Opini

Tantangan Literasi Keuangan Syariah Di Era Digital

Digitalisasi membuat layanan keuangan syariah semakin mudah diakses oleh masyarakat.

Editor: Yandi Triansyah
Dokumen Pribadi
Mudzakir Ilyas, M.E.Sy, Dosen Program Studi Ekonomi Syariah STEI Al-Furqon Prabumulih ǀ Mahasiswa Program Doktoral Ekonomi Syariah UIN Raden Intan Lampung 

Penulis : Mudzakir Ilyas, M.E.Sy,

Dosen Program Studi Ekonomi Syariah STEI Al-Furqon Prabumulih ǀ Mahasiswa Program Doktoral Ekonomi Syariah UIN Raden Intan Lampung

SRIPOKU.COM - Digitalisasi membuat layanan keuangan syariah semakin mudah diakses oleh masyarakat. Kini, membuka rekening, mengajukan pembiayaan, membayar zakat, hingga berinvestasi sukuk dapat dilakukan hanya dengan ponsel. Namun kemudahan ini belum selalu diiringi pemahaman yang memadai tentang akad, risiko, biaya, dan hak serta kewajiban.

Banyak orang memilih produk karena melihat label syariah, bukan karena benar-benar memahami cara kerjanya. Akibatnya, keputusan yang diambil kadang keliru dan menimbulkan masalah di kemudian hari.

Agar manfaatnya optimal, empat tantangan utama literasi keuangan syariah di era digital perlu dijelaskan secara sederhana beserta langkah perbaikannya.

Tantangan pertama adalah kerumitan akad yang harus disampaikan dalam tampilan aplikasi yang serba singkat. Setiap akad memiliki logika yang berbeda, seperti sumber keuntungan, pembagian risiko, dan konsekuensi jika terjadi keterlambatan atau gagal bayar.

Dalam praktiknya, informasi ini sering dipadatkan menjadi beberapa baris, sehingga pengguna mudah salah paham. 

Contohnya, masih banyak yang menyamakan margin dengan bunga, mengira bagi hasil selalu tetap atau tidak mengetahui adanya biaya tertentu yang timbul dalam kondisi khusus.

Kesalahpahaman seperti ini bukan hanya menurunkan kualitas keputusan, tetapi juga dapat memicu sengketa antara penyedia layanan dan pengguna. 

Jalan keluarnya adalah menghadirkan penjelasan inti akad tepat sebelum persetujuan, dengan bahasa sederhana, contoh singkat dan simulasi arus kas.

Pengguna perlu melihat bagaimana cicilan, denda, atau skema bagi hasil bekerja dalam situasi yang mungkin dihadapi, sehingga keputusan benar-benar diambil dengan sadar.

Tantangan kedua adalah banjir informasi dan kabar menyesatkan di media sosial. Di satu sisi, banyak bahan belajar yang bermanfaat seperti infografik akad, video pendek dan tanya jawab ringan.

Di sisi lain, tidak sedikit konten yang menipu, misalnya janji keuntungan besar tanpa risiko atau klaim halal tanpa penjelasan struktur produk. 

Algoritma media sosial cenderung menonjolkan konten yang ramai, bukan yang paling akurat. Ketika literasi dasar masih lemah, orang mudah mengikuti pendapat figur populer atau lingkungan sebayanya, bukan informasi resmi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk mengatasi hal ini, perlu dibangun kebiasaan memeriksa klaim, mulai dari melihat sumber, membandingkan dengan dokumen produk yang sah, hingga mencari penjelasan dari pihak yang berwenang.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved