Opini

AI dan Krisis Berpikir Manusia

Penggunaan ChatGPT untuk menulis bisa menurunkan kemampuan berpikir seseorang.

Tayang:
Istimewa
Apt. Endang Rahayu (Pembina Parenting Yayasan Al-Ihsan Sungsang) 

Adapun proses berpikir kritis bisa terjadi jika pengguna bisa mengajukan pertanyaan yang tepat untuk membentuk alur berpikir, merangkum informasi hanya yang dibutuhkan saja, bukan menyerahkan tugas berpikir kepada tools.

Proses berpikir manusia diawali dengan hubungan antarneuron yang saling menyambung ketika seseorang mengalami suatu pengalaman belajar tertentu.

Misalnya, ketika seorang anak baru belajar berjalan, setiap langkah dan jatuhnya di berbagai tempat diikuti dengan sambungan neuron yang makin banyak.

Pengalaman belajar ini yang diwakilkan oleh pengguna kepada ChatGPT sehingga manusia kehilangan momen belajar dan koneksi neuron tidak terjadi.

Dalam konteks kondisi kaum muslimin hari ini, umat Islam mengalami kemunduran berpikir yang amat parah. Bukan hanya tidak mampu berpikir cemerlang, umat tidak bisa berpikir mendalam.

Kedalaman berpikir ini sangat dipengaruhi oleh kepekaan indra, informasi dasar sebelumnya, dan kedalaman memahami fakta.

Penyarahan proses berpikir pada AI membuat manusia malas memikirkan kondisi umat, tidak memiliki empati, dan sangat miskin informasi. Semua pengalaman belajar itu telah diwakili oleh AI semata melalui prompt.

Dalam podcast Diary of a CEO, ahli otak menjelaskan bahwa penggunaan AI yang tidak seharusnya memunculkan perilaku yang cenderung responsif.

Ini menyebabkan manusia cenderung mengambil pilihan yang paling mudah, mudah termakan hoaks, dan tidak memiliki kemampuan problem solving.

Contoh yang diangkat adalah dalam hal tingginya angka obesitas di Amerika karena konsumsi burger.

Meski mayoritas masyarakat memahami bahwa brokoli bisa menurunkan angka obesitas, mayoritas masyarakat Amerika mengonsumsi burger karena alasan-alasan yang sangat sepele.

Menurutnya, hal ini menggambarkan bahwa mengetahui informasi tidak menjamin seseorang mengambil keputusan yang benar sesuai dengan informasi tersebut.

Kekacauan berpikir akan mengantarkan pada perilaku-perilaku manusia yang tidak didasarkan pada proses berpikir yang benar. Hal ini tentu menjadi permasalahan yang besar, mengingat peradaban dibangun dari proses berpikir.

Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menyebutkan dalam kitab Nizhamul Islam bahwa: "Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya."

Maka, memperbaiki kondisi umat sangat berkaitan dengan kemampuan dan kemauan umat dalam berpikir, dan itulah yang akan menjadi bekal umat memilih perilaku yang tepat dalam kehidupannya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved