Opini
Kota Wisata Kuliner dan Penduduk yang Kekurangan Makan
Palembang ternyata memiliki jumlah penduduk dengan prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan terbesar di Provinsi Sumatera Selatan.
Oleh : Elok Ilunanwat
(Penggiat Isu Ketahanan Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal)
SRIPOKU.COM - Menyebut Palembang, maka yang terbayang adalah kota besar dengan berbagai kuliner lezatnya.
Salah satunya pempek bahkan dinobatkan menjadi olahan ikan terlezat nomer empat di dunia oleh Taste Atlas pada tahun 2024.
Setiap sudut kota seakan menjadi perayaan akan berlimpahnya pangan setiap hari. Para influencer pun selalu memposting di berbagai flatform media sosial tentang tempat-tempat makan yang legendaris dan yang terbaru.
Tetapi di balik hiruk pikuk sebagai ibu kota provinsi dan kota tujuan wisata kuliner tersebut, Palembang ternyata memiliki jumlah penduduk dengan prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan terbesar di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).
Meskipun persentase Prevalence of Undernourishment (PoU) alias prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan Kota Palembang merupakan yang terkecil yaitu 3,36 persen dibanding kabupaten/kota lain di Sumatera Selatan.
Hal ini dirilis Bapanas dalam Buku Direktori PoU di 38 Provinsi Tahun 2024 hingga Level Desa pada tanggal 14 Agustus 2025.
PoU adalah ukuran yang digunakan oleh Badan Pangan Nasional untuk mengidentifikasi proporsi penduduk yang kekurangan energi pangan yang cukup untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif, dan dinyatakan dalam persentase.
Angka PoU ini menjadi indikator penting untuk memetakan kondisi kerawanan pangan dan digunakan sebagai target dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025–2029.
Data PoU penting bagi daerah karena menjadi dasar untuk merancang dan melaksanakan program penanganan kerawanan pangan daerah, mengevaluasi efektivitas kebijakan, serta memastikan kecukupan pangan dan peningkatan kualitas gizi masyarakat secara berkelanjutan.
Tabel 1. Jumlah penduduk yang mengalami ketidakcukupan konsumsi pangan menurut kabupaten/kota Provinsi Sumatera Selatan tahun 2024.

Jumlah penduduk dengan prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan Kota Palembang mencapai 59.656 jiwa tersebar merata di 18 kecamatan dalam 107 kelurahan (Gambar 1).
Artinya masalah kelaparan dan kekurangan gizi di Palembang bukanlah fenomena lokal yang hanya terjadi di satu atau dua tempat.
Ini adalah masalah sistemik dan meluas yang menyentuh seluruh wilayah kota, dari satu ujung ke ujung lainnya. Angka 59.656 jiwa bukan sekedar angka statistik.
Frustrasi Publik dan Pelampiasan Agresi pada Elit Bernama DPR |
![]() |
---|
Jurang Kesenjangan ala Wakil Rakyat |
![]() |
---|
Pengangguran Terdidik di Sumsel: Kesenjangan Kompetensi dan Kebutuhan Sektor Ekonomi |
![]() |
---|
Apakah Lebih Tepat Bung Hatta Disebut Bapak Ekonomi Kerakyatan, Bukan Lagi Bapak Koperasi ? |
![]() |
---|
Apakah Lebih Tepat Bung Hatta Disebut Bapak Ekonomi Kerakyatan, Bukan Lagi Bapak Koperasi ? |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.