Mimbar Jumat
Mengingat Allah Itu Bukan Sekadar Menyebut
MENGINGAT Allah atau dzikir merupakan salah satu amalan paling utama dalam Islam yang memiliki tempat istimewa dalam kehidupan seorang mukmin.
Dalam konteks mindfulness modern, konsep ini sangat sejalan dengan dzikir sufistik yang tekanan kesadaran hati dan “hadir” sepenuhnya saat berdzikir. Dengan demikian, mengingat Allah bukan sekedar menyebut, melainkan aktivitas penuh kesadaran yang berkontribusi pada kesehatan mental dan spiritual.
4. Argumentasi Integratif antara Sufistik dan Saintifik
Integrasi antara sufistik dan saintifik menawarkan pemahaman holistik bahwa dzikir adalah sebuah proses interaksi antara jiwa, hati, dan otak. Dzikir bukan hanya aktivitas verbal, namun pengalaman sadar yang melibatkan otak dan qalb.
Menurut Seyyed Hossein Nasr, seorang cendekiawan Islam kontemporer, “Spiritualitas Islam yang hakiki adalah dzikir qalb yang memampukan seseorang menghidupkan kesadaran akan Allah secara nyata dalam setiap detik kehidupannya” (Nasr, Islamic Spirituality, 2006, hlm. 43).
Di sisi lain, Richard Davidson, seorang profesor psikologi di University of Wisconsin, menyatakan bahwa praktik meditasi religius, termasuk dzikir Islam, “menghasilkan perubahan otak yang nyata dalam pola aktivitas yang meningkatkan ketenangan batin dan perhatian” (Davidson & Goleman, Altered Traits, 2017, hlm. 89).
Dengan demikian, dzikir dengan penghayatan penuh tidak hanya merupakan pengalaman spiritual yang mendalam, tetapi juga aktivitas neurologi yang nyata.
Dzikir yang benar adalah kesatuan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern, yang membuktikan mengingat bahwa Allah tidak bisa hanya sekedar menyebut secara lisan.
5. Implikasi Praktis dan Kesimpulan
Pemahaman ini mengandung makna penting dalam praktik dzikir sehari-hari. Umat Islam perlu menyadari bahwa dzikir yang efektif adalah yang melibatkan hati dan kesadaran penuh, bukan sekedar rutinitas mengucap kalimat dzikir secara otomatis.
Dzikir yang hanya ritualistik tanpa penghayatan dapat kehilangan makna dan manfaat spiritualnya. Oleh karena itu, perlunya pelatihan dan pendidikan agar dzikir dipraktikkan sebagai pengalaman batin yang hidup, menyucikan qalb dan menumbuhkan kesadaran Ilahi.
Kesimpulannya, mengingat Allah bukan sekadar menyebut nama-Nya. Dzikir yang hakiki adalah penghayatan yang mendalam, suatu kesadaran penuh yang melibatkan hati, jiwa, dan pikiran secara terpadu. Perspektif sufistik dan saintifik saling menguatkan bahwa dzikir adalah proses menyadarkan diri akan kehadiran Allah dalam setiap nafas, menjadikan dzikir sebuah pengalaman spiritual dan saraf yang membentuk keseimbangan jiwa dan raga. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Otoman-Dosen-UIN-RF-Palembang.jpg)