Opini
PLTN, Solusi Krisis Energi dan Pemanasan Global
KRISIS energi yang melanda negara-negara di Eropa, Asia, dan bahkan Amerika dianggap menjadi bukti bahwa energi baru dan terbarukan
Sementara itu, hampir 40 persen kebutuhan listrik Belgia berasal dari energi nuklir atau PLTN. Menurut Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dengan persentase sebesar itu, Belgia menjadi negara tertinggi keenam di Uni Eropa yang bergantung pada energi nuklir.
Dengan banyak negara Uni Eropa tertinggal dalam target emisi karbon, nuklir dipandang sebagai jalan keluar sementara sampai mereka bergerak menuju energi terbarukan.
Namun dilain pihak, hingga kini sebagian negara-negara kurang melirik energi nuklir.
Salah satu penyebabnya adalah efek bahaya yang ditimbulkannya. Umat manusia paham betul betapa besar potensi bahaya yang terkandung dalam teknologi nuklir.
Satu kesalahan kecil dapat membuat reaktor nuklir mengalami panas berlebihan dan meledak. Radiasi mematikan akan menyebar jauh kemana-mana.
Bencana Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chernobyl pada 26 April 1986 melekat diingatan masyarakat internasional. Area sekitar pembangkit yang sekarang berada di wilayah negara Ukraina itu dilaporakan masih memiliki potensi radioaktif.
Pembangunan PLTN Chernobyl merupakan proyek ambisius Uni Soviet di bidang nuklir. Reaktor nuklir ini dibangun tahun 1977. Alih-alih mencapai kedaulatan energi, proyek ini menajadi bencana yang memicu keruntuhan negara itu.
Saat terjadi ledakan telah memicu partikel radioaktif 400 kali lebih banyak dibandingkan dengan nuklir pada bom atom Hiroshima.
Kontaminasi diperkirakan menyebar hingga radius lebih dari 100.000 km persegi dari Uni Soviet hingga Eropa Barat. Laporan tahun 2005 dari Forum Chernobyl PBB memperkirakan 50 orang tewas dalam beberapa bulan setelah kecelakaan itu dan 9.000 orang lain yang terpapar radiasi meninggal akibat kanker. Pada 1995, Pemerintah Ukraina menyatakan 125.000 orang meninggal akibat efek radiasi Chernobyl.
Di beberapa negara Eropa penggunaan PLTN mulai menurun sejak 2004. Lituania, misalnya, telah menutup fasilitas nuklirnya pada 2009. Penurunan terbesar terjadi di Jerman, Swedia, dan Belgia.
Jerman, negara ekonomi terbesar dan pemain politik yang kuat di Uni Eropa, akan menutup PLTN terakhirnya pada tahun 2022. Belgia sedang bersiap menutup reaktor nuklirnya pada tahun 2025.
Namun, konflik Rusia-Ukraina memaksa negara-negara Uni Eropa bersiap memutar balik kebijakan energi mereka. Embargo energi Rusia akan memaksa Uni Eropa menghidupkan dan memperpanjang lagi usia operasional reaktor nuklirnya.
Christophe Collignon, Walikkota Huy, Belgia timur, wilayah yang bergantung pada PLTN Tihange, mengatakan, warganya mendukung perpanjangan operasi PLTN itu hingga 2035 untuk menjamin keamanan energi (Kompas, 6/5/2022).
Energi terbarukan yang lebih hijau belum menjadi andalan di seluruh Eropa. Belgia, misalnya, baru bisa memproduksi energi terbarukan secara penuh pada tahun 2050.
Di negara kita, perencanaan pembangunan PLTN sebetulnya telah digaungkan sejak 1970-an, yang mana penelitiannya berpusat di Kawasan Nuklir Serpong di Tangerang Selatan.
Kawasan Nuklir Serpong adalah kawasan pusat penelitian, pengembangan dan perekayasaan ilmu pengetahuan nuklir yang dibangun untuk tujuan mendukung usaha pengembangan industri nuklir dan persiapan pembangunan serta pengoperasian PLTN di Indonesia.
Jurang Kesenjangan ala Wakil Rakyat |
![]() |
---|
Pengangguran Terdidik di Sumsel: Kesenjangan Kompetensi dan Kebutuhan Sektor Ekonomi |
![]() |
---|
Apakah Lebih Tepat Bung Hatta Disebut Bapak Ekonomi Kerakyatan, Bukan Lagi Bapak Koperasi ? |
![]() |
---|
Apakah Lebih Tepat Bung Hatta Disebut Bapak Ekonomi Kerakyatan, Bukan Lagi Bapak Koperasi ? |
![]() |
---|
Menilik Kualitas Kesehatan Penduduk Kota Palembang |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.