Awal 2026 Merosot Tajam: Mengapa Ini Justru Momentum Emas bagi Investor Jangka Panjang? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Choirul-Okviyanto-SST-ME-MPP-Statistisi-Ahli-Muda-BPS-Provinsi-Sumatera-Selatan.jpg)