Breaking News:

Perspektif Agama dan Ekonomi

Menyikapi Efek Domino Pandemi : Perspektif Agama dan Ekonomi

Covid-19 yang awal kemunculannya merupakan masalah di bidang kesehatan, kemudian me­ram­­bat dengan cepat ke berbagai permasalahan baik sosial

Editor: Salman Rasyidin
Menyikapi Efek Domino Pandemi : Perspektif Agama dan Ekonomi
ist
Dr. M. Rusydi MAg

Kembali ke agama

Keimanan kita meyakini bahwa wabah Covid 19 -yang telah membunuh jutaan umat manusia tan­pa pandang bulu, termasuk para ulama dan tokoh masyarakat dan negara merupakan ciptaan Allah SWT.

Terkait sifat penciptaan, al-Ibda’, al-Khalq, dan at-tadbir merupakan sifat-sifat i­lahiah yang melekat pada Allah SWT, yang meniscayakan bahwa berbagai pe­ristiwa yang terjadi di alam semesta ciptaan Allah ini, harus senantiasa bersesuaian dengan sis­tem yang telah di­te­tapkan oleh kebijaksanaan-Nya, sehingga terwujud kemaslahatan yang sesuai dengan kehendak dan kemurahan-Nya.

Dalam hal ini, agama (ad-Dien) dengan sistem a­jaran yang diturunkan me­lalui para Rasul Allah, menjadi panduan dan pedoman bagi ma­nusia.

Karena pada dasarnya manusia merupakan campuran dari sisi yang lebih tinggi yang mendapatkan sinaran akal dan sisi lebih rendah yang didominasi naluri-naluri hayawani.

Se­tiap insan kemudian mem­per­lihatkan  sebuah watak intrinsik tergantung pada kekuatan relatif  setiap komponen dan cara me­ng­kombinasikan kedua komponen tersebut.

Bagian dari pembangunan moral dan spiritual ma­nusia adalah terletak pada praktek melalui ketundukkan mengikuti perintah agama yang se­sungguhnya dapat dicerna oleh akal manusia yang beriman.

Oleh karena itu perbuatan manusia digambarkan bersamaan dengan konsek­wen­sinya, yaitu adanya balasan (pahala maupun dosa) terkait ketaatan terhadap ajaran tersebut.

Menyikapi suatu permasalahan tentu harus dimulai dengan menganalisis akar penyebab per­masalahan tersebut dan membaca ulang (iqra`) sehingga mampu mencari cara menang­gu­la­nginya.

Jika kita runut, tak pelak lagi wabah ini berawal dari pola konsumsi masyarakat di su­atu kawasan yang menyimpang, bertentangan dengan sistem yang diajarkan terkait ajaran halal dan haram, serta terbukti mengganggu ekosistem alam semesta ciptaan Allah.

Oleh karena sikap yang harus diambil tentu saja ketaatan untuk mematuhi ajaran halal dan haram, sehingga kehidupan di alam semesta yang diamanahkan kepada manusia sebagai kha­lifatullah fil Ardi da­pat bersesuaian dengan kehendak Allah swt.

Dengan pola konsumsi yang baik yang menge­depankan prinsip halalan thayyiban, maka hanya pola-pola produksi yang baiklah yang tidak me­rusak sistem maupun ekosistem yang akan berkembang.

Karena dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, sesuai hukum permintaan dan penawaran, maka masyarakat ber­produksi serta mengembangkan tekhnologi untuk memenuhinya.

Dalam konteks ini terlihat bahwa begitu erat kajian ekonomi dengan agama.

Mengembangkan perspektif agama dalam menyikapi dampak sosial akibat adanya wa­­bah ini semestinya semakin menyadarkan kita bahwa solidaritas itu merupakan ke­­kuatan yang amat kuat dan penting dalam keberlangsungan kehidupan dengan ca­ra me­ningkatkan jiwa sosial bagi karib kerabat maupun tetangga yang terdampak tingkat kesejahteraannya karena pandemi ini.

Selain itu pelajaran lain yang bisa diambil diantaranya dari kebijakan pelarangan pe­­nye­lenggaraan sholat berjamaah di masjid beberapa waktu yang lalu serta ditiadakannya pe­­nyelenggaraan Ibadah haji maupun Umroh, menyiratkan bahwa mungkin kita selama ini terlalu berfokus menjalankan ibadah-ibadah mahdhoh semata yang sifatnya hablum min Allah serta masih kurang dalam aspek hablum min an-naas.

Kosongnya masjid pada waktu-waktu ibadah saat itu, mungkin juga mengingatkan kita bahwa masjid sebagai pusat kegiatan umat Islam dapat memperluas fungsinya sebagaimana awal sejarahnya.

Sehingga, bukan ha­nya menjadi pu­sat dakwah keagamaan namun juga menjadi pusat dakwah sosial dan e­konomi.

Sehingga kita dapat menghindarkan saudara-saudara kita dari riba ataupun bunga yang menjerat dan men­jerumuskan mereka.

Agama juga mengajarkan manusia untuk berpikir, karena sebagai musibah yang banyak mendatangkan sisi negatif pada dunia.  

Jika dipelajari lebih dalam bisa saja itu me­ru­­­pakan pesan dari Tuhan untuk terus mengembangkan akal dan daya, sehingga mam­­pu men­cari pemecahannya demi kemaslahatan umat manusia, seperti menci­ta­kan Vaksin ya­ng halal dan bermanfaat memutus mata rantai Covid 19 ini. Selain itu bang­kit dari ke­ter­purukan dan mengambil pelajaran berharaga dengan Akal yang dilandasi ke­i­man­an. Wallahu a’lam.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved