Opini

Pelajaran Berharga dari Kasus Anak Cacingan di Bengkulu

Upaya pemberian obat cacing massal harus dijalankan secara berkelanjutan, bukan sekadar seremonial sekali dua kali dalam setahun.

Istimewa
Prima Trisna Aji (Dosen Prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang) 

Kecacingan bukan hanya membuat perut anak buncit atau berat badan tak kunjung naik. Infeksi kronis menguras gizi, mengganggu penyerapan zat besi, memicu anemia, hingga menurunkan daya tahan tubuh.

Anak yang terus-menerus kecacingan berisiko mengalami stunting gangguan tumbuh kembang yang menurunkan kualitas generasi bangsa.

Data terbaru Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 menunjukkan bahwa angka stunting nasional sudah turun menjadi 19,8 % , setelah sempat berada di angka 21,5 % pada 2023 dan 21,6 % pada tahun 2022.

Penurunan ini tentunya sangat menggembirakan, namun angka tersebut masih mendekati ambang batas WHO (<20>

Penelitian yang lainnya di Surabaya menemukan sekitar 30,4?lita stunting juga terinfeksi cacing tanah (Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura).

Artinya, kecacingan dan stunting saling terkait erat, dan bila dibiarkan, akan menjadi “bom waktu” kesehatan generasi mendatang.

Dari Kasus Lokal ke Pelajaran Nasional

Mengapa kasus ini penting untuk dibicarakan secara nasional? Karena ia mencerminkan apa yang sebenarnya masih terjadi di banyak desa di Indonesia.

Desa Sungai Petai hanyalah satu contoh dari ribuan kasus yang mungkin belum munvul dipermukaan.

Penelitian di Sumatera Utara juga menunjukkan prevalensi infeksi cacing pada anak sekolah dasar mencapai 57,2 % . Variasi data dari berbagai provinsi memperlihatkan prevalensi kecacingan bisa berkisar 2,5 % hingga 60 % , tergantung kondisi sanitasi dan kebersihan lingkungan.

WHO mencatat bahwa pada tahun 2023 ada lebih dari 451 juta anak di dunia yang membutuhkan obat cacing, tetapi baru 51,5 % yang mendapatkannya.

UNICEF menegaskan bahwa infeksi cacing tanah berulang bukan hanya masalah kesehatan, tapi juga berimplikasi pada pendidikan karena anak mudah lemas, kurang konsentrasi, dan akhirnya tertinggal di sekolah.

Kasus kecacingan berat di Bengkulu adalah alarm yang seharusnya membangunkan kita semua bahwa pemerintah, tenaga kesehatan, masyarakat, hingga media.

Kita tidak boleh lagi menganggap kecacingan sebagai “penyakit kampung” yang tidak relevan dengan masyarakat kota.

Solusi yang Perlu Dikerjakan Bersama

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved