Opini
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Momentum Meneladani Akhlaknya
Di tengah hiruk-pikuk saat ini, marilah kita kembali merujuk pada teladan terbaik umat manusia, Nabi Muhammad SAW pemilik lisan yang mulia.
“SUNGGUH telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan banyak mengingat Allah” (Q.S. Al-Ahzab 33:21).
Ayat ini bukan sekadar pernyataan teologis, melainkan undangan eksistensial bagi setiap muslim untuk menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai pusat orientasi moral, sosial, dan spiritual.
Dalam konteks kekinian, keteladanan Nabi bukan hanya relevan, tetapi menjadi semakin urgen, terutama dalam ranah kepemimpinan publik.
Setiap tahun, umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk cinta, syukur, dan penghormatan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW.
Namun, peringatan ini bukan sekadar ritual seremonial yang diwarnai dengan bacaan shalawat, ceramah, Lebih dari itu, Maulid Nabi harus menjadi momentum spiritual dan moral bagi seluruh umat, terutama para pemimpin dan pejabat publik, untuk kembali merenung dan meneladani ajaran serta akhlak Nabi yang mulia-terutama dalam tutur kata dan cara berbicara yang penuh hikmah, adab, dan kebijaksanaan.
Di tengah situasi sosial-politik saat ini, kita sering menyaksikan gejolak yang muncul bukan karena kebijakan besar, melainkan karena salah ucap seorang pejabat.
Kata-kata yang keluar dari mulut mereka, terkadang tanpa pertimbangan matang, menimbulkan keresahan, kekecewaan, bahkan perpecahan di tengah masyarakat.
Sebuah pernyataan yang tidak terkendali bisa memicu aksi protes, memperuncing polarisasi, dan merusak kepercayaan publik.
Ironisnya, dalam era digital, sebuah kalimat yang keliru bisa menyebar lebih cepat dari pada penjelasan atau klarifikasi yang disampaikan kemudian.
Dalam tradisi Islam, ucapan bukan sekadar bunyi, tetapi merupakan cermin jiwa. Sebagaimana sabda Nabi: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari sini, kita belajar bahwa lisan adalah amanah. Setiap kata yang diucapkan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Betapa besar tanggung jawab yang dibebankan pada lisan, apalagi jika yang berbicara adalah pemimpin publik yang punya pengaruh luas.
Rasulullah SAW bukan hanya pembawa risalah, tetapi juga sosok yang sempurna dalam akhlak dan kepribadiannya.
Beliau dikenal dengan empat sifat utama yang menjadi fondasi kepemimpinannya: Shiddiq (jujur), Amanah (dipercaya), Tabligh (menyampaikan), dan Fathonah (cerdas). Empat sifat ini menjadi tolok ukur ideal bagi siapa pun yang memegang amanah kepemimpinan, terutama di ruang publik.
Lisan seorang pemimpin harus mencerminkan kejujuran, kepercayaan, kejelasan pesan, dan kecerdasan berpikir.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk."
Ayat ini menegaskan bahwa ajakan, komunikasi, bahkan perdebatan harus dilakukan dengan al-hikmah (kebijaksanaan), al-mau’izhah al-hasanah (nasihat yang baik), dan bil-lati hiya ahsan (dengan cara yang terbaik). Bukan dengan cercaan, ejekan, atau retorika yang memecah belah. Ini adalah prinsip dasar komunikasi dalam Islam: mengedepankan kebaikan, bukan kekerasan verbal.
Begitu pula dalam Surah Ali ‘Imran ayat 159, Allah SWT berfirman:
"Maka disebabkan rahmat dari Allah, engkau (Muhammad) bersikap lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan musyawarahlah dengan mereka dalam urusan (kepemimpinan). Maka apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Dr-Supadmi-Kohar.jpg)