Opini

Pelajaran Berharga dari Kasus Anak Cacingan di Bengkulu

Upaya pemberian obat cacing massal harus dijalankan secara berkelanjutan, bukan sekadar seremonial sekali dua kali dalam setahun.

Istimewa
Prima Trisna Aji (Dosen Prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang) 

Apa yang terjadi di Desa Sungai Petai Bengkulu menunjukkan bahwa pencegahan kecacingan tidak bisa ditunda lagi.

Upaya pemberian obat cacing massal harus dijalankan secara berkelanjutan, bukan sekadar seremonial sekali dua kali dalam setahun.

WHO bahkan merekomendasikan pemberian obat cacing berkala bagi anak usia 1 - 15 tahun di wilayah dengan prevalensi tinggi.

Indonesia harus memastikan rekomendasi ini benar-benar terwujud di desa-desa yang rawan.

Namun, obat saja tidak cukup. Sanitasi dasar adalah kunci utama yang harus diperhatikan. Jamban sehat, akses air bersih, dan pengelolaan limbah rumah tangga harus dipastikan tersedia untuk semua keluarga. Tanpa itu, obat cacing hanya akan memberi solusi sesaat, sementara sumber penularannya tetap ada.

Edukasi kepada masyarakat juga harus ditingkatkan. Orang tua perlu diyakinkan bahwa kecacingan bukanlah penyakit kecil.

Kebiasaan sederhana seperti cuci tangan pakai sabun, memakai alas kaki saat bermain, dan menjaga kebersihan makanan bisa mencegah infeksi.

Di atas semua itu, pencegahan kecacingan membutuhkan kolaborasi antar lintas sektor.

Kementerian Kesehatan tidak bisa berjalan sendiri, kementerian Pendidikan dapat memasukkan edukasi kesehatan dasar ke sekolah, Kementerian Desa bisa mendorong program sanitasi, sementara tokoh agama dan masyarakat bisa ikut menyebarkan pesan pentingnya kebersihan.

Dan ketika kasus berat muncul, pemerintah daerah harus punya sistem respon cepat, mulai dari posyandu hingga rumah sakit rujukan. Anak-anak tidak boleh lagi terlambat mendapatkan pertolongan medis.

Alarm yang tidak Boleh Diabaikan

Kasus kecacingan akut di Desa Sungai Petai, Bengkulu, bukanlah sekadar kisah tragis dari sebuah keluarga miskin saja.

Akan tetapi Ia adalah cermin dari rapuhnya sistem kesehatan masyarakat kita. Sama seperti kasus “Raya” di Sukabumi, peristiwa ini memberi sinyal bahwa masih ada pekerjaan rumah besar yang belum tuntas: sanitasi yang layak, gizi yang cukup, edukasi berkelanjutan, dan komitmen negara dalam melindungi anak-anak Indonesia.

Kita boleh berdebat panjang tentang teknologi kesehatan canggih, rumah sakit modern, atau aplikasi digital.

Namun semua itu tidak ada artinya bila anak-anak di desa masih harus bertarung dengan cacing di perutnya.

Alarm ini harus kita dengar bersama. Jangan sampai tragedi di Bengkulu hanya jadi berita sesaat. Karena pada akhirnya, masa depan bangsa ini ditentukan oleh kesehatan anak-anak kita hari ini. (*)

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved