Opini
Pelajaran Berharga dari Kasus Anak Cacingan di Bengkulu
Upaya pemberian obat cacing massal harus dijalankan secara berkelanjutan, bukan sekadar seremonial sekali dua kali dalam setahun.
Oleh: Prima Trisna Aji
(Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang)
SRIPOKU.COM - Beberapa hari terakhir, publik kembali dikejutkan oleh kabar memilukan dari Bengkulu.
Seorang balita berusia satu tahun delapan bulan di Desa Sungai Petai, Kabupaten Seluma, mengalami kecacingan akut.
Cacing keluar dari mulut dan hidungnya, bahkan ditemukan gumpalan di tubuhnya yang mengancam keselamatan jiwa.
Berat badannya hanya sekitar delapan kilogram, tanda jelas terjadi adanya gizi buruk.
Bagi sebagian orang, kecacingan dianggap masalah sepele, sekadar gangguan ringan yang bisa diatasi dengan obat cacing murah di warung.
Namun kasus di Bengkulu ini membantah anggapan itu semuanya. Sama seperti kasus “Raya” di Sukabumi beberapa bulan yang lalu, kecacingan pada anak dapat berubah menjadi tragedi besar bila tak dicegah sejak dini.
Dua kasus ini seakan memberi pesan keras bahwa kita menghadapi masalah kesehatan masyarakat yang lebih serius dari sekadar infeksi parasit.
Latar Belakang yang tak Bisa Diabaikan
Kondisi rumah balita di Desa Sungai Petai jauh dari kata layak. Dapur berhimpitan dengan saluran air, jamban seadanya, sanitasi buruk, dan ventilasi minim. Kemiskinan menambah panjang daftar persoalan.
Dalam situasi seperti itu, infeksi cacing tanah sangat mudah terjadi. Anak-anak bermain di tanah tanpa alas kaki, makanan tidak terlindungi, dan kebersihan tangan tidak terjaga.
Sayangnya, masalah ini bukan hanya soal perilaku individu, melainkan juga soal sistem. Program pemberian obat cacing massal memang ada, tetapi implementasi di lapangan masih belum merata.
Data Kementerian Kesehatan mencatat pada tahun 2021 sekitar 36,97 juta anak Indonesia sudah mendapat obat cacing massal, tetapi masih ada 26 kabupaten/kota dengan prevalensi kecacingan di atas 10 persen.
Artinya, masih banyak wilayah dengan masalah serius, dan Desa Sungai Petai mungkin salah satunya.
Dampak Jangka Panjang pada Generasi
| Meningkatkan Keakuratan Hasil Sensus Ekonomi 2026 Melalui Ground Check |
|
|---|
| Sleep Training dan Bayi yang tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan |
|
|---|
| Serba Serbi Kitab Undang Undang Hukum Pidana Baru |
|
|---|
| Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan, Alarm Darurat Degradasi Moralitas Generasi |
|
|---|
| Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Prima-Trisna-Aji-3.jpg)