Mimbar Jumat
Perundungan dan Tradisi Pendidikan Islam
Terlepas dari simpang siur penyebab kematian santri tersebut, sebuah kenyataan bahwa adanya pola pendidikan yang mengedepankan unsur kekerasan fisik
Kejadian perundungan yang terjadi di pesantren ini tentu saja menggambarkan potret kualitas pengelola dan santri yang tidak mumpuni dari sisi moral.
Kemunculan pesantren dalam tradisi pendidikan Islam di Indonesia, awalnya dihajatkan untuk melahirkan para kader ulama dan penyiar ajaran Islam.
Pesantren menjadi wadah untuk tafaquh fi al-ddin yakni menguasai dan memahami ajaran agama Islam.
Para santri di pesantren sejatinya adalah para kader ulama yang memiliki potensi akademik dan moral yang baik. Pada saat ini, orientasi seperti itu sudah bergeser.
Orang tua seringkali menyerahkan anak-anaknya yang nakal untuk dididik di pesantren.
Jika dulu, anak-anak yang bermasalah sukses dididik di pesantren karena sentuhan tangan dingin para kiyai.
Namun kini, anak-anak bermasalah di keluarga tersebut justru dididik oleh tangan panas pengelola dan para santri senior.
Selain itu, konsep barokah (keberkatan) yang dulu sangat kuat melekat pada tradisi pesantren, sekarang sudah dikalahkan oleh motivasi bisnis pendidikan para pengelola pondok.
Fenomena inilah yang tanpa disadari telah menjadikan pesantren sebagai institusi pendidikan sekular, di mana aspek nilai-nilai moralitas Islam yang penting telah pupus dan digantikan oleh motivasi materialisme berorientasi dunia kerja.
Motivasi dunia kerja dan orientasi pendidikan pesantren untuk memberikan kecakapan hidup (life skill) kepada santri melalui kurikulum dan program pen-didikan pesantren tidak seluruhnya salah.
Namun yang memprihatinkan adalah semakin lemahnya orientasi moral religius yang dikembangkan pesantren dengan pola-pola manajemen pendidikan modern.
Padahal ruh pendidikan di pesantren adalah penguatan aspek moralitas.
Penguatan moralitas di pesantren sejak awal melekat pada sosok kiyai dan para pengasuh yang selalu menunjukkan perilaku mulia dan adab kepada para santri.
Suasana takzim dan sangat memuliakan kiyai menjadi proses timbal balik untuk membangun karakter baik di kalangan pesantren.
Harus diakui bahwa masih banyak pesantren di Indonesia yang masih mengacu pada paradigma dan tradisi moral pendidikan Islam secara konsisten.
Namun trend modernisasi pesantren yang selama ini digaungkan justru memberikan dampak pengiring yang tidak selalu baik.
Karena itu, menjadi sangat penting bagi kalangan pesantren dan institusi pendidikan Islam lainnya untuk menjaga tradisi moralitas dalam pengelolaannya.
Konsep mengenai keberkahan, keluhuran budi, takzim pada guru, penghormatan terhadap peserta didik.
Seterusnya harus terus dipertahankan dan tidak boleh digantikan oleh ideologi pendidikan lain karena hal itu menjadi distingsi dan karakter dasar dari penge-lolaan pesantren.
Materialisme dan kapitalisme pendidikan secara diam-diam telah merasuki model pengelolaan pesantren.
Nampaknya tradisi pendidikan pesantren di Indonesia sedang mengalami perubahan sebagai dampak globalisasi dan modernisasi pendidikan.
Pesantren Indonesia perlu melakukan reorientasi dan revitalisasi peran pendidikannya.
Pesantren masa depan harus tetap memegang teguh tradisi moral spiritual Islam yang kuat berbasis pengajaran literatur primer keislaman, tanpa mengabaikan perkembangan teknologi modern.
Penerapan teori dan konsep pendidikan modern disertai penguatan manajemen pesantren dengan implementasi model pembinaan berbasis nilai-nilai pendidikan humanisme adalah salah satu solusi dari kegagalan pesantren dalam membentuk santri yang mumpuni secara lahir batin. Wallahu a’lam bi al-shawwab.
(Dr. Abdurrahmansyah MAg / Dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/abdurrahmansyah1-abdurrahmansyah.jpg)