Opini
Opini: Mengenang Kejayaan Pertanian Indonesia dan Ironi Kopi Sumsel
Mengenang kejayaan di masa lalu dapat melahirkan kebanggaan serta motivasi, inspirasi, dan inovasi untuk mengulang kejayaan yang sudah terukir indah.
Pasalnya, BPS mencatat bahwa selama kurun waktu 5 tahun terakhir dari periode tahun 2018 sampai dengan 2022, pertumbuhan rata-rata ekspor sektor pertanian hanya sebesar 6,23 persen.
Atau dengan kata lain, kontribusi sektor pertanian Indonesia terhadap total ekspor nonmigas sepanjang tahun 2022 saja hanya 1,77 persen yaitu sebesar 4.895,2 Juta US Dollar.
Ekspor sektor pertanian masih kalah jauh dibandingkan dengan sektor industri pengolahan sebesar 74,69 persen dan pertambangan dan lainnya sebesar 23,54 persen pada tahun 2022.
Uniknya, komoditas pertanian unggulan Indonesia di pasar global masih sama dibandingkan dengan komoditas pertanian pada masa tanam paksa hampir 200 tahun yang lalu oleh Belanda, yaitu biji kopi.
Tercatat bahwa selama tahun 2022, total nilai ekspor kopi utamanya ke Amerika Serikat adalah sebesar 1,135 Milyar US Dollar atau sebanyak 433,8 ribu ton.
Sedangkan menurut Creutzberg dalam Houben (2002), total ekspor kopi di pulau Jawa pada tahun 1870 hampir mencapai 100 ribu ton dengan rata-rata pertumbuhan ekspor sepanjang tahun 1830 sampai dengan 1840 sebesar 13 persen, di mana sebagian besar komoditas tersebut, atau sekitar 84 persen langsung, dikapalkan ke negeri Belanda (Dick, 2002).
Sehingga jelaslah, bahwa saat ini kejayaan pertanian Indonesia di mata dunia tidak secemerlang dahulu, atau bahkan memudar jika dibandingkan kondisi pada masa berabad-abad yang lalu.
===
Kopi Sumsel
Berbicara tentang kopi di Indonesia, tentu tidak terlepas dari Provinsi Sumatera Selatan.
Bagaimana tidak, Bumi Sriwijaya yang subur ini merupakan daerah penghasil kopi terbesar di Nusantara saat ini.
Menurut catatan BPS, pada tahun 2022 Sumsel memproduksi kopi sebanyak 212,4 ribu ton atau sekitar 26,72 persen dari total produksi nasional.
Sedangkan Provinsi Lampung, Sumatera Utara, dan Aceh merupakan provinsi dengan produksi kopi masing-masing terbesar kedua, ketiga, dan keempat dengan total produksi ketiga provinsi tersebut sekitar 286,8 ribu ton.
Kopi Sumsel diproduksi dari beberapa wilayah dataran tinggi di gugusan bukit barisan yang beriklim dingin dan sejuk seperti Kabupaten Empat Lawang, Kabupaten OKU Selatan, Kabupaten Lahat, Kabupaten Muara Enim, dan Kota Pagaralam.
Pada tahun 2022, petani kopi di wilayah tersebut yang seluruhnya merupakan perkebunan rakyat, berhasil menghasilkan biji kopi masing-masing sebanyak 62.399 ton, 54.000 ton, 22.010 ton, 27.652 ton, dan 16.375 ton (Provinsi Sumatera Selatan Dalam Angka 2023, 2023).
| Dari Kayuagung ke Moskow, Perjalanan Anak Sumsel Mengubah Nasib di Rusia |
|
|---|
| Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah "Dikhianati" Demi Seremonial Belaka |
|
|---|
| Hati-hati dengan Diskon! |
|
|---|
| Digitalisasi Perbankan: Efisiensi Operasional atau Ancaman Keamanan Siber? |
|
|---|
| IHSG Awal 2026 Merosot Tajam: Mengapa Ini Justru Momentum Emas bagi Investor Jangka Panjang? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Choirul-Okviyanto-SST-ME-MPP-Statistisi-Ahli-Muda-BPS-Provinsi-Sumatera-Selatan.jpg)