Opini
Sebaiknya PERGURUN Tinggi Swasta Dapat Melakoni Bisnis Agar Tetap Eksis
PASCAPANDEMI sampai saat ini, jumlah mahasiswa baru pada Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terus mengalami penurunan.
Sekali lagi maaf, hanya mengingatkan bahwa agar bisnis yang dijalankan tersebut tetap eksis dan berkembang “mutlak” harus ada pemisahan antara pengelolaan unit bisnis dengan pengelolaan PTS, jangan sampai ada intervensi dari pimpinan PTS terhadap pengelola unit bisnis yang sudah dipercayakan tersebut.
Kemudian, yang tidak kalah pentingnya adalah “the right man on the right place” mutlak harus diperhatikan, hindari “nepotisme” yang tidak berdasar, hindari “jiwa feodal” yang masih bercokol dalam diri pengelola, hindari “sifat rakus” agar istilah bapak Presiden Prabowo “rakusnomic” tidak bercokol pada diri pengelola atau pengurus.
Upayakan jangan ada rasa “iba” atau “rasa tidak enak” dalam pengelolan unit bisnis yang akan hadir dalam suatu PTS tersebut dan upayakan jangan ada unsur “nepotisme” yang tidak berdasar tersebut. Misalnya, SDM yang sudah pensiun dan atau tidak produktif lagi, oleh pihak PTS dipaksakan untuk ikut mengurusi atau mengelola atau melakoni unit binis, usahakan pengelola atau pihak yang akan melakoni unit bisnis tersebut adalah SDM yang profesional, boleh saja SDM yang sudah tidak aktif atau pensiun, tetapi SDM tersebut masih produktif baik dari sisi pemikiran maupun dari sisi tenaga.
Misalnya SDM yang ada hubungannya dengan pengelola PTS kita paksakan untuk menduduki suatu jabatan strategis pada unit bisnis tersebut, sehingga yang ada unit bisnis justru menjadi beban bukan justru untuk mengurangi beban PTS yang kesulitan dana.
Jiwa Bisnis Harus Menonjol!
Bagi pengelola unit bisnis pada PTS, adalah SDM yang benar-benar memiliki jiwa bisnis agar dalam menjalankan bisnis mereka dapat menerapkan prinsip-prinsip dan strategi-strategi bisnis serta pandai membaca dan mengestimasi pasar.
Setidaknya, pengelola unit bisnis harus berupaya untuk menciptakan mereka yang sekaligus akan menjadi brand yang melekat pada unit bisnis pada PTS yang sedang dilakoni tersebut.
Misalnya, di Pulau Jawa ada salah satu PTS yang mengembangkan diri dengan membuka unit bisnis POM Bensin, yang sudah memiliki brand, sehingga terkenal dan brand terebut bukan hanya populer di kalangan masyarakat dan mahasiswa selaku konsumen sekitar lokasi PTS tersebut, tetapi populer juga di kalangan konsumen di kota itu.
Kemudian, pengelola pun harus melakukan berbagai strategi bisnis, strategi pemasaran dan atau strategi promosi bak strategi bisnis yang dijalankan oleh pelaku bisnis yang sudah memiliki brand, skala besar, mapan dan sudah eksis di pasar.
Strategi bisnis ini penting, karena pihak PTS yang membuka unit bisnis tersebut harus menghadapi pesaing mereka yang sudah memeiliki brand, skala besar, mapan dan eksis tersebut. Pengelola unit bisnis yang dimiliki PTS tersebut harus mempunyai khas dan keunikan sendiri.
Misalnya salah satu unit bisnis yang dimiliki PTS milik persyarikatan Muhammadiyah di Yogyakarta, unit bisnis ritelnya menjual “beras organik” yang dikemas dengan cara divakum dengan ukuran satu kilogram.
Sehingga, para akademisi, pegawai/karyawan/dosen/mahasiswa/konsumen umum yang akan membeli beras tersebut sangat praktis, membeli beras 5 kg hanya cukup disediakan 5 kantong beras yang sudah di vakum, tinggal memasukkan dalam kontong/wadah saja.
Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah pengelola dan pihak PTS yang membuka unit bisnis tersebut, harus terus memantau perkembangan bisnis di luar sana yang terus melakukan inovasi, ekspansi dan terobosan-terobosan lain, agar unit bisnis yang dijalankan senantiasa langgeng dan tetap eksis, sehingga momok turunnya jumlah mahasiwa baru bagi PTS sudah tidak lagi menghantui. Semoga!!!!!!! (*)
| Meningkatkan Keakuratan Hasil Sensus Ekonomi 2026 Melalui Ground Check |
|
|---|
| Sleep Training dan Bayi yang tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan |
|
|---|
| Serba Serbi Kitab Undang Undang Hukum Pidana Baru |
|
|---|
| Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan, Alarm Darurat Degradasi Moralitas Generasi |
|
|---|
| Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/amidi1-amidi.jpg)