Opini
Opini: Mengenang Kejayaan Pertanian Indonesia dan Ironi Kopi Sumsel
Mengenang kejayaan di masa lalu dapat melahirkan kebanggaan serta motivasi, inspirasi, dan inovasi untuk mengulang kejayaan yang sudah terukir indah.
Setelah hampir 10 dekade menguasai Kepulauan Maluku dan menikmati keuntungan yang besar dari monopoli perdagangan rempah-rempah, Portugis akhirnya harus merelakan Maluku kepada negara Eropa lainnya yaitu Belanda.
Tahun 1605, Belanda melalui kongsi dagangnya, VOC, menguasai sepenuhnya pulau yang namanya berasal dari sebutan pedagang-pedagang dari Arab terhadap pulau tersebut, Jazirat Al-Muluk (negeri para raja).
Kemudian VOC melebarkan sayap jajahannya ke arah barat Nusantara yaitu Sulawesi, Kalimantan, Jawa, serta Sumatera dan memindahkan pusat perdagangannya ke kota pelabuhan terpenting di Pulau Jawa yaitu Jayakarta yang segera dirubah namanya menjadi "Batavia", nama suku bangsa Jerman kuno di Belanda.
Keuntungan melimpah yang didapatkan dari monopoli perdagangan komoditas rempah-rempah di Nusantara, menjadikan VOC sebagai perusahaan paling kaya di dunia pada zamannya hingga sampai dengan saat ini, hanya beberapa tahun saja sejak dari awal didirikannya.
Pada tahun 1637, nilai aset dan omzet VOC mengungguli gabungan kekayaan 20 negara di Eropa sebesar 78 juta gulden Belanda atau sekitar lebih dari USD 7,9 triliun, dengan memperkerjakan 70.000 orang dari sekitar 40 kebangsaan berbeda.
Kapal-kapal VOC hilir mudik di Samudra Atlantik, Tanjung Harapan, Laut Arab, Samudra Hindia, Teluk Benggala, Selat Malaka, Laut Tiongkok Selatan, hingga perairan Jepang.
Secara total, ada sekitar satu juta pelayaran dari Eropa ke Asia yang diberangkatkan VOC selama beroperasi.
Ketika komoditas rempah-rempah Nusantara kehilangan pesonanya di pasar global akibat melimpahnya produksi rempah-rempah dari bangsa lain, bahkan di Eropa sendiri di akhir abad ke-18 yang diikuti oleh kebangkrutan VOC, komoditas perkebunan lainnya muncul menjadi primadona baru dari tanah Nusantara yang subur ini.
Kopi terbaik, teh terbaik, gula terbaik, vanili terbaik, nila terbaik, cokelat terbaik, bahkan beras terbaik tumbuh subur di negeri yang tanahnya lebih emas daripada emas ini.
Eksploitasi keji komoditas-komoditas perkebunan yang laku keras di pasar global saat itu melalui sistem tanam paksa yang digagas oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Johannes van den Bosch, telah berhasil meraup keuntungan yang sangat besar bagi kas kerajaan Belanda.
Selama periode tahun 1831 hingga tahun 1877, perbendaharaan Belanda telah mencapai 832 juta gulden.
Hutang lama VOC, biaya perang Napolean, biaya perang kemerdekaan Belgia, dan biaya perang Diponegoro telah berhasil dilunasi, bahkan keindahan Kota Amsterdam saat itu tidak terlepas dari andil komoditas perkebunan yang dihasilkan oleh para petani di Nusantara.
===
Redupnya Pertanian Indonesia
Namun sayang, nampaknya sejarah kejayaan pertanian Indonesia di masa lalu belum dapat terulang dalam waktu dekat.
| Dari Kayuagung ke Moskow, Perjalanan Anak Sumsel Mengubah Nasib di Rusia |
|
|---|
| Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah "Dikhianati" Demi Seremonial Belaka |
|
|---|
| Hati-hati dengan Diskon! |
|
|---|
| Digitalisasi Perbankan: Efisiensi Operasional atau Ancaman Keamanan Siber? |
|
|---|
| IHSG Awal 2026 Merosot Tajam: Mengapa Ini Justru Momentum Emas bagi Investor Jangka Panjang? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Choirul-Okviyanto-SST-ME-MPP-Statistisi-Ahli-Muda-BPS-Provinsi-Sumatera-Selatan.jpg)