Opini

Kota Wisata Kuliner dan Penduduk yang Kekurangan Makan

Palembang ternyata memiliki jumlah penduduk dengan prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan terbesar di Provinsi Sumatera Selatan.  

Istimewa
Salah satu kegiatan Bilik Pangan di Palembang. 

Langkah selanjutnya yang dapat diambil oleh pemerintah Kota Palembang adalah:

  • Membangun Bank Makanan Terpadu: Pemerintah dapat menginisiasi atau mendukung pendirian bank makanan yang terintegrasi. Fungsinya adalah mengumpulkan makanan berlebih dari hotel, restoran, supermarket, dan katering yang masih layak konsumsi, lalu menyortir dan mendistribusikannya secara rutin.
  • Memberikan Insentif: Pemerintah bisa memberikan insentif pajak atau kemudahan perizinan bagi bisnis yang secara rutin mendonasikan makanan berlebih. Ini akan mendorong sektor swasta untuk berpartisipasi aktif dalam program penyelamatan pangan.
  • Kampanye dan Regulasi: Melakukan kampanye masif tentang bahaya food waste dan mengedukasi masyarakat tentang cara mengelola makanan di rumah. Pemerintah juga dapat membuat regulasi yang jelas terkait penanganan limbah makanan organik.

Untuk poin pertama di atas, di Kota Palembang sendiri sudah ada komunitas yang peduli dan bergerak dengan sumber daya mandiri.

Yaitu Foodbank of Indonesia (FOI) Palembang yang digerakkan oleh guru-guru Paramount School sejak tahun 2019 dan Yayasan Bilik Pangan2) yang didirikan oleh komunitas mahasiswa di Palembang sejak awal tahun 2025.

Para aktifis gerakan penyelamatan pangan bekerja keras untuk menngumpulkan, menyeleksi, mengolah hingga mendistribusikan makanan kepada masyarakat yang membutuhkan.  

Diharapkan Wali Kota Palembang dapat menggandeng kedua komunitas tersebut dalam kolaborasi penyelamatan pangan dengan skala lebih besar dan lebih luas lagi.

Selanjutnya bagi masyarakat, baik individu maupun komunitas, juga memiliki peran yang tak kalah penting dalam jalur cepat ini, yaitu:

  • Mengubah Kebiasaan Belanja dan Konsumsi: Memulai dari diri sendiri dengan berbelanja sesuai kebutuhan, membuat rencana menu, dan menyimpan makanan dengan benar agar tidak cepat rusak.
  • Partisipasi Aktif dalam Gerakan Lokal: Masyarakat bisa berpartisipasi dengan menjadi relawan, mendonasikan waktu, atau memberikan sumbangan finansial.
  • Inisiatif Berbagi Makanan: Mengajak tetangga atau teman untuk membentuk kelompok kecil untuk saling berbagi sisa makanan yang masih layak, terutama setelah acara besar atau saat panen melimpah.

Jalur ini, jika dijalankan secara kolaboratif, tidak hanya akan mengatasi masalah gizi dengan cepat tetapi juga menciptakan ekosistem pangan yang lebih efisien dan berempati.

Mari kita lebih peduli.  Penduduk yang kurang makan dan sampah makanan adalah isu serius sektor ekonopmi, sosial, kesehatan dan lingkungan.  

Di kota yang berlimpah makanan ini, jangan sampai ada isi satu piring pun yang terbuang percuma.  

Saatnya kita menuntaskan ironi ini dari diri pribadi, demi generasi yang lebih sehat. (*)


Note:

  • Penulis adalah anggota Dewan Pengawas pada Yayasan Bilik Pangan di Palembang  dan Asociate Ahli Pangan pada Detara Foundation di Bogor, serta penggiat isu ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal.
  • Bilik Pangan memiliki visi menjadi perantara yang memastikan akses pangan bagi masyarakat kurang mampu melalui pengelolaan makanan berlebih. Dalam mencapai visi tersebut, mereka mengusung misi mengumpulkan makanan berlebih yang masih layak konsumsi dan mendistribusikannya secara efisien serta membangun jaringan komunitas yang mendorong kontribusi masyarakat dalam mengurangi limbah makanan sekaligus menjamin ketahanan pangan.  

 

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved